Sudahkah umat Muslim berjuang melawan perubahan iklim?

,

Meski begitu banyak ayat Qur’an bicara tentang tanggung jawab manusia melindungi bumi, kita belum banyak mempraktekkannya. Oleh Abdul-Halik Azeez.

Go Green
Merangkul kehijauan. (Gambar: Fotolia)

Saat Tuhan berkata kepada para malaikat, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah:30)

Maka dimulailah kisah dramatis penciptaan Adam di Qur’an. Manusia pertama, khalifah Tuhan di bumi, wakil-Nya. Manusia tidak ditakdirkan untuk melakukan korupsi dan menumpahkan darah dalam perjalanan untuk memenuhi perannya di bumi. Sebaliknya, manusia ditakdirkan untuk menjadi pelaku kebajikan yang melindungi bumi – baik flora dan fauna – untuk generasi masa depan, dan mengambil hasi bumi secukupnya untuk bertahan hidup dengan nyaman. Istilah modernnya, hidup berkelanjutan.

Namun bukannya merawat dan melindungi hal yang menopang kita, sesuai dengan ajaran Islam dan agama-agama serta filosofi lain, kita malahan mengeksploitasinya. Bukannya mengabdikan diri pada satu-satunya Tuhan, kita mengabdi pada ego dan nafsu kita. Pertanyaan “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (25:43) menyiratkan bahwa materialisme kita telah menjadi sebuah berhala; tuhan yang terjadi dengan sendirinya.

Kini kita semakin terdidik, tetapi pendidikan kita digunakan untuk bersaing mendapat pekerjaan di perusahaan-perusahaan besar dunia yang merupakan contoh dari “nafsu raksasa”. Mereka menelan apapun yang ada di hadapannya atas nama laba, satu-satunya tujuan keberadaan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa hanya 90 perusahaan menghasilkan dua pertiga emisi gas rumah kaca sejak awal era perindustrian. Lebih jauh lagi, sekitar setengah emisi dihasilkan dalam 25 tahun terakhir, jauh setelah efek negatif gas rumah kaca diketahui.[i]

Ekspansi kosporasi didorong oleh sektor keuangan yang kini semakin besar dan berkuasa. Larangan Qur’an atas perbuatan riba (2:275), yang bisa dipahami sebagai batasan untuk tidak memelihara nafsu serakah, begitu disepelekan. Dalam 250 tahun terakhir saja, kita telah menggunakan bahan bakar fosil yang membutuhkan 250 juta tahun untuk dibentuk.[ii] Penggundulan hutan terjadi dalam kecepatan yang mencengangkan: sekira 120-150 ribu kilometer persegi hutan hilang setiap tahun, sama dengan 36 lapangan sepakbola setiap menit.[iii] Penggundulan hutan dan pembakaran bahan bakar fosil merupakan penyebab terbesar perubahan iklim buatan manusia.

Perubahan iklim adalah sesuatu yang mulai kita semua rasakan, tetapi orang kota seperti kita ini masih bisa mengabaikannya dengan menggunakan payung serta bergerak lebih cepat dari satu ruang berpendingin ke ruang lainnya. Sayangnya, jutaan orang yang bergantung pada iklim yang stabil untuk mencari nafkah tidak bisa merasakan kemewahan tersebut. Di dunia Muslim saja, negara-negara seperti Bangladesh, Senegal, Mauritania, dan Pakistan (akan) dihadapkan oleh bencana beruntun seiring semakin parahnya perubahan iklim akibat pemanasan global.[iv] Mereka yang tidak mampu terkena dampak paling parah – secara sosial, ekonomi, dan psikologis. Bukan orang kaya.

Upaya untuk mempersatukan umat di balik kampanye lingkungan pernah dilakukan, tanpa hasil berarti

Hal ini bertentangan dengan pandangan Islam teerhadap keadilan sosial. Umat Muslim seharusnya berada di baris terdepan untuk menentang hal ini. Ini termasuk membuat petisi untuk pemerintah kita sendiri agar membuat kebijakan yang lebih berkelanjutan, melakukan tindakan untuk beradaptasi dengan iklim, meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengatasi masalah ini, dan berhenti menjadi penyebab masalah.

Karena meski pemasok masalah lingkungan yang terbesar adalah negara-negara Barat dan ekonomi industri yang berkembang pesat seperti India dan Tiongkok, tiga dari lima penghasil karbon dioksida tertinggi per kapita berasal dari dunia Islam. Saya persembahkan: Qatar (nomor satu), Kuwait, dan Brunei. Kita tidak perlu mencari contoh materialisme di luar dunia Islam yang membuat segala sesuatu di tempat lain terlihat sepele – terlepas dari peringatan keras yang terdapat di Qur’an tentang pemborosan (6:141). Dan bersama kemewahan berlebih, kemiskinan yang ada pun begitu ekstrem.

Upaya untuk mempersatukan umat dibalik kampanye pemerhati lingkungan pernah dilakukan, tanpa hasil berarti. Muslim Seven Year Action Plan (yang tidak bertahan lebih dari satu tahun pun) adalah salah satunya. Islamic Foundation for Ecology and Environmental Sciences yang berpusat di Inggris, sebuah organisasi advokasi yang menggunakan ajaran Islam untuk melawan berbagai masalah yang berkaitan dengan perubahan iklim, telah mengeluhkan kurangnya antusiasme umat Muslim terhadap isu yang satu ini.

Di dunia Muslim masa kini, lingkungan biasanya ada di bagian terbawah dalam daftar masalah yang ingin kita atasi. Bahkan tidak dianggap sebagai masalah, dibandingkan dengan semua perang, kematian, dan segudang krisis lain yang dihadapi masyarakat dunia. Banyak Muslim juga memperlihatkan apa yang suka saya sebut sebagai “apati eskatologis”: kecenderungan untuk memaknai berbagai bencana yang terjadi di bumi, seperti banjir, kekeringan, dan kehancuran, sebagai tanda datangnya hari kiamat; sebagai kejadian yang tidak bisa dihindari dan dihentikan yang pada akhirnya akan berujung pada akhir dunia.

Namun kepasrahan semacam ini bukanlah Islam. Jangan lupa: Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubahnya sendiri (13:11). Perubahan iklim, yang sama sekali bukan qadar, bisa jadi sebuah ujian dan kesempatan untuk membuktikan bahwa kita pantas menjadi khalifah di muka bumi. Sekarang adalah saatnya untuk bersatu dengan orang-orang yang peduli di seluruh dunia dan untuk menunjukkan kepemimpinan dalam mengatasi masalah bersama. Sebagaimana pujangga Urdu Allama Iqbal pernah berkata, “Orang-orang beriman adalah qadar Allah di bumi.”

Saat ini adalah saat yang baik untuk memulai, karena perhatian dunia tertuju pada KTT Iklim PBB. Memberikan tekanan pada pemimpin dunia untuk melakukan perubahan kebijakan drastis yang dibutuhkan merupakan salah satu cara untuk membuat suara kita berarti. Turut mengkampanyekan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari iman dan ibadah kita serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan cara yang sangat baik.

[Not a valid template]

Ikuti perkembangan UN Climate Summit di Twitter dengan tagar #call4climate

________________________________________

[i] Suzanne Goldenberg, ‘Just 90 companies caused two-thirds of man-made global warming emissions’, The Guardian, 20 Nov 2013, di sini
[ii] Fazlun Khalid , ‘The financial crisis and the environment– an Islamic perspective’, IFEES, Jan 2010, di sini
[iii] World Wildlife Organization, ‘Deforestation’, di sini
[iv] ‘Climate Change and the Muslim World’, World Development Forum, di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik