Modest Style

Kisah Keluarga Kami Mengatasi Krisis Keuangan

,

Isra Hashmi menuturkan kisahnya tentang bagaimana ia dan keluarganya bangkit dari jurang utang dan kini menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih bahagia.

Isra, suaminya Fahd dan anak-anak mereka menikmati momen kebersamaan di rumah
Isra, suaminya Fahd dan anak-anak mereka menikmati momen kebersamaan di rumah

Kita akan diuji dengan uang.

Makanan yang kita santap, pakaian yang kita kenakan, mobil yang kita kendarai, tempat-tempat yang kita kunjungi. Semua tergantung pada satu hal: uang. Masyarakat mengejar impian Amerika yang mengatakan jika kita belajar dengan tekun, bekerja keras, dan melakukan semua kewajiban kita, maka kita akan memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi kaya.

Tapi kadang-kadang, hanya kadang-kadang, tidak peduli betapa pun tekunnya kita belajar untuk ujian, kita gagal. Belajarlah lebih tekun lain kali, kata orang-orang. Cari pembimbing, bacalah lebih banyak buku, ikuti pelajarannya dengan lebih rajin, belajarlah lebih tekun dan kau pun akan lulus.

Tapi beberapa ujian tertentu dalam kehidupan datang hanya sekali. Seringkali tidak ada kesempatan kedua. Jika kita menghabiskan semua uang kita, tidak ada orang yang akan mengembalikannya kepada kita dan mengizinkan kita mencobanya lagi.

Orangtua saya pindah ke AS sebelum saya lahir. Mereka belajar, bekerja keras, menjadi profesional dan melakoni impian Amerika. Mereka beremigrasi dari India, salah satu negara termiskin di dunia, dan membangun kehidupan yang mengundang rasa iri banyak orang.

Saya bersekolah di sekolah swasta sepanjang hidup saya. Acara open house di sekolah dasar saya terasa lebih seperti reuni sekolah kedokteran, karena banyaknya dokter yang hadir. Belanja barang-barang kebutuhan sekolah adalah suatu peristiwa yang layak dianugerahi medali Olimpiade.

Belajarlah di perguruan tinggi, setelah lulus ambil kuliah lagi, maka kau akan baik-baik saja, kata mereka kepada saya.

Isra di usia 2 tahun
Isra di usia 2 tahun

Saya menjadi pintar karena banyak membaca, bukan cerdas karena pengalaman.

Saya tidak pernah mengalami yang namanya ‘mahasiswa kelaparan’. Saya tidak menjalani perguruan tinggi dengan makan mi dari microwave atau tinggal di asrama yang kusam. Saya punya satu pekerjaan sampingan selama kuliah dan saya melakukannya hanya karena letaknya di Beverly Hills dan dekat dengan pusat perbelanjaan favorit saya.

Lalu saya menikah.

Suami saya seorang jenius. Dia seorang ilmuwan peneliti lulusan MIT. Dia memiliki banyak singkatan gelar di belakang namanya, tapi saya memanggilnya Fahd saja. Keluarganya menasihatinya hal yang sama. Belajar saja. Dan dia melakukannya, giat sekali.

Tapi di sini masalahnya: anak-anak yang terlindungi dan pintar dari buku hanya sedikit sekali belajar tentang cara mengelola keuangan. Dan di situlah cerita kami dimulai. Segera setelah saya hamil dengan anak kedua, kami menyadari kami memiliki lebih utang dari $56.000.

Kami telah gagal pada ujian uang kami.

Ketika kami meneliti angka-angkanya, kami menemukan dua bulan lagi kami tidak dapat membayar sewa apartemen kami. Saya bertanya-tanya mengapa Tuhan menempatkan saya dalam posisi ini. Kami memiliki seorang balita, dan anak kedua akan lahir.

Beberapa orang akan menyarankan untuk memasrahkannya kepada Allah. Tapi di sinilah kami,  dengan rekening bank kosong dan berdoa uang jatuh dari suatu tempat.

Itu terjadi pada tahun 2008. Bahkan, sekadar memikirkan tentang masa itu membuat saya menangis. Saya ibu rumah tangga dan tidak ingin meninggalkan anak-anak saya untuk bekerja di luar rumah.

Saya berkata pada Fahd bahwa kami harus pindah. Keputusan sayalah untuk pindah dari apartemen kami di tengah musim dingin Boston yang keras ke apartemen yang berbeda bulan itu untuk menghemat uang.

Sebuah pernikahan adalah kerja tim; uang adalah ujian kami.

Bulan itu kami pindah. Enam bulan kemudian kami pindah lagi. Kami mengubah gaya hidup kami 180 derajat. Dan dalam tiga tahun kami telah melunasi utang kami dan memotong semua kartu kredit kami.

Saya melompat dan berteriak kegirangan setelah tagihan terakhir dibayar.

Sekarang saya berbelanja di toko konsinyasi (toko barang bekas), berburu perlengkapan untuk anak-anak di craigslist (bursa barang murah) dan memasak sendiri hampir semua makanan kami. Saya mengendarai jip rombeng dan tinggal di apartemen yang lebih cocok untuk mahasiswa perguruan tinggi.

Saya juga bersyukur kepada Tuhan setiap hari karena memberikan ujian ini. Saya lebih kuat daripada yang saya kira, lebih bijak dari yang saya pikir, dan lebih bahagia dari yang saya bayangkan.

Kita semua akan diuji. Tapi ketahuilah bahwa semua yang kita butuhkan untuk lulus ujian ini sudah ada dalam diri kita.

Baca lebih lanjut tentang Isra Hashmi di blog-nya, The Frugalette.

 

Leave a Reply
<Modest Style