Modest Style

Korban Perang Bosnia Berang atas Pelepasan ‘Penjahat Perang’

,
-
Seorang anggota “Mothers of Srebrenica” berunjuk rasa di depan Pengadilan HAM Eropa di Strasbourg, Perancis timur, 11 Oktober 2012. AFP Photo/Frederick Florin

SARAJEVO, 4 Desember 2013. Oleh Rusmir Smajilhodzic (AFP) – Dalam upaya untuk memperbaiki kesalahan hukum, ratusan narapidana penjahat perang Bosnia direncanakan akan dilepaskan dan diadili lagi di bawah hukum pidana yang lebih ringan, sehingga membuat berang para korban yang mengatakan mereka takut akan menjadi trauma lagi.

Dua belas penjahat perang telah bebas sejak pertengahan Oktober, enam di antaranya dinyatakan bersalah atas genosida untuk peran mereka dalam pembantaian sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki muslim di Srebrenica, kekejaman terburuk di tanah Eropa sejak Perang Dunia II.

“Ini penuh skandal!” seru Hatidza Mehmedovic, ketua asosiasi Srebrenica Mothers, yang suami dan dua anak-anaknya termasuk di antara mereka yang tewas oleh pasukan Serbia Bosnia di bagian timur kota pada akhir perang Bosnia 1992-95.

“Hina sekali para hakim yang menghadiahi para pelaku genosida dan yang terus menghukum para korban! Kami muak dan kami juga takut karena mereka sudah mulai melepaskan penjagal-penjagal terburuk,” katanya kepada AFP.

Kekecewaan hukum ini muncul setelah Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) yang berbasis di Strasbourg pada bulan Juli memutuskan meringankan hukuman bagi Goran Damjanovic – seorang mantan tentara Serbia Bosnia yang dijatuhi hukuman 11 tahun atas kejahatan perang – yang mengajukan pembelaan bahwa ia telah diadili di bawah hukum pidana yang salah.

Damjanovic mengatakan ia seharusnya diadili di bawah hukum pidana 1976 yang berlaku saat kejahatan dilakukan, bukannya menjadi sasaran undang-undang tahun 2003 yang lebih ketat yang menghukum kejahatan perang dengan hukuman penjara berkisar antara 10 sampai 45 tahun.

Di bawah hukum pidana sebelumnya, vonis berkisar antara lima sampai 15 tahun, atau hukuman mati. Karena Bosnia tidak lagi menerapkan hukuman mati, 15 tahun akan menjadi hukuman maksimal.

Sebagai hasil dari putusan ECHR – yang juga mengabulkan permohonan banding narapidana kejahatan perang lain – majelis kejahatan perang Bosnia kini diwajibkan untuk menggelar sidang ulang dengan menerapkan hukum pidana yang tak seketat sebelumnya, memungkinkan penggunaan prosedur hukum yang dipersingkat. Sepuluh putusan lain telah dibatalkan.

Majelis kejahatan perang di Pengadilan Bosnia-Herzegovina yang berbasis di Sarajevo mulai beroperasi pada tahun 2005 untuk membantu Pengadilan Kriminal Internasional PBB untuk bekas Yugoslavia di Den Haag dengan menangani kasus-kasus di tingkat yang lebih rendah secara nasional.

Pengadilan setempat sejauh ini telah menutup 110 kasus, menjatuhkan beberapa ratus vonis bersalah – di bawah apa yang sekarang telah dianggap sebagai hukum pidana yang salah.

Pengadilan konstitusional tinggi Bosnia telah memberikan pengadilan kejahatan perang waktu tiga bulan untuk menetapkan tanggal sidang ulang dari para narapidana yang sudah dilepas. Jaksa dan terdakwa juga dapat menggunakan waktu ini untuk mencapai kesepakatan perihal hukuman baru yang lebih singkat.

‘Sebuah pesan buruk’

Menanggapi risiko kaburnya para narapidana itu, jaksa meminta agar mereka yang dibebaskan dimasukkan ke dalam tahanan sementara mereka menunggu vonis baru mereka.

Tapi untuk selusin narapidana yang sudah dibebaskan, hakim majelis kejahatan perang Dragomir Vukoje mengatakan saat ini tidak ada pembatasan bagi kebebasan mereka. “Karena tidak ada lagi putusan sah yang berlaku terhadap mereka, tidak ada dasar hukum untuk penahanan mereka. Mereka bebas… tidak ada halangan bagi mereka untuk memiliki dokumen (identifikasi),” kata Vukoje kepada AFP.

Puluhan banding untuk sidang ulang masih tertunda, menurut Dusko Tomic, seorang pengacara yang mengkhususkan diri dalam kasus-kasus kejahatan perang. Dengan lingkup sidang yang baru masih belum jelas, Tomic memprediksi pertempuran hukum akan sulit ke depannya jika “kita mulai dari awal lagi”.

“Akan sulit sekarang untuk memanggil semua saksi dan korban lagi,” katanya kepada AFP.

Mothers of Srebrenica mengatakan para korban telah kehilangan kepercayaan dalam proses hukum dan dalam pernyataannya mereka menuduh pengadilan mengirimkan “pesan yang sangat buruk untuk generasi masa depan”.

“Vonis kejahatan genosida adalah satu-satunya yang membuat saya puas,” kata Zejneba Cengic, yang suaminya dan dua saudara lelakinya dibunuh. “Apakah ada sisi manusiawi pada para hakim yang memutuskan untuk membatalkan putusan mereka?”

Leave a Reply
<Modest Style