Modest Style

Pengusaha Muslim Uighur menentang prasangka

,
CHINA-UNREST XINJIANG EDUCATION ECONOMY
Abdulhabir Muhammad, chief operating officer perusahaan konsultan pendidikan, duduk di kantornya di Beijing. Abdulhabir, anggota minoritas Uighur Tiongkok, mengatakan bahwa berprestasi dalam pendidikan dan bisnis dapat menolong kelompok etnis tersebut melawan stereotipe negatif di Tiongkok. STR/AFP

Oleh Kelly Olsen

BEIJING (AFP) – Ambisius dan apolitis, Abdulhabir Muhammad, pengusaha yang menyebut dirinya “Uighur baik-baik” awalnya kerap merahasiakan identitas etnisnya yang ia banggakan di hadapan klien Tionghoanya pada awal pertemuan mereka.

“Setelah saya menyelesaikan segalanya, saya akan katakan, ‘Hei, saya seorang Uighur, saya dari Xinjiang,’” ujarnya, sambil menikmati kekagetan mereka namun tetap menyadari prasangka yang menyertai.

Kekerasan semakin meningkat di dalam dan di luar Xinjiang, kampung halaman bagi kaum Uighur yang kebanyakan adalah Muslim. Kejadian semacam ini sering dikambinghitamkan oleh pemerintah sebagai tindakan “teroris” separatis. Eksekusi delapan orang Uighur baru saja diumumkan beberapa pekan lalu.

Di bagian Tiongkok lainnya, Uighur secara umum ditempeli stereotipe penari etnis yang ceria, penjual kebab pinggir jalan atau, yang kini semakin populer, militan Islam.

Sebaliknya, Abdulhadir – chief operating officer berusia 24 tahun di sebuah perusahaan konsultan pendidikan, dan seorang Muslim yang shalat di masjid setiap Jumat – adalah perwujudan masa depan Xinjiang yang diinginkan oleh pihak otoritas.

“Saya sangat senang bekerja di Beijing untuk menunjukkan pada banyak orang bahwa kaum Uighur adalah orang-orang hebat yang dapat melakukan berbagai hal besar,” ujarnya.

Ayahnya dulu adalah petani gandum miskin yang bangkit hingga memiliki jaringan supermarket di wilayah tersebut, dan Abdulhadir juga telah berkembang lebih jauh.

Pada usia 15 tahun, ia diterima di sebuah sekolah tinggi Beijing di mana ia menguasai bahasa Mandarin dan Inggris, dan kemudian mendapat gelar dalam bidang akuntansi di Binghamton University di negara bagian New York, dilanjutkan dengan MBA dalam bidang kewirausahaan.

Kini perusahaannya, yang membantu warga Tiongkok untuk bersekolah di luar negeri, memiliki sekitar 20 pegawai, 15 di antaranya berasal dari suku etnis Han, etnis yang dominan di Tiongkok, dan rekan bisnisnya adalah seorang wanita etnis Manchu.

Telegenik dan percaya diri, Abdulhadir telah diberitakan di media negara ini bersama dengan pelaku usaha muda lainnya sebagai contoh positif identitas Uighur.

“Anda tahu alasan saya ada di media adalah karena saya adalah ‘Uighur baik-baik’,” ujarnya. “Dan saya ingin Uighur lainnya melihat saya sebagai Uighur baik-baik juga.”

“Terserang panik”

Michael Clarke, seorang ahli tentang Xinjiang di Griffith Asia Institute di Australia, mengatakan bahwa telah lama ada Uighur “mayoritas yang terakomodasi” di wilayah tersebut yang bersedia menerima aturan Beijing selama pemerintah menggelontorkan sumber daya untuk pembangunan.

Namun kini, kaum mayoritas tersebut berisiko terkikis tidak hanya akibat “ekstrimisme militan, namun juga secara lebih luas dari tekanan berkelanjutan dari kebijakan negara atas beragam masalah,” ujarnya.

