Modest Style

Kisah TKI: Pekerja Rumah Tangga Muslim

,

Dua wanita asal Indonesia menceritakan tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan syariat Islam yang bagi mereka sangat penting, saat bekerja untuk majikan mereka di Singapura. Oleh Sya Taha.

WP housework and the city afp
AFP Photo / Romeo Gacad

Perpaduan antara keadaan, waktu, dan jenis pekerjaan yang saya lakukan sekarang adalah untuk mendapatkan uang untuk membantu keluarga saya.

Wati (bukan nama sebenarnya) adalah perempuan muslim Indonesia berusia 31 tahun dari Jawa yang telah bekerja sebagai pekerja rumah tangga di rumah majikannya yang beretnis Cina – dan beragama Kristen – selama hampir 13 tahun. Ketika ia pertama kali tiba di rumah majikannya 13 tahun yang lalu, ia diberitahu bahwa ia dilarang salat di rumah itu. Takut membuat marah majikannya dan agen tenaga kerja, serta teringat akan utangnya yang hampir mencapai S$ 2.000 (US$ 1.600) yang ia gunakan untuk sampai ke Singapura, dengan patuh ia mengangguk. Jika ia protes, ia mungkin telah masuk daftar hitam, dipecat dan dikirim kembali ke tanah airnya Indonesia – seperti cerita-cerita yang didengarnya di pusat penampungan di Jakarta sebelum terbang ke Singapura.

Singapura saat ini menjadi ‘rumah’ sementara untuk setidaknya sekitar 201.000 pekerja rumah tangga migran, yang biasanya disebut sebagai pekerja rumah tangga asing atau ‘pembantu asing’. Sejak 1980-an, Singapura dan kota-kota global lainnya di Asia dan Timur Tengah mencari tenaga kerja (perempuan) yang ‘murah’ dan ‘mudah diganti’ dari negara-negara miskin sebagai pengganti tingginya biaya tenaga kerja lokal. Kenaikan permintaan selama dekade terakhir ini berarti semakin banyak perempuan Indonesia yang bermigrasi untuk bekerja, dengan keberangkatan mereka yang dibuat lebih mudah berkat tawaran modal dalam bentuk utang.

Mengapa Singapura mengizinkan masuknya pekerja rumah tangga migran di tahun 1980-an? Mengapa warga Singapura saat ini mempekerjakan pekerja rumah tangga? Kebutuhan ekonomi adalah jawaban yang paling populer untuk kedua pertanyaan tersebut. Selama melambungnya industri manufaktur pasca-kemerdekaan tahun 1970-an, lebih banyak perempuan yang mulai bekerja di luar rumah. Seseorang harus mengambil beban pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dalam lingkup domestik (perempuan), maka pekerja rumah tangga dari negara-negara tetangga yang lebih miskin adalah pilihan yang paling layak dan logis. Sehingga, sumber daya langka berupa tenaga kerja perempuan lokal dengan keterampilan tinggi dapat bebas bekerja di luar rumah.

Setumpuk pekerjaan menanti Wati.
Setumpuk pekerjaan menanti Wati.

Pola kerja migran yang ada di Singapura ditandai dengan Foreign Maid Scheme (Skema Pembantu Asing) tahun 1978, di mana sebagian besar perempuan dari Indonesia dan Filipina diizinkan untuk bermigrasi ke Singapura untuk bekerja sekaligus menumpang di rumah majikan. Sebagian besar perempuan dari Indonesia beragama Islam, sementara yang berasal dari Filipina kebanyakan Katolik. Namun, lebih banyak pekerja asal Indonesia dipekerjakan pada tahun 1995, setelah hukuman gantung atas Flor Contemplacion, seorang pekerja rumah tangga Filipina, karena pembunuhan. Eksekusi itu memicu ketegangan hubungan antara Singapura dan Filipina dan mengakibatkan larangan sementara pengiriman pekerja Filipina ke Singapura.

Dua tahun lalu, saya menghabiskan beberapa bulan mewawancarai beberapa pekerja rumah tangga tentang hubungan mereka dengan majikan mereka, khususnya menyelidiki bagaimana mereka bernegosiasi untuk kebebasan tertentu seperti apa saja yang diizinkan untuk mereka lakukan selama tinggal di rumah majikan (misalnya menggunakan ponsel atau komputer). Dalam artikel ini saya berbincang dengan mereka berdua lagi untuk mengetahui bagaimana mereka mengungkapkan identitas muslim mereka saat bekerja.

