Modest Style

Korban Selamat Kecelakaan Kapal di Indonesia Pulang ke Lebanon

,
Assaad Assaad (Ka), seorang korban selamat asal Lebanon dari kecelakaan kapal imigran di Indonesia minggu lalu, disambut oleh kerabat saat tiba di kampung halaman tanggal 6 Oktober 2013 di Akkar, sebuah provinsi terpencil dan melarat di utara Lebanon. Ke-18 penumpang selamat, yang kembali ke Lebanon, mengungkapkan kemarahan mereka terhadap negara Lebanon yang dituduh tak mengindahkan kesulitan mereka dengan adanya gelombang kedatangan pengungsi Suriah. Assaad kehilangan istri dan 3 anaknya. FOTO AFP / IBRAHIM CHALHOUB
Assaad Assaad (Ka), seorang korban selamat asal Lebanon dari kecelakaan kapal imigran di Indonesia minggu lalu, disambut oleh kerabat saat tiba di kampung halaman tanggal 6 Oktober 2013 di Akkar, sebuah provinsi terpencil dan melarat di utara Lebanon. Ke-18 penumpang selamat, yang kembali ke Lebanon, mengungkapkan kemarahan mereka terhadap negara Lebanon yang dituduh tak mengindahkan kesulitan mereka dengan adanya gelombang kedatangan pengungsi Suriah. Assaad kehilangan istri dan 3 anaknya. FOTO AFP / IBRAHIM CHALHOUB

KABIIT, 7 Oktober 2013. Oleh Rana MOUSSAOUI (AFP) – Assaad Assaad menjual semua miliknya untuk lari dari kemiskinan di Lebanon, namun kini ia kembali, setelah menyaksikan istri dan ketiga anaknya, juga mimpi untuk kehidupan yang lebih baik, sirna ditelan gelombang lautan.

Pria berusia 36 tahun, yang kini terlihat seperti 50 tahun, adalah salah satu di antara 18 orang Lebanon yang mengalami trauma-perang, yang kembali pada hari Minggu setelah selamat dari kecelakaan kapal di lautan Indonesia yang menewaskan puluhan imigran miskin dari Timur Tengah.

Warga Lebanon penumpang kapal yang mengarah ke Australia yang kebanyakan berangkat dari wilayah Akkar bagian utara, di mana gelombang kedatangan pengungsi dari negara tetangga Suriah telah memperparah kondisi kemiskinan di salah satu area termiskin di Lebanon.

‘Kami sangat ingin pergi, dan kami menggantungkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik, karena tak ada yang tersisa bagi kami di sini,’ Assaad berujar dengan tatapan kosong ke depan, masih terkenang tragedi yang menimpanya.

‘Saya kehilangan segalanya – istri saya, anak-anak saya, rumah saya,’ ujarnya, duduk di rumah sederhana orangtuanya di mana kesenyapan sesekali pecah saat tetangga perlahan memberi ucapan bela sungkawa.

Di Kabiit, sebuah desa yang terletak di bawah pegunungan hijau,  Assaad menghidupi keluarganya dengan uang $13 sehari sebelum akhirnya memutuskan untuk menjual semuanya – rumahnya, mobilnya, tanahnya dan sapinya – untuk membiayai perjalanan migrasi ke Australia, sebuah ‘Surga’ tempat tujuan sesama warga desa tempat ia tinggal.

‘Saya tak ingin menjadi kaya. Saya hanya ingin hidup layak. Di sini kami hidup terhina,’ katanya.

Jaringan kriminal menyambangi wilayah ini memanfaatkan warga Suriah yang melarikan diri dari perang sipil, menawarkan perjalanan imigrasi dengan potongan harga ke Australia lewat Indonesia yang telah mendorong kaum miskin Lebanon untuk ikut mencoba keberuntungan mereka juga.

‘Banyak dari mereka yang pergi memiliki hidup yang baik sekarang. Kami tidak cukup beruntung,’ jelas Assaad, yang telah membayar $70.000 kepada para penyelundup.

