Modest Style

Teknologi Membantu Nigeria Melawan Polio

,
Seorang vaksinator polio memberikan tetes oral untuk seorang anak di distrik Dawanau Kano, Nigeria utara, pada 28 Oktober 2013 selama kampanye imunisasi polio di enam wilayah pemerintah daerah yang di sana ditemukan virus polio. AFP Photo/Aminu Abubakar
Seorang vaksinator polio memberikan tetes oral untuk seorang anak di distrik Dawanau Kano, Nigeria utara, pada 28 Oktober 2013 selama kampanye imunisasi polio di enam wilayah pemerintah daerah yang di sana ditemukan virus polio. AFP Photo/Aminu Abubakar

KANO 18 November 2013. Oleh Aminu Abubakar (AFP) – Mahmud Zubairu memeriksa layar komputer di depannya, memerhatikan kemajuan petugas kesehatan selagi mereka menyebar di seluruh negara bagian Kano, Nigeria utara, di mana kasus polio banyak ditemukan.

Puluhan tim mendatangi pintu ke pintu untuk mengimunisasi setiap anak balita, sebagai bagian dari gerakan agresif untuk membasmi penyakit yang melumpuhkan ini.

Tapi ini adalah kampanye yang memiliki sebuah perbedaan, karena Zubairu, seorang dokter dan koordinator proyek vaksinasi, dapat mengikuti pekerja dari jarak jauh secara langsung berkat bantuan teknologi canggih.

“Saat ini sangat mudah untuk memantau cakupan imunisasi setiap tim vaksinasi karena pelacak telepon yang dibawa setiap tim menghasilkan jejak yang dikirim melalui satelit ke website kami,” kata dokter itu kepada AFP.

“Hal itu memungkinkan kami untuk menghitung dengan tingkat presisi yang tinggi jumlah rumah yang telah dijangkau vaksinator setiap hari selama kampanye.”

Zubairu bekerja dari kantor di kota Kano yang digunakan oleh Bill and Melinda Gates Foundation, yang telah berjanji untuk membantu menghapus penyakit ini di seluruh dunia.

Ide pelacakan dengan ponsel adalah gagasan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara yayasan amal miliarder pendiri Microsoft dan  istrinya membantu untuk mendanai proyek tersebut dalam empat tahun belakangan.

Negara bagian Kano telah ditargetkan karena prevalensi polio yang tinggi dan karena banyak orangtua – curiga akan program imunisasi – masih menolak vaksin, yang berarti jumlah kunjungan rumah untuk pemberian imunisasi masih rendah.

“Pelacakan adalah upaya total kami untuk meningkatkan cakupan vaksinasi dan memastikan pengawasan yang baik.” kata Zubairu.

Titik-titik kuning elektronik muncul pada peta satelit dari masing-masing enam distrik sasaran di Kano setiap kali tim vaksinasi tinggal di lokasi lebih dari dua menit.

Garis hijau bidang vertikal dan horizontal membagi area ke dalam kotak-kotak, dengan setiap kotak mewakili sebuah rumah.

“Jika tidak ada jejak yang ditemukan dalam kotak mana pun itu berarti rumah itu tidak dikunjungi, dan dengan demikian Anda dapat menghitung jumlah rumah yang tercakup dan persentase cakupan tanpa kewalahan dengan jumlah jejak valid yang dihasilkan di daerah yang dikunjungi oleh vaksinator,” Zubairu menjelaskan.

Dalam satu bagian, layar menunjukkan bahwa hanya setengah dari rumah-rumah yang dikunjungi meskipun ada rangkaian titik-titik kuning pada perangkat lunak Google Maps.

Nigeria, Pakistan, dan Afghanistan adalah tiga negara terakhir di dunia di mana polio tetap menjadi endemik dan dengan demikian merupakan fokus dari upaya untuk membasmi penyakit ini, yang juga telah meningkat tajam di Somalia dan Suriah seiring rusaknya hukum, peraturan, dan prasarana di kedua negara.

Antara tahun 2003 dan 2004, negara bagian Kano menangguhkan imunisasi polio selama 13 bulan setelah adanya klaim dari beberapa ulama dan dokter muslim bahwa vaksin itu dicampur dengan zat-zat yang bisa membuat perempuan tak subur.

Mereka menuduh program imunisasi itu sebagai bagian dari rencana Barat yang dipimpin AS untuk mengurangi penduduk Afrika. Klaim serupa telah dibuat oleh para Islamis garis keras di Afghanistan dan Pakistan.

Akibatnya, Kano menjadi titik penularan virus polio – yang dapat menyebabkan kelumpuhan yang dapat mengakibatkan cacat permanen dan kematian – di Nigeria dan lokasi yang lebih jauh, sehingga membuat cemas organisasi kesehatan dunia.

Analisis laboratorium di luar maupun di dalam Nigeria memastikan vaksin itu aman tapi penolakan publik tetap bertahan. Seorang dokter WHO di Kano mengatakan hal ini mendorong beberapa petugas imunisasi untuk memalsukan data untuk mengklaim tunjangan – sebuah praktik yang dengan pelacakan telepon akan bisa dibasmi.

“Di jalur yang tepat untuk memberantas polio”

Prakarsa imunisasi sekarang kembali ke jalurnya berkat kesadaran baru dan dukungan dari para pemimpin politik lokal, kepala suku tradisional Nigeria, dan para ulama.

Aliko Dangote, seorang tokoh bisnis kelahiran Kano yang dianggap orang terkaya Afrika, juga dipuji oleh Gates dalam kunjungannya ke Nigeria pekan ini, yang menyambut keterlibatannya dalam proyek tersebut.

Presiden Nigeria Goodluck Jonathan mengatakan bahwa dengan bergabungnya tokoh-tokoh yang kuat “tidak ada alasan” polio tidak bisa dihapus pada tahun 2014.

Mengingat tingginya biaya proyek pelacakan, Gates Foundation berkonsentrasi pada 40 daerah berisiko tinggi di delapan negara bagian utara, termasuk Kano.

Namun program tersebut menghadapi rintangan. Pada bulan Februari, delapan orang bersenjata tak dikenal di bajaj menembaki dua klinik polio di Kano, menewaskan sembilan vaksinator perempuan.

Pakistan juga telah terpukul oleh serangan berulang pada proyek serupa.

Global Polio Eradication Initiative mengatakan pada pekan ini bahwa Nigeria memiliki 51 dari 328 kasus penyakit tersebut di seluruh dunia pada 2013. Angka itu dibandingkan dengan 121 dari 223 kasus dalam 12 bulan sebelumnya.

Zubairu menyebut penurunan itu sebagian besar sebagai akibat penggunaan teknologi dan pelacakan telepon dari relawan yang memberikan vaksin.

“Sejak pelacakan dimulai kami telah melihat peningkatan yang sistematis dalam cakupan imunisasi polio dan kami berada di jalur yang benar untuk memberantas polio di Nigeria,” tambahnya.

Leave a Reply
<Modest Style