Kisah toleransi beragama di balik blog “Two Brown Girls”

,

Perbincangan dengan pemeluk agama lain bisa memperkenalkan kita kepada cara baru dalam memandang kepercayaan kita. Berikut adalah perbincangan antara seorang Muslim dan Sikh. Oleh “Two Brown Girls”, Aaminah Patel dan Seetal Kaur.

WP-Faith-by-TBG-02

Kita selalu melihat bahwa orang-orang yang mempelajari kepercayaannya cenderung bersosialisasi dengan kelompoknya sendiri. Mungkin karena bergaul dalam masyarakat yang taat bisa turut membentuk rasa memiliki identitas dan kebersamaan.

Salah satu tulisan paling populer di blog kami adalah mengenai kehidupan kami sebagai bagian dari dua kelompok beragama yang tidak pernah rukun. Meskipun kami lahir, besar dan kini tinggal di Inggris, kami menyadari akan konflik berabad-abad antara masyarakat Muslim dan Sikh di Asia Selatan dan diaspora mereka, sejak abad ke-16 masa Mughal dan pemisahan India dan Pakistan di abad ke-20, hingga kasus terbaru pelecehan gadis Sikh oleh pria Muslim di Inggris.

Ini adalah kisah mengenai bagaimana persaudaraan antar umat beragama membantu kami untuk lebih memahami agama kami, dan membentuk hubungan persahabatan yang lebih erat.

Kisah Seetal

Saya tumbuh di tengah masyarakat yang banyak memiliki pandangan negatif mengenai Muslim. Berkerabat dengan Muslim membuat orang dipandang rendah dan pernikahan dengan Muslim dianggap aib. Berbagai cara dilakukan Sikh untuk tetap menjaga jarak dan ingin terlihat berbeda dari Muslim.

Menurut saya ini diakibatkan ole isu SARA yang dihadapi banyak orang India, terlepas dari agamanya, ketika bermigrasi ke Inggris pada 1960-an. Orang-orang dilabeli istilah yang melecehkan, “Paki”, dan terjadi huru-hara di Bradford karena ketegangan antar kelompok ras.

Saya pernah melihat lukisan mengerikan di Gurdwaras [kuil Sikh] yang bercerita tentang bagaimana otoritas Mughal menyiksa banyak Guru Sikh. Ini digunakan untuk mendidik orang mengenai sejarah pertumpahan darah yang dialami kaum Sikh, tetapi saya menganggap bahwa gambaran tersebut hanyalah memupuk kebencian.

Di sekolah saya tidak mengenal seorang pun Muslim dan meskipun saya pernah membaca tentang Sufisme, saya tidak tahu apa-apa tentang Islam! Baru ketika saya kuliah dan bertemu Aaminah saya benar-benar mulai mengerti dan merenung tentang agamanya dan juga agama saya.

Saya tertarik dengan aspek Islam yang mirip dan berbeda. Saya ingat ketika pertama kali saya mendengar Ayah Aaminah mengaji. Lafadznya begitu akrab di telinga saya. Ada pelafalan dan ritme yang sangat mirip dengan pembacaan Guru Granth Sahib [kitab utama Sikh] di Gurdwara – suara yang telah biasa saya dengar sejak entah kapan. Bersujud saat shalat dan menyentuhkan kepala ke tanah juga merupakan praktek yang lazim di Gurdwara dan saya pahami sebagai bagian dari peribadatan Sikh juga.

Salah satu pengalaman terbesar yang benar-benar membuka mata saya adalah mengunjungi keluarga Aaminah di India saat Ramadhan. Saya melihat bagaimana shalat dan masjid menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan ungkapan seperti “Alhamdulillah” atau “Insya Allah” telah lekat dengan setiap ucapan, memberi kesan bahwa mengingat Tuhan di setiap kesempatan adalah hal lumrah.

