Rasisme di Perancis: Serangan terhadap menteri Perancis kelahiran Maroko timbulkan debat

,
FRANCE-GOVERNMENT-EDUCATION
Menteri Pendidikan Perancis Najat Vallaud-Belkacem mengadakan konferensi pers dalam kunjungannya ke Crous of Paris pada 8 September 2014 di ibu kota Perancis tersebut. Martin Bureau/AFP

Oleh Charlotte Plantive

PARIS (AFP) – “Provokasi”, “seorang Muslim Maroko”, “seorang Ayatullah”: penunjukan seorang wanita muda kelahiran Maroko sebagai menteri pendidikan Perancis memicu gelombang serangan yang kembali menegaskan rasisme di negara tersebut.

Najat Vallaud-Belkacem adalah salah satu cahaya paling cemerlang dalam pemerintah Presiden Francois Hollande yang sangat tidak populer.

Anak didik Hollande yang berusia 36 tahun dan telegenik tersebut ditunjuk bulan lalu sebagai menteri pendidikan wanita pertama, langkah terbaru dalam karir politik yang menakjubkan.

Namun penunjukannya disambut dengan rangkaian keluhan dari kelompok sayap kanan keras, dengan selebaran mingguannya, Minute, yang menyebut penunjukan seorang “Muslim Maroko” sebagai bentuk “provokasi”.

Publikasi sayap kanan lain, Valeurs Actuelles, menyebutnya “Ayatullah” baru di kementerian pendidikan.

Dan kontroversi terbaru: pada akhir pekan lalu, surat palsu beredar di Twitter, yang katanya berasal dari sang menteri, yang mendorong walikota memasukkan satu jam kelas bahasa Arab di sekolah-sekolah.

Kementerian pendidikan telah menyatakan akan mengambil tindakan hukum terhadap sang pemalsu atas pencurian identitas. Sumber yang dekat dengan Vallaud-Belkacem mengatakan bahwa sang menteri tidak ambil pusing atas serangan-serangan tersebut.

Ia telah mendapat serangan di jejaring sosial selama bertahun-tahun, ujar pengikutnya, namun penunjukannya ke kementerian yang begitu penting telah “mengubah skalanya”.

Di sisi lain, “serangan-serangan keterlaluan tersebut telah memancing perubahan pendapat” dan ia telah menerima banyak sekali ucapan dukungan. Ia hanya “sedikit sekali” terpengaruh oleh penyerangan terhadapnya, menurut penasihat dekatnya.

Peringkat penerimaannya saat ini mencapai 51 persen. Sebuah angka yang bosnya, Hollande, – yang memiliki tingkat penerimaan 13 persen – hanya bisa impikan.

“Saya disebut monyet”

Kofi Yamgnane kelahiran Togo, yang terpilih pada tahun 1997 sebagai deputi Sosialis dari wilayah Brittany utara untuk majelis rendah di parlemen, mengatakan bahwa jejaring sosial memberi orang-orang rasis wadah yang lebih besar.

“Warga Perancis yang rasis sudah kehilangan tabu mereka… bukan masalah Perancis lebih rasis atau tidak lebih rasis (daripada negara lain), namun orang-orang rasis di sini tidak memiliki halangan. Jejaring sosial juga menyediakan kebebasan berbicara bagi mereka,” ujarnya.

“Orang-orang rasis jumlahnya lebih sedikit daripada yang lain, tetapi karena kita tidak pernah mendengar yang lain, kita merasa orang-orang rasis ini kuat. Saya mendorong orang-orang untuk menyuarakan pendapatnya. Kaum minoritas harus dibela,” tambahnya.

Menteri berkulit hitam ternama lainnya, Menteri Kehakiman Christiane Taubira, juga mengalami pelecehan, yang paling terkenal adalah oleh mingguan Minute, yang memasangnya di halaman dengan dengan kepala berita “Lihai seperti monyet” dan “Taubira mendapatkan kembali pisangnya.”

Dalam bahasa Perancis, mendapatkan kembali pisang Anda lebih kurang setara dengan menemukan kembali semangat beraktivitas.

Rama Yade, mantan menteri kulit hitam, menyatakan ia pernah menerima beberapa surat yang membandingkannya dengan seekor monyet dan mempersilakannya “kembali ke rumah.”

“Saya adalah wanita muda pertama, yang lahir di luar negeri, yang ada dalam pemerintahan. Orang-orang tidak tahu cara menerima hal itu. Pengamat tidak tahu cara menggambarkan saya… masa-masa itu sangat penuh kekerasan dan tidak adil,” ujarnya.

“Terkadang orang-orang mengatakan pada saya seharusnya jangan terlalu sering terlihat karena Front Nasional (sayap kanan keras) sedang populer. Namun sebaliknya, seseorang harus memberikan alternatif dari Front Nasional yang mencitrakan kebudayaan Perancis yang beragam,” tambah Yade.

Ahli sejarah Pascal Blanchard, yang mengambil spesialisasi dalam kolonialisme dan imigrasi, mengatakan bahwa penunjukan orang-orang berpotensi tinggi seperti Vallaud-Belkacem dan Taubira justru memperlihatkan bahwa “kesetaraan sedang bangkit.”

“Para wanita ini menempati jabatan tingkat tinggi. ini artinya sistem sedang berubah,” ujarnya, dan mengambil contoh penyerangan terhadap politisi ternama Yahudi pada tahun 1930an.

“Perancis tidak lebih rasis daripada negara lain. Di Polandia, serangan seperti ini tidak terjadi karena tidak mungkin seorang wanita dengan latar belakang Afrika Utara ada di pemerintahan,” ujarnya.

Leave a Reply
Aquila Klasik