‘Mungkin Tuhan akan mengampuni saya’

Saya hanya mengikuti tuntutan majikan saya. Saya harus menemani anak-anak mereka ke gereja, dan hampir setiap hari saya harus menangani dan memasak daging babi, yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Mungkin itu kesalahan saya sendiri yang bersedia dan ingin bekerja dalam kondisi seperti itu. Tapi itu karena saya sangat ingin mendapatkan pekerjaan….

Selama beberapa tahun pertama bekerja untuk majikan Cina-nya, Wati tidak diizinkan untuk salat, puasa, makan makanan yang dia sukai (termasuk makanan halal), atau membaca Al Quran, karena dia takut dipergoki. Meskipun ia menerima upah jauh melampaui yang bisa dia peroleh di Indonesia, tak bisa memenuhi kewajiban agamanya membuat hidupnya terasa gelap, seolah-olah dia tidak beragama sama sekali. Dia sering berpikir, ‘Mungkin Tuhan akan mengampuni saya, karena niat saya adalah untuk bekerja dan melaksanakan tugas-tugas saya.’

Ada anggapan bahwa bentrokan keyakinan semacam itu terjadi dengan majikan Cina, dan bahwa majikan Melayu, yang kebanyakan muslim, umumnya lebih memahami pekerja rumah tangga muslim. Sebagai contoh, keluarga saya tidak hanya mendorong pekerja rumah tangga kami untuk salat dan berpuasa, tetapi kami juga mengharapkan mereka beribadah, terlepas dari ketaatan perempuan itu sendiri. Keluarga saya berharap, pekerja yang saleh tidak akan menimbulkan masalah seperti melarikan diri, memiliki pacar, atau mengharapkan terlalu banyak kebebasan.

‘Tidak ada waktu untuk salat’

Sinta (bukan nama sebenarnya), perempuan 35 tahun dari Jawa, senang akhirnya bisa bekerja untuk keluarga Melayu setelah berpindah-pindah antara majikan Cina dan India enam kali, ‘karena majikan-majikan Cina makan daging babi. Jika saya harus memasak daging babi, setiap hari saya mencuci tangan dengan tanah.’

Sinta begitu bersyukur memiliki majikan dari latar belakang budaya dan agama yang sama, sampai-sampai dia bersedia menerima upah yang lebih rendah dan kondisi kerja yang kurang ideal. Meskipun upahnya terlambat dibayar dan sekitar S$ 100 di bawah harga pasaran sebesar S$ 500 (untuk pekerja yang berpengalaman), dan harus mengurus enam anak, dia masih merasa penting untuk memiliki majikan muslim sehingga ia diizinkan untuk salat dan berpuasa, dan semacamnya.

Alhamdulilah, dengan yang majikan satu ini, mereka membolehkan saya salat, tapi tidak ada waktu untuk salat.

Malang bagi para pekerja rumah tangga, pekerjaan harus selalu didahulukan. Pekerja yang tinggal di rumah majikan diharapkan siap sedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu, meskipun mereka kini berhak atas hari libur, berdasarkan hukum Singapura. Rincian yang lebih detail mengenai berapa banyak privasi dan waktu istirahat sehari-hari biasanya tergantung pada itikad baik majikan. Untuk Sinta, meskipun majikannya telah sepakat untuk memberikan libur di hari Minggu, ketika mereka harus menghadiri acara seperti pernikahan, hal ini biasanya berarti ia harus tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak yang masih kecil.

Ketika hidup memberikan kesulitan…

Di tengah kondisi suram itu, para perempuan ini juga menunjukkan kepada kita cara menciptakan yang terbaik dari situasi seperti ini. Selama Ramadhan pertamanya, Wati ingin sekali berpuasa dan memutuskan untuk melakukannya diam-diam. Dia berpuasa hari pertama Ramadhan dengan hanya segelas air untuk sahur karena dia takut mengambil makanan apa pun tanpa izin majikannya. Saat makan siang, ia menyimpan jatah makanannya dengan rapi dalam lemari es untuk sahur hari berikutnya, dan mengatakan kepada majikannya bahwa dia sudah makan. Dia berhasil melakukan ini selama dua minggu sampai ia tertangkap basah sedang sahur oleh majikannya, yang lantas melaporkan dia ke agen tenaga kerja. Teguran dan tangisan pun terjadi. Meskipun majikannya mengkhawatirkan kesehatan dan tingkat energinya selama Ramadhan, Wati tidak berubah pikiran, tetapi memutuskan untuk tidak melanjutkan puasa dan mencoba yang terbaik untuk menjadi ‘pekerja keras yang baik dan mau belajar’.

