Modest Style

Label Terkemuka Terkait Kebakaran Pabrik Bangladesh

,

 

Dua petugas pemadam kebakaran Bangladesh menyaksikan TKP usai memadamkan kobaran api yang menghanguskan pabrik tekstil di Sripur, Rabu (9/10). Kebakaran besar di pabrik Bangladesh tempat para buruhnya mengerjakan pesanan pakaian untuk label-label seperti Gap dan H&M itu telah menewaskan tujuh orang dalam bencana terakhir yang menimpa industri tekstil di negara tersebut. AFP Photo / STR
Dua petugas pemadam kebakaran Bangladesh menyaksikan TKP usai memadamkan kobaran api yang menghanguskan pabrik tekstil di Sripur, Rabu (9/10). Kebakaran besar di pabrik Bangladesh tempat para buruhnya mengerjakan pesanan pakaian untuk label-label seperti Gap dan H&M itu telah menewaskan tujuh orang dalam bencana terakhir yang menimpa industri tekstil di negara tersebut. AFP Photo / STR

 

SRIPUR, 9 Oktober 2013. Oleh Kamrul Khan (AFP) – Sejumlah label Barat terkemuka termasuk H&M dan supermarket Perancis, Carrefour, mengakui keterkaitan mereka dalam tragedi pabrik terakhir di Bangladesh, Rabu (9/10), setelah dalam semalam kebakaran menewaskan tujuh buruh di pabrik tekstil itu.

Para petugas pemadam kebakaran semalaman berjuang untuk memadamkan kobaran api yang melahap pabrik Aswad Knit Composite di Sripur, pinggiran ibu kota Dhaka, yang terjadi saat sebagian besar dari 3.000 pekerjanya sudah pulang ke rumah.

Para buruh memperkirakan kebakaran berawal dari mesin rajut yang rusak. Sementara itu, kepala pemeriksa Bangladesh mengatakan masalah keselamatan telah dikemukakan bulan lalu.

Menurut polisi, kondisi sebagian besar jenazah yang ditemukan pada Rabu (9/10) setelah api berhasil dipadamkan sudah hangus terbakar sehingga sulit dikenali.

‘Kebakaran terakhir yang memengaruhi sektor garmen siap-pakai di Bangladesh ini mencerminkan kebenaran yang menyedihkan dan mengejutkan bahwa usaha yang telah dilakukan ternyata belum cukup untuk mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan para buruh pabrik tekstil,’ ujar direktur jenderal International Labour Organisation, Guy Ryder, dalam pernyataan resminya.

Koresponden AFP yang mengorek puing-puing yang masih membara menemukan buku pesanan kerja berisikan nama-nama klien untuk bulan September, termasuk label Amerika Serikat Gap, peritel Inggris Next, label fesyen Swedia H&M, jaringan toko swalayan Target dari Australia dan Carrefour dari Perancis.

H&M, Gap, Next dan Carrefour menyatakan pakaian mereka tidak dikerjakan di pabrik Aswad. Akan tetapi, mereka mengaku mengajukan pesanan kepada pemilik pabrik, Palmal Industries, salah satu grup garmen terbesar di Bangladesh.

Tak satu pun dari keempat label di atas mengadakan mengaudit pabrik yang sudah hangus terbakar itu. Pabrik ini rupanya menyuplai kain untuk unit manufaktur garmen lain yang terpisah dari Palmal.

‘Begitu penyebabnya diketahui, seperti biasa Next akan meninjau prosedurnya, termasuk sejauh mana usaha yang diperlukan untuk menelaah rantai suplai—khususnya di wilayah berisiko tinggi seperti Bangladesh,’ demikian bunyi pernyataan dari peritel Inggris tersebut.

Raksasa ritel AS, Walmart, membenarkan bahwa beberapa dari pemasoknya pun mengambil kain dari pabrik tersebut. Meskipun Walmart telah mengadakan pemeriksaan pada pabrik pembuat garmen, menurut mereka pengawasan tersebut tidak meluas ke pabrik yang memproduksi kain untuk pakaian mereka.

