Modest Style

Pernikahan bawah umur meningkat di kalangan pengungsi Suriah di Yordania

,
suriah
Pernikahan anak di Suriah sebelum pecahnya konflik di negara tersebut pada tahun 2011 tercatat sebesar 13 persen dari keseluruhan pernikahan. AFP Photo / Louai Beshara

AMMAN, 16 Juli 2014 (AFP) –Jumlah pernikahan di bawah umur telah meningkat dua kali lipat di kalangan gadis pengungsi Suriah di Yordania karena kemiskinan dan ketakutan terhadap kekerasan seksual, menurut badan internasional pada hari Rabu.

Save the Children, dalam laporan, “Too Young to Wed,”berkata bahwa pernikahan di bawah umur di Suriah sebelum terjadinya konflik pada 2011 mencapai 13% dari total pernikahan.

Tapi, “pernikahan dini dan yang dipaksakan di kalangan gadis pengungsi di Yordania telah meningkat dua kali lipat setelah perang,” menurut laporan tersebut.

Laporan juga mengatakan bahwa 48 persen dari mereka dipaksa menikah dengan laki-laki yang setidaknya 10 tahun lebih tua.

“Pernikahan di bawah umur buruk akibatnya bagi para gadis itu,” kata Saba al-Mobaslat, direktur negara Save the Children di Yordania.

“Gadis yang menikah sebelum umur 18 lebih berkemungkinan mengalami KDRT dari teman sebayanya yang menikah lebih tua, dan mereka juga memiliki akses yang lebih terbatas terhadap kesehatan seksual dan reproduksi, yang berisiko bagi tubuh muda mereka jika dan saat mereka hamil.”

Statistik dari badan anak PBB UNICEF memperlihatkan bahwa di kalangan pengungsi Suriah di Yordania, jumlah pernikahan di bawah umur meningkat dari 18 dari total pernikahan pada 2012, hingga 25 persen pada 2013.

Statistik terakhir menunjukkan angka ini meningkat tajam ke 32 persen pada triwulan pertama 2014, menurut UNICEF pada hari Rabu.

Yordania, rumah bagi lebih dari 600.000 pengungsi Suriah, mengizinkan gadis di bawah 18 untuk menikah dengan persetujuan pengadilan.

Data pemerintah menunjukkan bahwa terdapat 735 pernikahan dari gadis Suriah di bawah 18 tahun yang terdaftar pada 2013, dibandingkan dengan 42 pada 2011.

“Sebagai pengungsi, keluarga Suriah bergantung pada sumber daya yang terus menyusut dan kurangnya kesempatan di bidang ekonomi,”menurut laporan Save the Children.

“Pada saat yang bersamaan, mereka juga sadar bahwa anak perempuan mereka memerlukan perlindungan dari ancaman kekerasan seksual,”menurut laporan tersebut.

“Dengan adanya tekanan ini, sebagian keluarga mengganggap pernikahan di bawah umur sebagai cara terbaik untuk melindungi anak perempuan mereka dan mengurangi beban keluarga.”

Perwakilan UNICEF Yordania, Robert Jenkins, memperingatkan perempuan yang menikah sebelum 18 tahun tentang risiko kekerasan dan komplikasi media selama kehamilan.

“Mereka juga memiliki kesempatan ekonomi yang lebih terbatas karena hilangnya pendidikan dan dapat terjebak di lingkaran kemiskinan,”menurutnya.

Mobaslat berkata bahwa pernikahan yang dipaksakan dapat berakibat buruk secara fisik dan mental – dan bahkan fatal.

“Konsekuensi bagi kesehatan gadis-gadis tersebut dari hubungan badan saat tubuh mereka masih berkembang sangatlah buruk: gadis di bawah 15 tahun 15 kali lebih mungkin untuk meninggal saat melahirkan dari wanita dewasa,”menurutnya.

Leave a Reply
<Modest Style