Modest Style

Toleransi beragama di Albania

,
-
Kujtim Balloku, seorang penjaga beragama Islam di gereja Desa Derven, berjalan di depan gereja pada tanggal 19 September 2014. Toleransi beragama warga Albania merupakan nilai intrinsik di dalam sebuah masyarakat di mana tiga agama utama, Islam, Kristen Ortodoks, dan Katolik, hidup dengan harmonis. Gent Shkullaku/AFP

Oleh Briseida Mema and Calin Neacsu

MALBARDH (AFP) – Terletak di pegunungan Albania, gereja abad pertengahan St Nicolas yang sebelumnya hancur dibangun kembali dengan bantuan dari umat Muslim setempat setelah jatuhnya komunisme. Tindakan ini merupakan simbol toleransi keagamaan yang akan dirayakan oleh Paus Francis di tempat ini pada hari Minggu.

Mayoritas penduduk Muslim dan segelintir umat Katolik dan Kristen Ortodoks di tempat ini mengalami siksaan di bawah rezim kejam Enver Hoxha, yang pada tahun 1967 mendeklarasikan Albania sebagai negara atheis pertama di dunia.

Ribuan gereja dan masjid dihancurkan pada saat itu – sebanyak 1.820 tempat ibadah Katolik dan Kristen Ortodoks menurut informasi Vatikan – dan sejumlah pendeta dieksekusi atau meninggal dalam tahanan.

Tidak seorang pun di desa Muslim Malbardh, 60 kilometer di utara Tirana, ingat dengan pasti siapa yang membangun gereja St Nicolas atau kapan. Gereja ini sudah berada dalam kondisi memprihatinkan saat komunis mengambil alih. Gereja tersebut dibiarkan hancur berkeping.

Namun setelah kejatuhan rezim pada tahun 1992, umat Muslim Malbardh mengejutkan pihak pengurus gereja karena meminta izin membangun kembali gereja tersebut di atas pondasinya bersama “saudara” Katolik mereka.

“Mereka tidak menganggap kami serius. Mereka kira kami sedang cari-cari perhatian, tetapi kami benar-benar ingin membangun masjid ini apapun risikonya,” ujar Hadjar Lika, seorang Muslim berusia 77 tahun.

Muslim berhutang perlindungan Katolik

Untuk menuju gereja tersebut, pengunjung harus menggunakan mobil penjelajah, menaiki keledai, atau bertumpu pada tongkat pejalan mendaki jalan setapak yang terjal dan berliku di atas desa.

Dikelilingi oleh teman-teman Muslimnya, Nikoll Gjini, seorang Katolik berusia 60-an, dengan bangga menunjuk ke arah gereja baru, yang terlindung bayangan pepohonan ek nan gagah.

“Tanpa bantuan bahan-bahan dan pengerjaan bangunan dari mereka, kami tidak akan pernah bisa membangun kembali,” ujar seorang mantan pekerja pabrik kimia.

Di gereja kecil tersebut, seorang pendeta mengadakan perayaan misa hanya pada libur-libur besar seperti Natal dan Paskah, tetapi “tempat suci” tersebut tetap penting bagi masyarakat kecil tersebut.

Di Malbardh, umat Muslim merupakan 90 persen dari 2.500 penduduk desa, dan 10 persen sisanya Katolik.

Secara nasional, 56 persen dari tiga juta populasi Albania adalah Muslim. Diikuti oleh penganut Katolik sebanyak 15 persen, dan Kristen Ortodoks sejumlah 11 persen.

Paus Francis, yang mengadakan kunjungan sehari ke Albania pada hari Minggu lalu, menjadikan negara tersebut tujuan pertama perjalanan Eropanya sebagai bentuk penghormatan atas toleransi beragama antar umat Muslim, Kristen Ortodoks dan Katolik, yang hidup bersama dan berbagi kekuasaan dalam pemerintahan nasional di negara tersebut.

“Kunjungan Paus membanggakan bagi seluruh warga Albania, apapun agama mereka,” ujar Walikota Agim Lika yang berusia 42 tahun.

“Sebagai negara kecil dengan penganut Katolik yang sedikit, kami bahagia terpilih menjadi tujuan pertama kunjungan Paus di Eropa.”

Warga Malbardh telah lama bekerja menjaga keutuhan masyarakatnya yang beragam, dan meyakini mayoritas Muslim berhutang perlindungan ke minoritas Katolik.

“Di desa kami, saat seseorang menikah, berdasarkan tradisi harus ada saksi dari kedua belah keyakinan,” ujar Hadjar, mantan pekerja kereta api dengan rokok yang tersembul dari balik kumis putihnya yang bernoda nikotin.

Begitu pula di Derven, yang berjarak sekira 20 kilometer. Umat Muslim juga membantu penganut Katolik membangun kembali kapel mereka yang dihancurkan oleh komunis di tahun 1967.

“Misi terpenting saya adalah membersihkan tanah yang terkontaminasi racun kediktatoran dan atheisme,” ujar pendeta Carmine Leuzzi, mengenang tahun-tahun yang telah berlalu.

Lebih lanjut tentang tradisi toleransi di Albania, berikut kisah luar biasa Umat Muslim yang menyelamatkan penganut Yahudi dari Hitler.

Leave a Reply
<Modest Style