Acara kumpul-kumpul dengan pekerja rumah tangga lainnya yang juga sama-sama belajar
Acara kumpul-kumpul dengan pekerja rumah tangga lainnya yang juga sama-sama belajar

Ketika kontraknya berakhir setelah dua tahun, ia ingin pulang. Tapi ketika majikannya ingin memperpanjang kontraknya dengan menawarkan kenaikan gaji, Wati mengambil kesempatan itu untuk bernegosiasi.

Baik Nyonya, saya ingin terus dan bekerja untuk Nyonya, asalkan saya diizinkan salat, dan berpuasa selama Ramadhan, karena ini adalah kewajiban agama saya, sama seperti kalau Nyonya pergi ke gereja untuk berdoa dan menyerahkan diri kepada Tuhan.

Akhirnya majikannya setuju, asalkan dia tidak mengabaikan pekerjaannya dan tidak mempengaruhi anak-anak dengan salat dan berpuasa di depan mereka.

Adapun Sinta, meskipun dia tidak mendapat upah yang konsisten, dia bisa mengandalkan kesamaan agama dan latar belakang budaya majikannya untuk memahami kegiatan agama dan akademisnya. Dia pertama kali minta izin untuk mengambil kursus bahasa Inggris dan kursus menjahit di sebuah masjid di dekat rumahnya. Karena dia berhijab (yang meyakinkan majikannya bahwa dia ‘perempuan baik-baik’) dan pelajarannya diadakan di masjid, mudah baginya untuk meyakinkan majikannya untuk memberinya hari libur pada hari Minggu untuk menghadiri kelas-kelas ini.

Bahkan ketika saya dulu bekerja tiga hari tiga malam karena Idul Fitri, kami selalu bekerja lebih banyak, membuat kue-kue kering dan yang lainnya, tapi angpaunya (hadiah uang tunai) hanya sepuluh dolar. Tapi syukur, alhamdulilah! Setidaknya saya mendapat angpau.

Sinta menunjukkan rasa syukur dan kelegaan atas kemudahan bekerja dengan majikan muslim Melayu. Meskipun ia bisa berpenghasilan lebih di tempat lain, dia pikir dia mungkin tidak bisa menjalankan agamanya sebebas yang dia bisa lakukan dengan majikannya saat ini. Untuk Sinta, bisa menjadi muslim tanpa takut adalah faktor yang paling penting.

Renungan

Walaupun pengalaman Wati dan Sinta tidak mewakili semua pekerja domestik muslim, majikan Cina atau Melayu, atau majikan non-muslim dan muslim, mereka membantu kita menyadari situasi yang dihadapi oleh perempuan yang bekerja dalam situasi kerja legal di mana perlakuan yang baik sangat tergantung pada itikad baik si majikan. Memiliki majikan dari latar belakang budaya atau agama yang sama tak menjamin sikap mereka, yang juga dapat berubah seiring waktu.

Jadi, siapa bilang jadi muslim itu sulit?

Faktanya, ini tergantung cara kita menghadapinya, karena dari pengalaman dan kesabaran saya sendiri, saya berhasil melaksanakan kewajiban-kewajiban saya untuk majikan saya dan kepada Tuhan.

Sementara Wati dan Sinta telah menunjukkan kesabaran dan keuletan yang luar biasa dalam menghadapi keadaan mereka, majikan juga harus berhenti menganggap pekerja mereka sebagai orang suruhan dan lebih sebagai rekan kerja dalam mengelola rumah tangga. Memperlakukan pekerja dengan bermartabat dan rasa hormat yang layak mereka dapatkan cenderung akan menghasilkan kerjasama dan hubungan kerja yang lebih produktif dan menyenangkan.

Kutipan dari artikel ini bersumber dari Open SEAM dan tesis master penulis.

Leave a Reply
<Modest Style