Modest Style

Turki menghapus larangan berhijab di sekolah menengah negeri

,
Muslim girl studying in library
Siapa kira hijab bisa jadi topik yang begitu berwarna? Gambar: Fotolia

Oleh Burak Akinci

ANKARA (AFP) – Pihak oposisi sekuler Turki pada hari Selasa menuduh pemerintahan pimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan bertujuan memaksakan agama pada masyarakatnya setelah pemerintah menghapuskan larangan penggunaan hijab bagi siswi di sekolah menengah.

Erdogan, yang turut mendirikan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berlandaskan Islam yang saat ini berkuasa, telah lama dituding merusak nilai-nilai sekuler negara Turki oleh lawannya.

Namun penghapusan larangan berhijab di sekolah menengah negeri menghilangkan salah satu aspek yang paling signifikan dan paling banyak diperdebatkan dari sistem sekuler Turki.

Deputi Perdana Menteri Bulent Arinc, seorang sekutu dekat Erdogan, mengumumkan bahwa sebuah amandemen atas aturan berpakaian siswi telah dibuat dan akan membuat mereka tidak perlu lagi membuka kerudung.

“Saya tahu beberapa siswi sangat menantikan (perubahan) peraturan sekolah menengah ini,” ujar Arinc pada wartawan setelah rapat kabinet pada hari Senin.

Perdana Menteri Ahmet Davutoglu menyambut amandemen ini sebagai “demokratisasi” lebih jauh.

“Hal ini tidak seharusnya hanya dilihat sebagai penghapusan larangan berkerudung,” ujar Davutoglu pada televisi swasta NTV pada hari Senin.

“Telah ada upaya untuk kebebasan dan demokratisasi dalam setiap bidang.

“Kami memutuskan untuk melakukan pendekatan yang lebih liberal dalam bidang pendidikan atas hal yang telah memunculkan kekhawatiran selama beberapa waktu,” tambahnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Nabi Avci menyatakan bahwa “semua inisiatif yang dilakukan untuk kebebasan adalah hal yang baik”.

Ia menyebutkan bahwa pemerintah menanggapi “banyaknya permintaan yang dibuat oleh orangtua murid” dan menambahkan bahwa ketetapan baru ini tidak berlaku di sekolah dasar.

‘Kembali ke abad pertengahan’

Namun lawan AKP dan Erdogan menerima keputusan tersebut dengan keributan, melihatnya sebagai usaha terbaru menjatuhkan sistem sekuler Turki yang begitu dielu-elukan.

Pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk, mendasarkan republik pasca Ottoman tersebut pada pemisahan ketat antara agama dan negara.

“Kerudung Islami tidak memiliki tempat di sekolah-sekolah,” ujar kepala oposisi Partai Rakyat Republik (CHP) Kemal Kilicdaroglu.

Partai tersebut menyatakan akan memasukkan petisi ke mahkamah konstitusi untuk membatalkan keputusan yang dibuat.

“Mereka yang cukup umur (18) bebas memilih. Namun pemerintah tidak boleh memutuskan mewakili anak-anak di bawah umur,” ujar anggota pentolan CHP Engin Altay.

Kamuran Karaca, kepala persatuan pendidikan Egitim-Sen, mengatakan bahwa tindakan yang diambil akan menimbulkan “trauma” di Turki.

“Masyarakat Turki sedang kembali ke Abad Pertengahan melalui eksploitasi agama,” ujarnya.

Lawan Erdogan telah menunjukkan ketakutan adanya Islamisasi pesat pada masyarakat setelah ia memenangkan pemilihan presiden pada bulan Agustus setelah lebih dari satu dekade menjabat sebagai perdana menteri, yang mendorong penekanan atas agama dalam kehidupan di Turki.

Tahun lalu, Turki menghapus larangan yang telah lama berlaku atas penggunaan kerudung di institusi pemerintahan sebagai bagian dari reformasi demokrasi.

Para wanita juga sudah bisa mengenakan hijab di universitas serta sekolah menengah keagamaan. Sekolah-sekolah ini secara kontroversial tumbuh pesat di bawah pemerintahan AKP dan saat anak perempuan sudah diperbolehkan mengenakan kerudung sejak usia 12 tahun.

Istri dari kebanyakan menteri kabinet AKP mengenakan hijab, sebagaimana juga istri Erdogan, Emine, dan pasangan Davutoglu, Sare.

Para wanita Muslim yang taat mengenakan kerudung saat mencapai pubertas untuk menjaga aurat, sesuai tradisi Islam.

Terlepas dari tradisi sekuler Turki, hijab dikenakan secara luas oleh para wanita di wilayah-wilayah yang lebih konservatif di negara tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style