Setelah mengenal Aaminah, dan mengikuti acara, kuliah umum, diskusi dan lebih banyak mengerti tentang Islam, saya dapat mengajukan pertanyaan yang sensitif kepada keluarga setiap kali mereka berkomentar negatif. Mengenalkan Aaminah kepada keluarga meruntuhkan stereotipe lebih jauh. Dengan cara yang kecil, saya percaya kami membuat perubahan.

Kisah Aaminah

Ketika saya bertemu Seetal, kami menjadi akrab karena minat kami terhadap budaya Asia Selatan, dan perlahan-lahan kami berdua sama-sama tertarik dengan puisi Sufi. Saya jatuh cinta kepada syair-syair cinta yang ditulis Kabir dan Bulleh Shah, dan terkejut ketika penyair yang sama juga ada di Guru Granth Sahib. Saya bingung. Bagaimana mungkin puisi Sufi memiliki kaitan dengan Sikhisme?

Saya, seperti keluarga dan banyak dari masyarakat saya, berpikir jika Sikhisme adalah tentang alkohol dan pesta. Tapi Seetal menjelaskan perbedaan antara budaya Punjabi (pesta dan alkohol) dan gaya hidup sederhana yang diajarkan Guru Sikh.

Saya mengamati beragam aspek rutinitas sehari-harinya, seperti perubahan gaya hidup menjadi vegetarian, yang tentunya membuat saya mengubah gaya hidup saya juga. Karena kami memasak bersama, saya harus mengurangi daging yang pada awalnya terasa sulit. Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk tidak terlalu banyak makan daging, sembari menyebutkan bahwa daging bisa “membuat kecanduan”, sehingga untuk saya, ini adalah kesempatan yang baik untuk menaati sunnah perihal makanan.

Saya juga menyaksikan Langar, di mana makanan disajikan di Gurdwara kepada semua pengunjung, terlepas dari latar belakang agama. Ini menunjukkan konsep utama dari kedermawanan Sikh, sesuai yang saya kaitkan dengan zakat, dan pentingnya berbagi dalam Islam. Langar diselenggarakan setiap hari, dan saya pikir badan amal dan organisasi Muslim bisa belajar banyak mengenai cara berbagi dengan masyarakat yang lebih luas dengan mengamatinya.

Pemikiran Seetal mengenai peribadatan Islam memberi saya sudut pandang baru dalam memandang ibadah. Setelah melihat saya shalat, ia berkata shalat mengingatkannya pada meditasi. Setelah itu, ia akan bermeditasi di kamarnya dan saya berdoa di kamar saya. Ucapannya membuat saya berpikir tentang “meditasi dalam shalat” dan baru setelah itu saya memikirkan khusyu, atau konsentrasi dalam shalat, dan saya mulai melihat shalat tidak hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga momen suci dan koneksi dengan Allah.

“Persaudaraan yang kuat meski berbeda keyakinan”

Pada intinya, kami yakin bahwa ini adalah masalah rasa hormat dan keterbukaan pikiran terhadap beragam sudut pandang dalam hidup. Kita bisa saja tidak sepaham mengenai semua hal, tetapi tenggang rasa atas pendapat orang lain memungkinkan kita untuk memiliki persaudaraan yang kuat meski berbeda keyakinan. Berhubungan dengan orang yang tidak sepaham bisa jadi baik, karena bukan saja hal tersebut memberi kita pandangan baru mengenai agama dan spiritualitas, tetapi juga mendorong kita untuk berkembang dan menghindarkan kita dari berpikiran sempit.

Melalui hubungan kami, kami sadar bahwa karikatur dan stereotipe yang ada di agama dan budaya lain hanya berasal dari ketidaktahuan. Meluangkan waktu untuk bertukar pendapat dengan orang lain yang berbeda keyakinan membuat kita bisa mengatasi masalah yang ada dan pada akhirnya, membantu kita menumbuhkembangkan persatuan.

 

Aaminah dan Seetal adalah pendiri blog gaya hidup populer, Two-Brown Girls, yang ditujukan untuk berbagi ekspresi dalam seni, menjelajahi spiritualitas dan merayakan identitas dan budaya

Leave a Reply
Aquila Klasik