Mendukung penduduk lokal = Solidaritas untuk Palestina

,

Jangan sampai kita lupa bahwa perang yang terjadi di Palestina juga berkali-kali terjadi pada pribumi di seluruh dunia.  Oleh Eren Cervantes-Altamirano.

BRAZIL-INDEGENOUS-GAMES
Seorang pria suku Rikbaktsa di Brasil. (Foto: Christophe Simon/AFP)

Beberapa pekan belakangan ini saya dibuat takut oleh situasi di Gaza. yang seringkali disebut sebagai masalah “keagamaan” di media, padahal sebenarnya lebih merupakan masalah perampasan lahan, pengusuran, dan genosida, menurut Global Policy Forum. Kali ini, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, konflik Gaza menjadi bahasan utama di media, lingkup media sosial, dan bahkan dalam interaksi sehari-hari. Aquila Style telah memuat sejumlah artikel terkait konflik ini, yang menyoroti isu ini dari sudut dan penyampaian yang berbeda seputar serangan Israel tahun 2014.

Sementara itu di Kanada, saat para pemimpin pemerintahan – dari seluruh partai besar – mendukung “hak Israel untuk mempertahankan diri” (dari apa, saya tidak yakin), sejumlah demonstrasi dan doa bersama diadakan di seluruh negara. Dukungan yang datang dari warga Kanada, imigran, dan warga pribumi sangat mengharukan, sekaligus menimbulkan banyak pertanyaan.

Salah satu di antaranya: apa artinya bersolidaritas dengan Palestina?

Selama bertahun-tahun saya mencari tahu bagaimana solidaritas seharusnya terlihat. Meski dukungan itu penting, solidaritas juga merupakan sebuah komitmen untuk belajar, bertahan, dan mengedukasi orang lain secara berkelanjutan. Perjuangan yang kita bicarakan bukan hanya tentang Palestina, yang jelas merupakan satu dari banyak kasus penjajahan kolonialisme, penggusuran, dan peminggiran di seluruh dunia. Populasi pribumi telah diserang, dibunuh, dicampur, dan dipinggirkan selama berabad-abad.

Namun seberapa banyak dari kita yang benar-benar tahu banyak tentang masalah lahan yang disebabkan oleh kolonialisme? Israel, seperti banyak negara lain termasuk Kanada dan Amerika Serikat, merupakan negara penjajah kolonial. Negara tersebut telah merampas tanah orang lain sambil berupaya memusnahkan populasi pribumi dengan berbagai cara di depan mata kita.

Meminta orang untuk melakukan aksi militan melawan Israel bukanlah sebuah jawaban. Dan alasannya beragam: karena hal tersebut berbahaya, karena kita percaya pada jalan damai untuk menyelesaikan masalah, atau karena kita tidak mampu. Namun setiap orang yang mengaku bersolidaritas dengan Palestina harus tahu bahwa hal ini mengimplikasikan komitmen yang lebih besar untuk mengakui hak pengistimewaan suatu kaum. Kita harus bertanya pada diri sendiri: tanah siapa yang saya tinggali? Bagaimana saya mendapat keuntungan dari tanah ini? Dan siapa yang terkena dampaknya?

Sebagai contoh, meski saya seorang warga pribumi dari bangsa Zapotec di Meksiko, saya tinggal di tempat yang dikenal sebagai Kanada. Lebih jelasnya, saya tinggal di “Ottawa,” yang merupakan wilayah asli dan dan secara sah dimiliki oleh bangsa Algonquin. Sebagai seorang imigran, saya terikat hukum pemerintahan Kanada dan bukannya hukum warga pribumi, serta saya harus bersumpah setia pada Ratu Inggris dan bukannya pada Bangsa Asli, bangsa Métis atau Inuit. Saya memiliki paspor Kanada, yang memberi saya keistimewaan cukup besar yang berdampak pada bangsa pribumi harus berjuang menuntut kedaulatan dan pemerintahan mandiri. Dengan begitu, saya mendapat manfaat belajar dan bekerja di tanah curian dari bangsa yang sangat terpinggirkan di Kanada.

Jadi, saya bersolidaritas dengan Palestina karena perjuangan atas tanah dan kolonialisme sangat akrab dengan saya. Tanah keluarga saya juga “terbawa” ke dalam apa yang sekarang dikenal sebagai Meksiko, sementara saya sendiri menjadi pengunjung di wilayah Algonquin yang dicuri. Solidaritas dengan warga Palestina artinya saya tidak akan hanya ikut berdemonstrasi dengan simpatisan lain atau mengacungkan kepalan tangan pada warga Kanada pro-Israel, namun juga memberi dukungan – dengan segala cara yang saya bisa – pada perjuangan masyarakat pribumi tempat saya tinggal.

Baik dalam bentuk sumbangan uang, menjadi sukarelawan, mengedukasi sesama, atau menulis, solidaritas saya mengimplikasikan bahwa saya akan memperluas cakrawala saya. Palestina bukanlah isu terbatas – Palestina adalah bagian dari sistem yang pemberlakuannya dipaksakan pada masyarakat pribumi di seluruh dunia. Dan Palestina hanyalah cerminan terbaru hal-hal yang telah dihadapi oleh populasi masyarakat asli selama berabad-abad: percampuran, penyerangan, kekerasan gender, rasisme, pengusuran, pembunuhan, genosida, dan perendahan martabat manusia.

Tanyakan pada diri Anda: tanah siapa yang Anda tinggali?

Leave a Reply
Aquila Klasik