Modest Style

Ratusan anak yatim Gaza hadapi masa depan tak pasti

,
PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-GAZA
Foto fail: Anak-anak Palestina yang terusir dari rumah berdiri di belakang seprai yang menutupi tenda dadakan pada 2 Agustus 2014 di rumah sakit al-Shifa di Gaza City. AFP Photo / Mohammed Abed

Oleh Mai Yaghi

GAZA CITY (AFP) – “Ia akan memanggil saya Ayah dan Ibu,” tegas Amir Hamad yang berusia 11 tahun, sambil menggendong saudarinya. Perang Gaza membuatnya dan keempat saudaranya menjadi yatim piatu.

50 hari pertarungan berdarah di dan sekitar Jalur Gaza yang hancur oleh perang telah memakan korban hampir 500 anak, namun juga membuat ratusan lainnya menjadi yatim, yang akan menghadapi masa depan tanpa kasih sayang orangtua.

“Saya lebih baik mati daripada hidup tanpa ibu dan ayah,” ujar Amir pada AFP, dan mengatakan bahwa ia tidak akan melupakan kejadian naas pada hari kedua perang saat keduanya terbunuh.

“Orangtua saya sedang minum kopi pada petang hari setelah berbuka puasa, ketika bom jatuh di rumah kami,” ujarnya, mengingat-ingat bagaimana serangan udara Israel menghantam rumah mereka di utara Gaza.

“Saya melihat mereka terbaring di tanah dan langsung tahu bahwa mereka meninggal,” ujar Amir, anak tertua dari lima bersaudara. Saudarinya Lamis, yang baru berusia empat bulan, adalah yang termuda.

Saudaranya yang berusia enam tahun, Nur, terbaring membeku, wajahnya berlumuran darah.

“Dua petugas paramedis membawanya,” kenang Amir, sambil memandangi Nur yang kini duduk dengan aman di sampingnya.

“Saya akan menjaga saudara saudari saya. Namun saya takut, karena orangtua saya sudah tidak lagi di sini untuk membantu.”

Masih ada sosok orang dewasa di dalam keluarga mereka – sang nenek dan kakek.

Sang nenek Afaf Hamad, 60, turut terusir dari rumahnya oleh pertempuran yang menjadikan hampir setengah juta orang kehilangan rumah mereka, namun berkata akan melakukan apapun untuk merawat kelima cucunya.

Namun ia tidak tahu bagaimana cara membiayai pendidikan mereka.

“Saya tidak akan meninggalkan mereka, saya akan membesarkan mereka sebagaimana saya membesarkan putri saya,” ujarnya.

“Namun bagaimana kami akan membayar biaya sekolah?”

“Ibu, ayah ada di surga”

Bisan Daher, 8, kehilangan kedua orangtua dan beberapa saudara dalam serangan udara Israel di utara Gaza.

“Kami semua sedang di rumah. Kami tidak menyembunyikan apapun, tidak juga roket. Namun mereka menyerang rumah kami saat kami berada di dalamnya.

“Sekarang ibu dan ayah dan saudara-saudara saya ada di surga,” ujarnya, masih berbalut perban karena luka yang didapat dalam penyerangan.

“Saya tersadar setekah penyerangan, ada pasir dan kerikil di mata saya. Saya sangat ingin bertemu dengan ibu dan ayah lagi,” ujar Bisan.

Ia terjebak selama enam jam di bawah reruntuhan sebelum paramedis menemukannya dan melarikannya ke rumah sakit.

Kakak perempuan Bisan yang berusia 28 tahun, Noha, yang telah menikah, kini merawatnya.

“Ia masih dihantui dan trauma karena insiden tersebut. Ia tidak tidur, ia sering menangis, dan terus memanggil-manngil ibu dan ayah,” ujar Noha pada AFP.

“Kami diberitahu bahwa ia harus menemui psikiater, namun saat perang masih berlangsung tidak mungkin kami bergerak bebas karena takut adanya serangan udara dan artileri.”

Angka yang dirilis oleh PBB menunjukkan bahwa setidaknya 373.000 anak Gaza akan membutuhkan dukungan psikologis pasca berakhirnya perang tujuh pekan tersebut.

Anak-anak juga banyak menjadi korban jiwa, hampir seperempat dari total korban – dari 2.143 korban jiwa, 494 adalah anak-anak.

Di pihak Israel, terdapat sau anak dari 70 orang yang tewas, 64 di antaranya adalah tentara.

Satu-satunya panti kewalahan

Hanya terdapat satu panti asuhan di seluruh Jalur Gaza dan perang membuat tempat tersebut kewalahan.

Panti asuhan Al-Amal telah menampung antara 250 hingga 300 anak yang menjadi yatim piatu karena perang, ujar direktur Ayad al-Masri pada AFP.

Angka tersebut melonjak dari angka sekitar 120 sebelum konflik dimulai.

Semasa peperangan, salah satu anak yang tinggal di panti, Ali, 10, tewas oleh penembakan di sebuah sekolah PBB tempat ia belindung dengan keluarga jauh.

Panti asuhan tersebut hanya memiliki 31 ruangan, namun Masri berjanji panti akan berkembang.

“Kami akan membangun satu gedung lagi untuk menampung seluruh anak yatim yang akan datang,” ujarnya.

Secepat apa pembangunan tersebut dapat diselesaikan bergantung pada seberapa banyak bahan bangunan yang diizinkan masuk ke Gaza oleh Israel, setelah bertahun-tahun mereka memberlakukan larangan masuk pada pasokan semacam itu sebagai hasil dari blokade delapan tahunnya.

Di bawah perjanjian gencatan senjata yang dicapai pada hari Selasa, Israel telah bersumpah akan mengizinkan masuknya bahan-bahan bangunan namun akan memeriksa semua antaran dengan seksama, dengan alasan barang-barang tersebut dapat digunakan untuk membuat senjata, atau membangun benteng dan menyerang terowongan.

Leave a Reply
<Modest Style