Modest Style

Kisah Perjodohan yang Berujung Cinta

,

Pencarian pasangan hidup mungkin menjadi prioritas utama bagi banyak kaum muslim dan muslimah. Theresa Corbin mencoba sebuah cara yang tak lazim untuk menemukan belahan jiwanya.

0602-WP-Arranged-by-Theresa

Saat saya membaca beberapa blog dan catatan di Facebook yang ditulis oleh sesama muslim, banyak yang bertemakan pencarian pasangan hidup yang baik, baik agi diri mereka sendiri ataupun orang-orang yang mereka kasihi. Mungkin topik ini sangat berkaitan dengan rentang usia dari para penulisnya, namun saya menyadari bahwa menemukan pasangan hidup yang sesuai bukanlah masalah sepele. Dan seiring berlalunya usia, waktu mulai mengaburkan memori saya tentang betapa sulitnya menemukan suami idaman.

Semuanya terjadi di seputar ulang tahun saya yang ke-21. Saya melakukan langkah penting terkait keimanan saya dan beralih kepada Islam setelah beberapa tahun mempelajari dan mempertimbangkan baik-baik sebelum akhirnya mengambil keputusan. Sebagai seorang perempuan Amerika dalam usia pencarian jodoh, saya banyak memiliki pengalaman dalam hal patah hati. Saya bukan tipe perempuan yang mau terlibat dalam hubungan sesaat. Saya mencari sebuah hubungan serius, namun jarang berjumpa dengan laki-laki yang punya tujuan sama.

Sebagai seseorang yang baru menjadi muslimah, saya tahu ada cara yang lebih baik untuk melakukan pencarian cinta dan hubungan seumur hidup. Saya memutuskan bahwa jika saya menginginkan hubungan serius, maka sudah waktunya untuk melakukan aksi yang serius. Saya memantapkan pikiran dan hati saya untuk memohon kepada Allah agar memandu saya menemukan seorang suami yang bertujuan sama.

Saya menginginkan sebuah perjodohan.

Bagi kebanyakan orang dalam hidup saya, hal ini terlihat seperti penindasan. Keterkejutan mereka melihat saya masuk Islam cukup membuat mereka kebingungan – dan kini saya berniat menjalani sebuah perjodohan. Bagi orang-orang di sekeliling saya yang memiliki pemahaman terbatas perihal Islam, istilah “perjodohan” menampilkan gambaran tentang sebuah transaksi bawah tangan di mana seorang ayah yang kejam menjual putrinya kepada laki-laki yang tak dikenalnya dan sudah pasti akan menyiksanya.

Namun saya tahu bahwa dalam keyakinan yang baru saya anut, kaum perempuan memegang kontrol penuh untuk menyetujui siapa yang akan dinikahinya.

Saya merasa bahwa sebagai seorang muslimah, saya bisa meminta sesuatu kepada laki-laki yang saya harap menjadi suami saya, mengajukan pertanyaan apa pun kepadanya hingga intensitas hubungan beranjak ke jenjang lanjut yang serius, dan membuat sebuah perjanjian dengannya untuk menindaklanjuti kesepakatan bersama menuju pernikahan. Apa lagi yang kurang dari semua kesempatan ini?

Maka pencarian pun dimulai.

Saya merasa seperti Goldilock dari dongeng The Story of The Three Bears (Kisah Tiga Beruang). Kandidat nomor satu tampak terlalu kasar. Kandidat nomor dua terlihat terlalu “berbudaya”. Kandidat nomor tiga sepertinya tepat. Bukan berarti ada banyak peminang yang mengantre saat itu.

Bagi seorang mualaf baru, yatim-piatu Amerika bagian selatan seperti saya, pilihan menjadi terbatas. Para pelamar meragukan latar belakang saya. Jejaring sosial pun saat itu masih menjadi ide dalam kepala seorang Mark Zuckerberg, sehingga tak ada cara untuk memperkenalkan diri kepada dunia. Percayalah, setiap calon pelamar butuh sekian waktu hingga akhirnya ditemukan. Para saudari dilibatkan. Sekian kontak dilakukan. Tim para tante dihubungi untuk diminta beraksi.

