Modest Style

Perang tenggelamkan setengah warga Suriah dalam kemiskinan

,
AFP Photo
AFP Photo

BEIRUT, 29 Mei 2014 (AFP) – Tiga tahun perang sipil di Suriah telah membawa petaka pada perekonomian dan menenggelamkan setengah populasi dalam kemiskinan, berdasarkan laporan yang dirilis oleh pusat penelitian Suriah kemarin.

“Menyia-nyiakan Kemanusiaan” diperkenalkan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Suriah berpusat di Damaskus bersama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP) dan badan pengungsi Palestina PBB.

Dikatakan bahwa konflik yang ada menciptakan “perekonomian kekerasan yang merendahkan hak azasi manusia, kebebasan sipil, hak kemiskinan, dan aturan hukum”. Para elit baru “memperjualbelikan senjata, bahan baku, dan manusia secara ilegal, sambil melakukan penjarahan, pencurian, penculikan, dan eksploitasi bantuan kemanusiaan”.

Pada akhir laporan, “Suriah telah menjadi negara orang-orang miskin yang menderita kemiskinan berkepanjanga.” Tiga perempat populasi hidup dalam kemiskinan dan 5,3 persen dalam kemiskinan parah.

Bahkan lebih parah lagi, sekira 20 persen orang hidup dalam “kemiskinan yang menyengsarakan”, dengan yang berada di “zona konflik dan wilayah pengepungan mengalami kelaparan, malnutrisi, dan kelaparan”.

Kemiskinan merupakan cermin pengangguran, yang telah meningkat dari 10,3 persen pada 2011 menjadi 54,3 persen pada akhir 2013. Sejumlah 2,7 juta orang kehilangan pekerjaan, yang berdampak pada 11 juta orang lainnya yang menggantungkan hidup pada mereka.

Secara geografis, tingkat pengangguran tertinggi berada di wilayah timur laut, di provinsi Hasakeh dan Raqa, di mana tingkat pengangguran mencapai 65 persen.

Konsumsi pribadi caturwulan keempat jatuh 25,5 persen dari tahun sebelumnya, dengan pengeluaran yang dipusatkan hampir semata-mata untuk makanan dan, bagi hampir 45 persen orang yang telah meninggalkan rumahnya, untuk sewa tempat tinggal. Hal tersebut semakin dipersulit dengan adanya peroketan harga senilai 178 persen sejak 2011.

PDB jatuh sebanyak 41 persen sejak krisis dimulai, setara dengan kerugian sebanyak $70,9 miliar (Rp 832 triliun).

Di saat bersamaan, struktur yang ada mengalami perubahan total, dengan mayoritas PDB kini berasal dari perdagangan domestik dan jasa pemerintahan, sementara agrikultur dan industry mengalami keterpurukan.

Di saat yang bersamaan pula, belanja militer meningkat dari 1,7 persen dari PDB ada 2011 menjadi 15,9 persen pada tahun lalu.

Sistem pendidikan disebut berada di pinggir jurang kehancuran, dengan 4.000 sekolah hancur, rusak, atau digunakan sebagai penampungan pengungsi internal.

Laporan menyebutkan bahwa, dalam skala nasional, hanya terdapat lebih dari setengah (51,8 persen) anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Namun angka tersebut mencapai 90 persen di provinsi Raqa dan Aleppo, dan 68 persen di daerah pedesaan provinsi Damaskus.

Sementara mengenai prasarana perawatan kesehatan, laporan menyebutkan 61 dari 91 rumah sakit umum mengalami kerusakan, dan 45 persen di antaranya tidak berfungsi sama sekali. Sektor ini terkena dampak lebih jauh karena tenaga kesehatan melarikan diri atau terbunuh dan karena kejatuhan industri obat-obatan negara tersebut.

Laporan menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa akhir 2013 adalah 130.000. angka yang akan meningkat menjadi 520.000 jika memperhitungkan yang terluka dan lumpuh.

Leave a Reply
<Modest Style