Kelompok hak azasi dan analis menuduh pemerintah Tiongkok melakukan represi budaya dan agama terhadap kaum Uighur – seperti larangan berhijab untuk wanita dan berjanggut untuk pria, juga larangan berpuasa pada bulan Ramadhan — yang memicu gejolak.

Bentrokan di Yarkand akhir Juli mengakibatkan 100 orang tewas, lapor media negara tersebut.

Imam masjid terbesar di Tiongkok, Id Kah di Kashgar yang dipilih pemerintah tewas ditusuk dan salah satu pelaku terduga, seorang Uighur berusia 19 tahun, diperlihatkan di saluran televisi negara pekan ini membuat pengakuan berencana membunuh sang imam karena “merusak agama”.

“Elemen pro-Tiongkok setempat terserang panik,” tulis Dilxat Raxit, seorang juru bicara Kongres Uighur Dunia (WUC) yang diasingkan, dalam sebuah surat elektronik setelah kejadian pembunuhan.

Di tengah lingkaran kekerasan, media negara Tiongkok pada hari Minggu mengumumkan bahwa delapan orang telah dieksekusi atas “serangan teroris”, termasuk tiga yang disebut “merencanakan” tabrakan mobil bunuh diri di Lapangan Tiananmen Beijing pada Oktober 2013.

Bukan jaminan

Abdulhabir mengatakan bahwa Uighur seharusnya menggunakan tenaga mereka untuk pendidikan, dan menghindari politik.

“Saya benci politik,” ujarnya. “Dan itulah mengapa keluarga kami baik-baik saja, karena kami jauh dari politik.”

Namun pendidikan yang baik bukan jaminan kesuksesan pada Uighur di Tiongkok, dan bahkan mereka yang mendapat penerimaan bisa berakhir dalam masalah.

Rebiya Kadeer, dulunya seorang pebisnis wanita kenamaan, berbenturan dengan otoritas dan kini memimpin WUC dari pengasingan. Ilham Tohti, seorang dosen unversitas yang mengkritisi kebijakan pemerintah di Xinjiang, dijatuhi hukuman atas tindakan separatisme, dan kemungkinan bisa mendapat hukuman mati.

Reza Hasmath, dosen politik Tionghoa di Oxford University, mengatakan bahwa Uighur sulit mendapat pekerjaan yang diinginkan karena kesulitan akses pada jejaring sosial Han, dengan adanya ketidakpercayaan keduanya terhadap satu sama lain.

“Apa yang kita lihat di Xinjiang adalah Han mendominasi semua status atas pekerjaan bergaji besar, sementara kaum minoritas, dan terutama Uighur, mendominasi status yang lebih rendah dan pekerjaan bergaji kecil,” ujarnya, bahkan saat tingkat pendidikannya setara.

“Berbagai hal yang terjadi di pasar tenaga kerja ini meningkatkan ketegangan,” ujarnya dalam sebuah presentasi di Beijing, yang membuat sebagian orang mencari jalan keluar dari tradisi etnis mereka sendiri.

“Bagi sebagian kaum minoritas yang tidak terlalu beruntung di pasar tenaga kerja, mereka beralih pada agama, mereka menggali kembali budaya sendiri,” ujarnya.

Di sebuah dinding di kantor Abdulhabir ada sepasang donna, atau topi tradisional Uighur berwarna-warni yang dikelilingi oleh panji dan emblem lembaga-lembaga Amerika tempat ia telah mengirim kliennya, termasuk sekolah bisnis Wharton.

Ia menyadari adanya ketegangan yang menyelimuti budaya dan agamanya, namun menyatakan bahwa kekerasan dan pembunuhan imam bukanlah jawabannya.

“Saya ingin orang-orang berpikiran lebih terbuka dan menyelesaikan masalah secara damai bersama,” ujarnya.

Leave a Reply
<Modest Style