Modest Style

Laura Schuurmans: Dunia Barat minim pemahaman

,
Penulis dan akademisi ini berbincang dengan Najwa Abdullah tentang melawan kesalahpahaman terhadap Islam di dunia Barat dan pentingnya pemahaman yang lebih baik.
Penulis dan akademisi ini berbincang dengan Najwa Abdullah tentang melawan kesalahpahaman terhadap Islam di dunia Barat dan pentingnya pemahaman yang lebih baik.

Setelah membaca pemikirannya tentang mengubah persepsi tentang Islam di dunia Barat[i] dan riset mendalamnya tentang sengketa internasional, saya tertarik pada Laura Schuurmans. Saya berkesempatan berbincang dengannya di acara ASEAN Literary Festival 2014 baru-baru ini di Jakarta, di mana ia bertindak sebagai moderator dalam sebuah diskusi tentang etnisitas, agama dan sastra.

Lahir dan tumbuh di Belanda, penulis dan analis riset ini telah tinggal di Jakarta sejak 1996. Ia meneliti dan menganalisis masalah politis dan antarbudaya – dengan spesialisasi dalam sengketa Kashmir, Afghanistan, Tiongkok, dan Iran – dan secara rutin berpartisipasi dalam konferensi internasional di Eropa dan Asia[ii]. Ia juga seorang penulis lepas di koran berbahasa Inggris kenamaan Indonesia, The Jakarta Post dan The Jakarta Globe.

Sebagai seorang akademisi dan penulis dalam bidang agama dan geopolitik, Laura menerangkan bahwa ketertarikannya pada bidang-bidang tersebut telah muncul sejak kepindahannya ke Indonesia, membuka matanya pada kesalahpahaman tentang Islam di dunia Barat.

“Minimnya pemahaman dunia Barat terhadap Islamlah yang menyebabkan kejadian ini dan hal ini menyedihkan karena beberapa orang menggunakan agama sebagai alat untuk menciptakan kebencian di antara orang lain padahal kenyataannya tidak begitu. Saya yakin kita seharusnya membangun jembatan. Berada di Indonesia, di tengah-tengah budaya Muslim, saya menyadari bahwa apa yang orang Barat katakan tentang Islam tidak benar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa di dunia Barat, Islam dikaitkan dengan sejumlah masalah negatif sebagai hasil dari kurangnya pemahaman, yang memunculkan kritik. Islam, dalam kesadaran Barat, diwakili oleh negara-negara dengan kepentingan geopolitik: Arab Saudi, Irak, Iran, Afghanistan, Pakistan, India, dan Kashmir. Pemahaman ini seringkali dibumbui dengan stereotipe yang bercampur dengan penindasan sosial di negara-negara tersebut. Sebagai contoh, banyak orang Barat menganggap kerudung sebagai bentuk penindasan dan mengingkari kebebasan perempuan, tanpa mengetahui bahwa Islam tidak terbatas pada negara berbahasa Arab dan bahwa mengenakan kerudung merupakan pilihan pribadi.

Laura meyakini bahwa dunia Barat seharusnya mengalihkan perhatiannya pada Indonesia, karena ia menganggap negara ini sebagai contoh terbaik bagaimana demokrasi dan Islam dapat berjalan seiringan. Ia juga meyakini bahwa perempuan Indonesia harus melaksanakan hak beragamanya di seluruh penjuru dunia, untuk mematahkan kesalahpahaman Barat tentang perempuan Muslim.

“Orang harus menyadari bahwa penindasan terhadap perempuan bukanlah hal yang bersifat keagamaan; namun kebudayaan. Penindasan perempuan di Afghanistan dan Arab Saudi, yang tidak dapat keluar rumah maupun mengendarai mobil, berasal dari budaya patriarki. Jika ada sangkut pautnya dengan agama, saya yakin hal tersebut sedang disalahpahami dan dipergunakan untuk memenuhi kepentingan suatu pihak,” ujarnya.

Singkatnya, ia yakin bahwa dunia Barat telah membentuk cara pandang tersendiri tentang Islam dengan memukul rata kejadian tertentu dan tidak menyadari adanya keragaman dalam Islam, yang diwakili oleh umat Muslim di luar negara berbahasa Arab.

“Merupakan kewajiban umat Muslim di bagian dunia lain untuk menunjukkan apa itu Islam,” ujarnya.

Sedangkan dalam upaya meredakan konflik internasional, Laura menganggap dunia Barat telah gagal membawa perdamaian dan demokrasi yang mereka janjikan, sehingga justru menyebabkan lebih banyak konflik. Meski ia memahami bahwa pelaksanaan demokrasi mungkin berbeda di seluruh dunia, demokrasi tidak dapat dipaksakan – orang-orang harus berjuang untuk mendapatkannya. Kedua belah pihak harus memahami kepentingan strategis jangka panjang dalam menggalakkan dialog antaragama dalam perjuangan mendirikan demokrasi – intinya dibutuhkan kesabaran dan pemahaman.

“Meski situasi politik di Kashmir telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun, saya harap politisi Barat tidak menganggap Kashmir sebagai tanah para teroris dan militan. Mereka juga harus menerima kenyataan bahwa Muslim telah mengalami penindasan dan sangat menderita dan juga menginginkan suaranya didengar.”


[i] Laura Schuurmans, ‘Bridging the West and the Muslim world’, The Jakarta Post, 10 Jun 2009, tersedia di sini
[ii] Temukan lebih banyak karya Laura di situs pribadinya

Leave a Reply
<Modest Style