Dia memaparkan keadaan saat ia kehilangan segalanya.

‘Terjadi sebuah ledakan. Kapal menjadi hancur. Keadaannya tak bisa digambarkan,’ katanya. ‘Lebih baik saya mati bersama keluarga saya.’

Di antara 80 hingga 120 orang, kebanyakan adalah dari Timur Tengah yang menjadi awak kapal tersebut. Sebanyak 28 jenazah, banyak dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, telah ditemukan namun 22 lainnya masih tak berjejak.

Assaad menginginkan pemerintah Lebanon untuk ‘membuka mata’ atas situasi yang berlangsung di Akkar, di mana warganya dipaksa untuk mengerjakan lahan atau, dalam hal ini,  menebang pohon untuk membuat arang kayu.

Di Kabiit – tiga jam ke arah utara Beirut – jalan-jalan penuh lubang membujur dengan sisi bekas toko-toko yang sudah tutup dan anak-anak mengisi botol plastik dengan air dari keran umum sebelum membawanya kembali ke rumah tanpa adanya sambungan pipa saluran air.

Rumah sakit terdekat berjarak 20 kilometer (12 mil) jauhnya.

Bahkan setelah tragedi di lepas pantai Indonesia, banyak penduduk lokal yang mengatakan masih ingin mencoba keberuntungan mereka bermigrasi mengarungi lautan, karena khawatir jika mereka tetap di sini mereka akan kehilangan penghidupan yang sudah sangat terbatas, diambil alih oleh para pengungsi Suriah.

Fahed Kassem, 36, mengatakan ia berupaya untuk mencukupi kebutuhan dengan $800 sebulan yang ia dapatkan di pabrik metalurgi di Beirut.

‘Kini atasan saya mengatakan bahwa ia akan menerima empat orang Suriah di tempat kerja saya,’ ujarnya. ‘Jika kesempatannya ada, saya juga akan bermigrasi.’

Hussein Khodr memberikan alasan serupa untuk pergi sebelum ia berangkat dengan ‘kapal kematian’ dengan delapan anaknya dan istri yang sedang hamil, semuanya tewas.

‘Ia sangat bersemangat, ia ingin meninggalkan semuanya. Ia berkata “Saya ingin hidup layak atau saya ingin mati”,’ ayahnya, Ahmad berkata.

Lebanon, dengan populasi hanya empat juta penduduk, adalah rumah bagi 770.000 pengungsi, dan selama enam bulan tak memiliki pemerintahan setelah krisis politik yang sebagian disebabkan karena perseteruan-abadi akibat perbedaan dukungan faksi-faksi politik terhadap pihak yang bersengketa di Suriah.

Konflik tersebut melebar ke Lebanon dalam bentuk pertikaian antara kelompok bersenjata, serangan roket dan pengeboman yang telah membangkitkan kekhawatiran akan terulangnya kembali perang sipil.

Afrah Hassan, yang berusia 22 tahun, korban selamat dari kecelakaan kapal, sedang menjalani studi hukum di sebuah universitas di kota sebelah utara Tripoli, di mana pertikaian telah berulang kali terjadi antara pendukung dan penentang Presiden Suriah Bashar al-Assad.

‘Terjadi penembakan setiap waktu, dan kadangkala kami harus berlindung di bawah kursi di ruang kelas,’ jelasnya. ‘Ini sudah keterlaluan. Saya ingin pergi meninggalkan semuanya.’

Ia mengingat kecoak-kecoak yang ada di kapal, lima hari lamanya yang ia lihat hanya langit dan lautan, dan kemudian gelombang setinggi 10 meter (30 kaki) memecah kapal, anak-anak kecil mengapung tanpa nyawa di laut yang bergejolak.

‘Tidak ada kepastian di Lebanon, memang demikian adanya,’ ujarnya. ‘Namun kini saya mengatakan pada diri sendiri, seharusnya saya tidak boleh pergi.’

Leave a Reply
<Modest Style