Rusia serbu madrasah dan rumah aktivis kaum Tatar di Crimea

,
-
Wanita Tatar Crimea berdiri di samping bendera Ukraina. Filippo Monteforte/AFP

SIMFEROPOL (AFP) – Masyarakat Tatar Crimea pro-Kiev, yang beragama Islam, pada hari Selasa mengecam serangkaian serangan oleh otoritas loyalis Kremlin di semenanjung terhadap para aktivis Ukraina sebagai bentuk “kampanye intimidasi” di wilayah yang dicaplok oleh Rusia di bulan Maret.

“Penyisiran sekolah-sekolah Qur’an, rumah-rumah aktivis politik dan keagamaan Tatar, dan aktivis pro-Ukrania sudah menjadi pemandangan umum di Crimea,” Nariman Djelal, deputi kepala majelis Tatar, berujar pada AFP.

“Hal ini jelas merupakan kampanye intimidasi,” ujarnya.

Djelal mengungkap kemarahan pada otoritas baru semenanjung karena berupaya menakuti warga setempat agar berpikir bahwa “mereka tidak seharusnya menyatakan posisi sipil mereka dengan cara apapun karena hal tersebut bisa berujung pada penyisiran dan hukuman”.

Satuan khusus polisi yang berkamuflase sejak Juni melakukan penyisiran di empat sekolah Qur’an di sekitar ibu kota Simferopol, juga di rumah-rumah sejumlah aktivis dari masyarakat Tatar, yang dengan tegas menolak pengabungan wilayah dengan Rusia.

Pada hari Minggu, polisi menyerbu kediaman aktivis dan blogger pro-Ukraina, Elizaveta Bogutska, lapor sebuah stasiun televisi Tatar Crimea.

Pejabat penegak hukum merampas beberapa komputer dan menginterogasi Bogutska selama enam jam di markas divisi anti-teroris, ujar suami dari aktivis tersebut pada saluran televisi.

Pada bulan Maret, Moskow mencaplok Semenanjung Crimea milik Ukraina menyusul referendum yang menjadi perdebatan di mana otoritas pro-Kremlin menyebutkan hampir 97 persen pemilih memilih untuk berpisah dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia.

300.000 Muslim Tatar Crimea, yang membentuk sekitar 12 persen dari populasi peninsula, kebanyakan memboikot pemilihan tersebut dan telah mengalami kesusahan yang semakin meningkat sejak perubahan ke peraturan Rusia.

Laporan PBB pada bulan Agustus menyebutkan bahwa “pelecehan dan diskriminasi berlanjut dialami oleh warga negara Ukraina, Tatar Crimea, dan minoritas lainnya” di semenanjung.

Sekira 16.000 orang dari Crimea – kebayakan masyarakat Tatar – terusir dari tempat tinggalnya di Ukraina, lanjut laporan tersebut.

Rusia juga telah melarang dua anggota kenamaan masyarakat Tatar memasuki Crimea selama lima tahun.

Sebagai sebuah kelompok Muslim berbahasa Turki, kaum Tatar dituduh berkolaborasi dengan Nazi Jerman saat Perang Dunia II dan dideportasi ke Asia Tengah pada masa mantan diktator Joseph Stalin.

Hampir setengah jumah mereka mati karena kelaparan dan penyakit.

Mereka mulai kembali ke Crimea pada masa pemimpin Soviet terakhir Mikhail Gorbachev dan menjadi warga negara Ukraina setelah kemerdekaan negara tersebut pada tahun 1991.

Leave a Reply
Aquila Klasik