Modest Style

Lebih dari 700 juta wanita di seluruh dunia mengalami kekerasan

,
Lebih dari dua dari lima wanita di Asia Selatan dan Afrika telah alami kekerasan dalam rumah tangga. AFP Photo
Lebih dari dua dari lima wanita di Asia Selatan dan Afrika telah alami kekerasan dalam rumah tangga. AFP Photo

WASHINGTON, 14 Mei 2014 (AFP) – Lebih dari 700 juta wanita di seluruh dunia rawan kekerasan fisik dan seksual dari suami atau pasangannya, banyak di antaranya yang memiliki sangat sedikit akses terhadap perlindungan, ujar Bank Dunia kemarin.

Masalah terberat terjadi di Asia Selatan dan Afrika, di mana lebih dari dua dari lima wanita telah mengalami kekerasan oleh pasangan, ujar Bank Dunia lagi.

Dalam laporan baru yang mengejutkan, “Voice and Agency”, Bank Dunia mengatakan kekerasan dan kerugian serta perampasan sistematis lain yang dialami oleh wanita merupakan faktor penting dalam membatasi pencapaian mereka dan membuat ratusan juta orang tertahan dalam kemiskinan.

Laporan tersebut menyatakan bahwa memberdayakan wanita dan menghilangkan batasan sosial dan hukum menuju kemajuan mereka akan menguntungkan lebih banyak kelompok masyarakat.

“Menangani perampasan dan keterkungkungan ini penting dalam upaya mengakhiri kemiskinan dahsyat dan meningkatkan kekayaan bersama,” katanya. “Partisipasi penuh dan setara juga mengharuskan semua orang memiliki suara – yang berarti kapasitas untuk berbicara dan didengar, dari rumah hingga majelis permusyarawatan, dan untuk membentuk dan berbagi dalam berbagai diskusi, diskursus, keputusan yang berdampak pada mereka.”

Laporan tersebut menggambarkan beragam cara wanita di dunia dihalangi dari mendapatkan “agensi” – kemampuan untuk bangkit dari keadaan mereka dengan usaha mereka sendiri.

Kekerasan dalam rumah tangga terhadap wanita yang tersebar luas hanyalah satu masalah perampasan. Wanita juga lebih sulit memiliki tanah; di beberapa negara wanita tidak dapat bergerak tanpa izin; wanita “sangat” kurang terwakilkan dalam posisi kekuasaan formal di sekeliling dunia.

Dampak kehamilan remaja, jenis lain pembatasan agensi, sangat dalam, ujar laporan tersebut. Satu dari lima wanita di negara berkembang mengalami kehamilan sebelum usia 18. Diukur berdasarkan hilangnya pemasukan, fenomena ini menghilangkan hingga satu persen produk domestik kotor tahunan di Tiongkok hingga sebanyak 30 persen di Uganda.

Kekerasan atas dasar jender dapat menghabiskan biaya 1,2 persen hingga 3,7 persen PDK, ujar laporan tersebut.

Laporan tersesbut menunjukkan peningkatan dalam bidang pendidikan sebagai bukti bahwa norma sosial dapat berubah di bawah tekanan dan dorongan, dan bahwa agensi dapat memperbaiki hidup. Secara global, laporan tersebut mencatat, kesenjangan antara sekolah untuk lelaki dan perempuan telah mengecil hinggal tiga persentase poin – 69 persen anak perempuan terdaftar di sekolah lanjutan berbanding dengan 72 persen anak lelaki.

Di Bangladesh, laporan tersebut mencatat, “peningkatan nilai yang diletakkan pada wanita sebagai penghasil ekonomi menjelaskan mengapa orangtua kini mendidik puteri mereka sebaik putera mereka”.

“Memperbesar suara wanita dan meningkatkan agensi mereka dapat berdampak pada deviden perkembangan yang luas bagi mereka dan keluarga, komunitas, dan masyarakat mereka.”

Leave a Reply
<Modest Style