‘Mengingat situasi keamanan di Bangladesh yang tidak biasa, kami percaya pemerintah Bangladesh dan industri garmen seharusnya mempertimbangkan apakah perlu dilakukan peningkatan pada program keselamatan pabrik ke level produksi berikutnya,’ ungkap Walmart dalam pernyataannya.

Kebakaran pada pabrik tekstil Tazreen di Dhaka telah menewaskan 111 buruh November lalu—tragedi pabrik paling parah di Bangladesh—dan menyingkap adanya subkontrak pesanan tidak resmi dari sejumlah perusahaan Barat termasuk Walmart.

Kecelakaan industri lazim terjadi di Bangladesh, di mana runtuhnya kompleks pabrik Rana Plaza yang terkenal April lalu telah merenggut nyawa 1.129 orang. Tidak seperti sebelumnya, bencana itu telah membuat dunia menyoroti kondisi industri tekstil di negara tersebut.

Standar keselamatan pada 4.500 pabrik garmen Bangladesh, di mana para buruhnya membanting tulang selama 10-12 jam sehari demi upah minimum $38 (Rp 436 ribu) per bulan, terkenal longgar dan kebakaran menjadi masalah yang sudah dianggap umum.

Pasca tragedi di Rana Plaza, pemerintah telah menjanjikan perbaikan dan 90 label terkemuka, mayoritas dari Eropa, menandatangani perjanjian keselamatan baru yang disusun serikat buruh demi menyediakan pengawasan yang lebih besar terhadap pekerjaan mereka.

Peritel-peritel besar Amerika Serikat, termasuk Walmart, menolak untuk berpartisipasi.

Kepada AFP, kepala pemeriksa pabrik Bangladesh, Bashirur Rahman, mengungkapkan adanya ‘sejumlah masalah keselamatan’ di pabrik Aswad.

‘Tim pemeriksa kami yang memeriksa pabrik itu pada 25 September dan bulan ini telah menyampaikan pemberitahuan kepada pemilik pabrik untuk memperbaiki kondisinya,’ tuturnya, tanpa menjelaskan masalah yang perlu diperbaiki.

Menurut petugas resmi kebakaran, pabrik tersebut mempunyai perlengkapan pemadam kebakaran yang cukup memadai.

Bangladesh memiliki industri pakaian terbesar kedua di dunia, dengan nilai $21.5 miliar  (Rp 247 triliun) per tahun. Industri ini menghasilkan 80% dari total ekspor Bangladesh, yang sebagian besarnya ditujukan ke Eropa dan Amerika Serikat.

Bulan lalu, ribuan buruh garmen melakukan pemogokan, menutup jalan dan menyerang sejumlah pabrik di luar ibu kota untuk menuntut kenaikan upah minimum menjadi $100 (Rp 1,1 juta) per bulan .

‘Cukup jelas bahwa masalah keselamatan telah diabaikan (di pabrik Aswad),’ kata Kalpona Akter, ketua Pusat Solidaritas Buruh Bangladesh, kepada AFP.

‘Kebakaran ini pun menjadi peringatan bagi para peritel Barat yang masih belum melakukan usaha apa pun atas keselamatan jutaan buruh garmen Bangladesh meski telah terjadi serangkaian kebakaran dan bencana di sejumlah gedung dalam beberapa bulan terakhir ini,’ tambah Akter.

Walaupun nama-nama korban kebakaran terakhir ini belum dirilis, pihak keluarga yang telah berkumpul di pabrik sudah bersiap-siap menerima kemungkinan terburuk.

Sumi Akter (22), menduga suaminya, Bulbul Islam, termasuk dalam korban yang meninggal.

‘Dia menghubungi saya lewat telepon tadi malam dan mengatakan akan pulang dalam satu jam. Tetapi setelah kebakaran, saya belum mendengar kabar lagi darinya,’ ujarnya kepada AFP.

Buruh pabrik Mohammad Abu Saan mengungkapkan kebakaran dimulai ketika mesin rajut meledak dan api menyebar ke gudang.

‘Belum lama ini sudah pernah terjadi beberapa kebakaran kecil pada mesin. Tapi kami berhasil memadamkannya. Kali ini apinya terlalu besar,’ katanya.

Leave a Reply
<Modest Style