Modest Style

Merayakan perang tanpa pemenang di Gaza

,
-
Seorang pria Palestina dan tiga anaknya duduk di atas atap rumah yang hancur sebagian pada tanggal 27 Agustus 2014 sambil memandangi rumah-rumah yang hancur di Shejaiya, salah satu wilayah yang terhantam paling keras dalam serangan Israel terhadap Gaza dalam peperangan 50 hari. Kedua belah pihak mengklaim kemenangan, namun analis mengatakan Hamas hanya mendapat janji-janji sementara konflik tersebut memperburuk perpecahan dalam kepemimpinan Israel. AFP Photo / Roberto Schmidt

Oleh Sarah Benhaida, Jean-Luc Renaudie

YERUSALEM (AFP) – Israel dan Palestina sama-sama mengklaim kemenangan dalam perang Gaza namun analis mengatakan Hamas hanya mendapat janji-janji sementara konflik tersebut memperburuk perpecahan dalam kepemimpinan Israel.

“Setelah 50 hari berperang, kedua belah pihak kelelahan dan karenanya mencapai kesepakatan gencatan senjata,” ujar analis Timur Tengah Eyal Zisser dari Institut Israel Moshe Dayan.

Tujuh pekan perang memakan korban 2.143 jiwa warga Palestina dan menghancurkan Jalaur Gaza, di mana Hamas memimpin.

Di pihak Israel 70 orang tewas – angka tertinggi dalam konflik sejak 2006.

Gencatan senjata yang diperantarai oleh Mesir disetujui pada hari Selasa dengan Israel yang sesumbar tentang keberhasilan gemilang kemenangan militer dan politis atas Hamas.

“Hamas terhantam keras dan tidak satu pun tuntutannya dipenuhi,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Rabu.

Namun Hamas juga merasa berjaya, dan menekankan jumlah tentara Israel yang tewas dan sebuah perjanjian bahwa Israel akan meringankan larangan masuknya barang-barang, bantuan, dan bahan bangunan ke Gaza.

Jean-Francois Legrain, peneliti dunia Muslim dan Arab di CNRS Perancis, mengatakan bahwa klaim kemenangan ditujukan untuk membangun “opini publik”.

Di sepetak tanah tempat Israel dan Palestina telah bertarung selama hampir 50 tahun, “sekali lagi merupakan perang yang sia-sia, karena tidak adanya masalah yang benar-benar terpecahkan,” ujar Karim Bitar, Rekan Peneliti Senior di Institut Hubungan Internasional dan Strategis (IRIS).

Blokade diringankan

“(Perjanjian) gencatan senjata ini longgar dan telah menunda pertanyaan-pertanyaan sulit hingga waktu yang tidak ditentukan,” ujar Bitar.

Perjanjian ini meringankan blokade Gaza, yang diberlakukan oleh Israel sejak 2006, membuat hidup 1,8 juta penduduknya semakin putus asa.

Pada tahun 2012, mengikuti perang sebelumnya, Israel dan Hamas menandatangani perjanjian yang serupa dengan perjanjian hari Selasa dan Legrain dari CNRS mengatakan bahwa Israel-lah yang “tidak menepati janjinya”.

Pertanyaannya sekarang apakah mereka akan menepati perjanjiannya kali ini, ujarnya.

Hamas mengambil risiko tersebut karena “sebuah perjanjian yang menyebutkan tentang pengangkatan blokade sebagian dapat ditunjukkan sebagai sebuah kemenangan”, menurut Legrain.

Masalah-masalah paling sensitif tetap tidak terselesaikan oleh kesepakatan terbaru – terutama hal-hal yang terkait pembebasan tahanan Palestina dan pembukaan bandara serta pelabuhan di Gaza.

Bagi Israel, demiliterisasi wilayah pesisir Mediterania dengan penduduk yang terlampau banyak tersebut merupakan ambisi yang tidak tercapai.

Presiden Palestina Mahmud Abbas telah mengatakan bahwa masalah yang lebih berat akan dibicarakan di Kairo dalam waktu satu bulan.

Namun bahkan sekadar penyebutan topik-topik kunci ini telah menyuntikkan optimisme bagai warga Gaza seiring para pemimpin Hamas, yang bersembunyi selama perang karena alasan keamanan, keluar untuk merayakan “kemenangan” mereka.

“Perlawanan Palestina meraih kemenangan militer sebelum perang berakhir, karena telah berdiri tanpa tergoyahkan di hadapan persenjataan terorisme Zionis,” ujar Hamas dalam sebuah pernyataan.

Rating Netanyahu terjun bebas

Netanyahu melakukan sebaik yang ia bisa untuk melunturkan harapan warga Palestina.

“Hamas menginginkan pelabuhan dan bandara di Gaza, pembebasan tahanan Palestina, mediasi Qatar dan Turki, dan pembayaran gaji pegawai,” ujarnya. “Namun mereka tidak akan mendapatkan apapun.”

Namun media cetak Israel menyuarakan pandangan yang lebih pesimis, dengan mengatakan bahwa “kemenangan” yang dirayakan oleh para pemimpin terjadi “terlalu terlambat” bagi populasi Israel.

“Saya telah kehilangan kepercayaan pada pemerintah yang meragu selama hampir dua bulan,” ujar Haim Yellin, kepala sebuah pemukiman dekat Gaza, pada radio tentara.

Bitar dari IRIS mengatakan: “Pertimbangan politis terlalu memberatkan.

“Popularitas Netanyahu mulai runtuh, pariwisata jatuh, dan perekonomian mulai menunjukkan tanda-tanda kelemahan,” ujarnya.

Pada hari Senin, sebuah polling menunjukkan bahwa 38 persen warga Israel merasa puas dengan perdana menteri mereka, jatuh dari 82 persen sebelum konflik bermula pada 8 Juli.

Netanyahu tanpak semakin terisolasi di dalam pemerintahan dan menghindari pemungutan suara dalam kabinet keamanannya mengenai gencatan senjata tersebut, berdasarkan laporan media Israel, karena setengahnya menentang hal tersbut.

Ia bersumpah pada hari Rabu bahwa Israel masih tidak akan mentolerir satu roket pun di atas wilayahnya dan akan melakukan serangan balik lebih besar lagi.

Leave a Reply
<Modest Style