Modest Style

Lebih dari 1 juta pengungsi Suriah berada di Libanon

,
Para keluarga Suriah mengantri pendaftaran oleh Komisi Tinggi Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). AFP Photo / STR
Para keluarga Suriah mengantri pendaftaran oleh Komisi Tinggi Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). AFP Photo / STR

Oleh Karim Abou Merhi

TRIPOLI, 3 April 2014 (AFP) – Lebih dari satu juta warga yang melarikan diri dari perang di Suriah telah terdaftar sebagai pengungsi di Libanon, ungkap PBB kemarin, dengan banyak orang hidup dalam kesengsaraan di sebuah negara yang dipenuhi krisis.

Dan angka tersebut terus membengkak setiap harinya, badan pengungsi PBB (UNHCR) menyatakan bahwa mereka mendaftarkan 2.500 pengungsi baru setiap harinya – lebih dari satu setiap menit.

Di sebuah titik pendaftaran padat di Tripoli, kota kedua Libanon, ratusan pengungsi terlihat mengantri untuk pendaftaran kemarin.

Yehia, pengungsi berusia 18 tahun dari Homs, dikenal sebagai pengungsi kesejuta yang akan didaftarkan. Kepada AFP ia mengatakan bahwa ia tinggal di sebuah garasi di Dinniyeh, dekat Tripoli, dengan ibu dan dua orang saudarinya. Ayahnya, seorang tukang kayu, dibunuh oleh seorang penembak jitu pada 2011, enam bulan setelah pecahnya revolusi melawan Presiden Bashar al-Assad.

“Ini merupakan sebuah bencana,” ujar Yehia. “Ibu saya menjual seluruh emasnya agar kami dapat membayar uang sewa Rp 2,8 juta perbulan. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami nantinya.”

Harapan utamanya adalah kembali bersekolah untuk menyelesaikan pendidikan yang terganggu karena perang.

“Adanya satu juta warga Suriah sebelum saya yang kelaparan, bahkan sekarat di sini, sangat menyakitkan,” ujar Yehia dengan sedih.

UNHCR menyebutkan bahwa jumlah pengungsi Suriah, setengahnya anak-anak, kini mencapai seperempat populasi penduduk Libanon. Pihak UNHCR sekaligus memperingatkan bahwa sebagian besar pengungsi hidup dalam kemiskinan dan bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.

Perwakilan UNHCR Ninetter Kelly menyatakan angka satu juta sebagai “penanda yang meluluhkan”. “Setiap angka ini mewakili kehidupan manusia yang, seperti kita, memiliki kehidupan masing-masing, namun telah kehilangan rumah mereka, kehilangan anggota keluarga mereka, kehilangan masa depan mereka,” ia mengungkapkan pada para wartawan.

Kelly menyatakan Libanon telah menjadi negara dengan konsentrasi pengungsi tertinggi per kapita di dunia.

Libanon “benar-benar terguncang karena masalah ini. Layanan sosialnya tertekan, kesehatan, pendidikan, prasarananya yang rapuh juga goyah karena tekanan ini”. Krisis besar ini diperparah oleh luapan kekerasan yang telah memporak-porandakan Suriah tiga tahun belakangan ini, dengan Libanon terkena imbas serangan bom rutin dan bentrokan di tengah pergumulan negara tersebut dengan kebuntuan politis dan kelesuan ekonomi.

Di dalam sebuah pernyataan, kepala UNHCR Antonio Guterres mendesak peningkatan tindakan internasional untuk membantu Libanon menghadapi krisis “besar” dan “mengguncang” ini.

Menteri Sosial Rachid Derbas turut memohon bantuan, dengan mengatakan bahwa Libanon “tidak dapat memikul masalah ini sendiri”.

Kesulitan sangat terasa di sektor publik, dengan layanan kesehatan dan pendidikan, juga listrik, air, dan sanitasi yang terkena dampaknya.

Bantuan kemanusiaan untuk Libanon “hanya didanai sebesar 14 persen,” bahkan dengan semakin besarnya kebutuhan populasi pengungsi yang meningkat pesat, ujar Kelly. Sejumlah besar pengungsi anak tidak mendapat kesempatan bersekolah.

“Angka anak usia sekolah sekarang lebih dari 400.000, melebihi angka anak Libanon di sekolah negeri. Sekolah-sekolah ini telah membuka pintu kepada lebih dari 100.000 pengungsi, namun kemampuan untuk menerima lebih dari itu sangatlah terbatas,” ungkap UNHCR.

Kondisi perekonomian keluarga yang buruk menyebabkan banyak anak kini bekerja, “anak-anak perempuan dapat dinikahkan di usia muda, dan prospek masa depan yang lebih baik menyusut seiring lamanya mereka putus sekolah,” lanjut pernyataan tersebut.

Walid, pengungsi berusia 22 tahun yang menyemir sepatu untuk mencari penghasilam di Tripoli, mengatakan: “Situasi kami sangat menyedihkan, dan kami para pengungsi benar-benar sekadar menyambung hidup.”

Tidak seperti Turki dan Yordania, yang juga menampung ratusan ribu pengungsi Suriah, Libanon belum mendirikan kamp resmi. Alaa Ajam, pemilik sebuah kios pertukaran uang di Tripoli, mengatakan: “Tentu saja (krisis pengungsi ini) merupakan sebuah beban. Kami bersimpati terhadap para warga Suriah, namun seperti negara lain kami seharusnya memiliki kamp.”

Puluhan ribu keluarga hidup di tempat tinggal tidak resmi yang membayahakan kesehatan yang tersebar di seluruh pelosok negeri, banyak di antaranya yang berada di perbatasan Suriah yang bergejolak. Menurut Pengamat Hak Azasi Manusia Suriah, konflik ini telah menewaskan lebih dari 150.000 orang, dengan setengah populasi diperkirakan telah meninggalkan kampung halaman mereka.

Leave a Reply
<Modest Style