Di saat saya mulai mewawancarai dan menelusuri perihal kandidat nomor satu dan dua, saya mulai semakin memahami apa yang cari dari seorang pasangan muslim dan apa yang sudah pasti tidak saya inginkan. Karena setelah masuk Islam saya harus berurusan dengan masalah adat budaya tertentu yang “tak Islami”, saya sadar untuk tidak menempatkan suatu budaya tertentu di atas budaya Islam. Saya hanya menginginkan menjadi seorang muslim – bukan seorang Arab atau Pakistan – sehingga tak menginginkan seorang suami yang akan mengindoktrinasi saya perihal budayanya.

Menganut Islam dan merasakan penghormatan sesungguhnya untuk pertama kali sebagai perempuan, saya yakin tak menginginkan seorang laki-laki menikahi saya hanya karena prakonsepsi mereka tentang sosok perempuan Amerika berkulit putih. Saya seorang muslimah dan saya ingin diperlakukan dengan segala perlakuan hormat sebagaimana seharusnya sesuai syariat.

Saya putuskan bahwa cara terbaik untuk menjalaninya adalah dengan menikahi seorang mualaf seperti saya – apa pun latar belakang sosio-ekonomi maupun rasnya. Saya paham kriteria ini akan membuat rentang pilihan saya menjadi lebih sempit. Namun saya juga tahu bahwa siapa pun, sebagai mualaf, pasti memahami segala jatuh-bangun saya. Ia akan memahami apa yang telah saya korbankan di jalan Allah, dan akan memahami apa saja yang telah saya raih.

Saya menginginkan seseorang yang telah melalui rintangan yang sama, yang saya tahu banyak kaum muslim juga telah mengalaminya di beberapa titik dalam kehidupan mereka. Namun, seandainya saya sudah menyadarinya saat itu, mungkin saya tidak akan menemukan pasangan luar biasa yang kini menjadi suami saya.

Setelah teman di komunitas muslim saya mengetahui kriteria final saya, mereka mulai beraksi dan kembali dengan sebuah surel yang menjanjikan. Dengan surel itu, calon suami saya dan saya melewati perjalanan perkenalan yang kikuk dan canggung di perkenalan awal di mana kami mendaftar semua data kami (tinggi saya lima kaki empat inci atau 1,62 meter, bertangan kidal, dan suka berjalan-jalan di mal) hingga pada surel kedua dan surel ketiga yang mencantumkan tuntutan kami masing-masing (Anda harus menjalankan shalat lima waktu, dan keyakinan Anda harus menjadi prioritas), kemudian pada surel keempat yang mencantumkan detail syarat bagaimana pertemuan kami (Anda yang membawa teman, saya yang akan mengatur tempatnya), hingga surel kelima kami saat ia mengungkapkan bahwa ia jatuh cinta kepada saya yang membuat saya tersipu dan yakin bahwa dialah yang saya cari.

Perjalanan ini mengantarkan kami ke pernikahan sebulan setelah surel pertama. Satu bulan cukup rasanya untuk mengetahui semua yang perlu saya ketahui. Satu bulan dan akhirnya kami bisa duduk berdua-duaan dan berpegangan tangan untuk pertama kalinya, setelah akad nikah kami ditandatangani.

Mungkin saja saya belum jatuh cinta saat saya menikah, namun saya yakin saya telah menemukan laki-laki yang saya pilih untuk saya cintai, karena ia mencintai Allah dan ia adalah muslim yang baik. Kisah saya tidak berakhir dengan pernikahan, seperti kebanyakan dongeng dan komedi romantis umumnya. Kisah ini justru bermula saat kami jatuh cinta untuk sebuah alasan yang benar.

Meski sulit untuk menemukan pasangan hidup – entah kita menemukan seseorang atau tidak, entah kita jatuh cinta atau menjalani perjodohan – adalah hal yang penting untuk memahami apa yang kita inginkan, apa yang akan kita hadapi dan akan kita persiapkan untuk masa depan kita.

Menurut saya persiapan terbaik dalam pernikahan adalah mendasari hubungan kita di atas sebuah ikatan yang sulit untuk diputuskan – sebuah ikatan yang berlandaskan cinta satu sama lain untuk Allah dan Islam.

 

Kenali Theresa lebih dekat lewat Facebook atau Tumblr

Leave a Reply
<Modest Style