Modest Style

Bisnis “panas” di Timur Tengah semakin menggelora

,

Mulai dari toko online alat bantu seks halal hingga situs yang membagikan tips hubungan seks dengan mematuhi aturan syariah . Apakah Timur Tengah perlahan-lahan membuka diri untuk topik seks yang tabu? Oleh Lina Lewis.

1003-WP-Sex-by-Lina-iStock (1)

Akhir tahun lalu, pengusaha Turki Haluk Murat Demirel menyatakan bahwa ia akan meluncurkan sebuah toko online yang menjual alat bantu seks. Reuters mengutipnya mengatakan: “Toko online alat bantu seks biasanya memajang gambar-gambar pornografis, yang membuat umat Muslim merasa tidak nyaman.”

Tentu saja peluncuran toko online tersebut dikelilingi kontroversi.

Ulama dan peneliti syariah Wael Shehab mengatakan pada OnIslam.net: “Saya sangat mengkhawatirkan penggunaan label ‘halal’ yang berlebihan. Banyak orang menyalahgunakan label ‘halal’ untuk tujuan komersil yang bertentangan dengan hukum dan nilai-nilai syariah.”

Saya harus setuju dengan Dr Shehab. Terlepas dari namanya, toko online alat bantu seks ‘halal’ Turki tersebut tidak tampak memenuhi aturan syariah bagi saya. Sebagaimana toko alat bantu seks lainnya – baik nyata maupun virtual – toko tersebut juga menjual benda-benda yang oleh banyak mazhab Islam dianggap kontroversial jika tidak haram, seperti dildo dan vibrator.

Demirel seharusnya mencontoh model usaha El Asira. Toko online penjual produk seks halal yang berbasis di Amsterdam tersebut baru-baru ini bekerja sama dengan peritel barang erotis terbesar di Eropa Beate Uhse “untuk memasuki pasar besar konsumen Muslim”, sebagaimana dilaporkan oleh AFP. Kerja sama tersebut sedang mempelajari kemungkinan membuka toko khusus untuk produk seks halal di Mekah.

El Asira tidak menjual apapun yang terlalu kontroversial.  Sejak diluncurkan pada tahun 2010, toko tersebut berfokus pada barang-barang sopan semacam minyak dan lilin sensual.

Pemain lain dalam bidang toko seks halal adalah Karaz, sebuah situs yang memenuhi aturan syariah yang berasal dari Palestina. Karaz menawarkan rangkaian produk yang sedikit lebih luas, mulai produk makanan hingga kostum dan pakaian dalam. Yang membuat toko ini berbeda dari para pesaing adalah bagian blognya, yang memberikan tips untuk meningkatkan kehidupan seksual Anda.

Pendiri Karaz Ashraf Alkiswani mengatakan di situsnya: “Tujuan kami adalah untuk menyediakan rangkaian produk berselera tinggi untuk membantu membangun kembali kemurnian dan gairah dalam pasangan menikah. Karaz dengan bangga membantu menjaga hubungan hebat dan komunikasi terbuka dengan menyediakan spektrum luas alat bantu pernikahan yang membantu suami dan istri mencapai dan menjaga kemesraan.”

Alkiswani mengatakan pada OnIslam.net bahwa Karaz juga bertujuan menurunkan angka perceraian yang melonjak di dunia Arab. Ia berkata: “Kami ingin mengurangi kasus perselingkuhan. Jika mereka bahagia dan mencoba sesuatu yang baru, maka tidak perlu mencari-cari di tempat lain.”

Semoga, seiring dengan penerimaan Timur Tengah terhadap topik tabu ini, kesehatan seksual di wilayah tersebut juga meningkat.

Shereen El Feki, penggerak perubahan seksual dan sosial di dunia Arab, telah menghabiskan lima tahun menjelajahi wilayah tersebut untuk menyebarkan pendidikan seks.

Dan sebagaimana yang ia tulis di New Internationalist, karena wanita Arab diharapkan untuk tetap perawan sebelum menikah (yang dibuktikan dengan selaput dara yang utuh, atau tidak pernah berhubungan kelamin), mereka melakukan hubungan seksual oral dan anal, tanpa menyadari bahwa mereka masih berisiko terinfeksi HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Pendidikan adalah satu-satunya cara kita dapat menanggulangi penyebaran penyakit dan mendorong pemahaman yang labih baik antara pria dan wanita, yang pada akhirnya akan membantu mengurangi kasus perceraian dan perselingkuhan.

Namun agar pendidikan tersampaikan secara efektif, kita harus berhenti melihat seks sebagai topik yang tabu. Sebagaimana ditekankan El Feki: “Seks di dunia Arab adalah kebalikan dari olahraga. Ini yang dikatakan seorang ginekolog di Mesir pada saya. Setiap orang membicarakan sepakbola namun hampir tidak ada yang memainkannya; sedangkan setiap orang melakukan hubungan seks namun tidak ada yang mau membicarakannya.”

Leave a Reply
<Modest Style