Modest Style

Kisah ‘Si Itik Buruk Rupa’

,

Sebuah kisah transformasi seperti yang disampaikan oleh Afia R Fitriati. Karena menjadi sebaik-baiknya diri sendiri adalah rahasia meraih kecantikan batin.

(Image: SXC)
(Gambar: SXC)

Syahdan ada seorang gadis yang terlahir cukup berbeda dengan keempat saudaranya.

Tidak seperti saudara perempuan dan laki-lakinya yang lahir dengan wajah yang lembut, rambut lurus dan berkilau, gadis ini justru kurus berambut mekar dan tak beraturan. Sementara saudara-saudaranya periang dan bersahabat, dia pendiam dan kikuk. Rambut gadis itu begitu kribo dan kasar sehingga teman-teman sekolah menjulukinya Jimi Hendrix, ikon rock ‘n roll tahun 60-an yang bergaya afro klasik. Ketika mereka mengunjungi rumahnya dan bertemu saudara-saudaranya yang cantik, mereka biasanya bertanya, ‘Apa kamu yakin kalian bersaudara?’

Ringkasnya, si gadis merasa seperti itik buruk rupa dalam keluarganya.

Tumbuh dewasa bukan hal yang mudah bagi gadis ini. Dia hanya memiliki beberapa teman, sebagai gantinya dia menemukan kenyamanan dengan membaca buku. Namun walaupun kegemarannya membaca membantunya menonjol di sekolah, kepercayaan dirinya yang rendah bertahan selama masa remajanya. Diam-diam dia selalu memimpikan agar bisa secantik saudara-saudaranya, karena sepertinya masyarakat tempatnya tinggal selalu lebih menghargai sebuah penampilan cantik, tak peduli seberapa pandai seseorang.

Melewati masa usia 20-an gadis canggung ini, yang sekarang telah berhijab dan bersekolah di luar negeri, tetap berjibaku dengan citra dirinya. Tak mudah untuk berhijab di negara Barat di mana banyak orang yang mencurigai agamanya. Dia menerima banyak tatapan ‘sadis’ dan bahkan memiliki lebih sedikit teman di masa-masa kuliahnya. Gadis ini berjuang keras menempa diri untuk menerima semua perlakuan terhadapnya, namun ia mulai berpikir bahwa dia akan tetap buruk, tak dicintai dan kesepian sepanjang hidupnya.

Namun takdir membawanya kepada kenyataan yang berbeda. Suatu hari dia bertemu laki-laki yang baik dan mereka menikah. Setelah dua kehamilan yang sulit dan satu kali keguguran, dia dianugerahi seorang anak laki-laki. Perubahan dalam hidupnya memberikannya sebuah kebahagiaan baru. Dia bertekad mengajari putranya apa pun yang dia tahu, termasuk pentingnya menghargai orang berdasarkan kebaikan dan karakter mereka. Dia menyibukkan diri dengan tugas-tugas rumah tangga dan banyak kegiatan lainnya. Segera kemudian ia telah melupakan obsesinya untuk menjadi cantik.

Satu hari, tanpa disengaja, dia bertemu dengan salah satu kawan lama sekolahnya. Dia menyapa, namun sepertinya laki-laki itu tidak mengenali. Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengingat nama sang gadis.

‘Astaga,’ dia berseru. ‘Saya mungkin tidak akan mengenalimu jika saja kamu tidak berkata ”hai” lebih dulu!’

Gadis yang dulu dikenal sebagai ‘si culun Jimi Hendrix’ tak begitu paham apa yang dimaksud temannya, tapi dia menyangka ada pujian tersembunyi dalam perkataan itu. Apakah penampilannya telah berubah bertahun-tahun sejak terakhir mereka bertemu? Dia tidak yakin.

Tapi meski dugaannya terbukti benar, dia tidak peduli. Yang paling penting baginya adalah betapa bahagia dia sekarang menjadi dirinya sendiri. Lebih dari apa pun, kini yang penting baginya adalah menjadi diri sendiri yang terbaik ketimbang pendapat orang lain tentang dia. Ironisnya, kedamaian hati bisa jadi adalah rahasia meraih kecantikan sejati yang dia cari selama bertahun-tahun dalam hidup.

Jika Anda menebak bahwa gadis dalam kisah ini adalah saya, maka Anda sepenuhnya benar. Untuk menutup kisah ini, izinkan saya menyeru untuk terakhir kali: Jika ternyata ada ‘si itik buruk rupa’ dalam keluarga atau lingkar pertemanan kita, janganlah mencemoohnya. Siapa tahu? Satu hari nanti mungkin kita akan melihat fotonya sedang tersenyum dan membaca kisahnya di sebuah majalah fashion!

Leave a Reply
<Modest Style