Modest Style

Pemerintah India diminta mundur terkait krisis perkosaan

,

India telah berupaya memperbaiki reputasi terkait kasus kekerasan terhadap wanita. AFP Photo / Raveendran

LUCKNOW, 12 Juni 2014 (AFP) – Polisi India Kamis lalu menyatakan sedang menginvestigasi rentetan kasus pemerkosaan dan penggantungan di wilayah utara yang bermasalah, seiring dengan tuntutan badan hak azasi wanita nasional yang meminta pemerintah negara bagian mengundurkan diri terkait krisis tersebut.

India telah berupaya memperbaiki reputasi terkait kasus kekerasan terhadap wanita, namun kemarahan masyarakat tersulut kembali bulan lalu dengan kematian dua gadis, usia 12 dan 14 tahun, yang diperkosa massal dan digantung di desa miskin mereka di Uttar Pradesh.

Pada hari Kamis, seorang wanita mengatakan bahwa ia telah diperkosa massal oleh empat petugas di sebuah kantor polisi di negara bagian tersebut, dan pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka juga sedang menginvestigasi kematian seorang gadis berusia 19 tahun yang, seperti kedua gadis di atas, ditemukan tergantung di pohon.

“Tubuhnya digantung menggunakan dupatta (selendang panjang) si gadis,” ujar inspektur polisi senior Ashutosh Kumar, seraya menambahkan bahwa insiden tersebut terjadi di sebuah desa di distrik Moradabad. Laporan informasi pertama atas orang-orang tak dikenal didaftarkan oleh saudara si gadis. Ia memiliki dugaan bahwa gadis tersebut dibunuh,” ujar Kumar pada AFP.

Kasus ini adalah yang terbaru dalam rangkaian penyerangan di Uttar Pradesh dengan kepala menteri Akhilesh Yadav berada di bawah tekanan politik untuk mengundurkan diri terkait caranya menangani hukum dan ketertiban.

Mamata Sharma, kepala Komisi Nasional Wanita di bawah negara bagian tersebut, mendesak Yadav untuk mengundurkan diri, dan menyebut kegagalan pemerintahannya dalam melindungi wanita “memalukan”. “Mereka (pemerintah) tidak hanya gagal dalam melindungi wanita namun bahkan tidak dapat mengendalikan kepolisian,” ujarnya pada NDTV.

Namun Yadav, berbicara dalam sebuah kunjungan ke New Delhi, menegaskan bahwa situasi tersebut tidak lebih buruk dibandingkan dengan di tempat lain di negara tersebut. “Hukum dan ketertiban merupakan masalah penting bagi negara bagian manapun. Pemerintah sedang berupaya untuk menjaga hukum dan ketertiban. Di UP, lingkungannya bagus dan hukum dan ketertibannya lebih baik daripada di beberapa negara bagian lain,” ujarnya.

Meningkatnya angka penyerangan di negara bagian utara tersebut menimbulkan demonstrasi di New Delhi, dengan aktivis hak azasi wanita menekan pemerintahan Yadav untuk mengambil “tindakan keras melawan para pelaku kejahatan”.

“Kami ingin Akhilesh Yadav bertindak sekarang. Selain itu, tidak boleh ada komentar menyedihkan yang tidak bertanggung jawab dari para pemimpin juga kepolisian,” ujar Shobha Ojha, presiden Kongres Wanita Seluruh India.

Tahun lalu India memperkenalkan undang-undang yang lebih keras terhadap pelaku tidak kejahatan seksual setelah adanya pemerkosaan massal seorang siswa di New delhi pada Desember 2012, sebuah kejadian yang memancing kecaman internasional terhadap perlakuan India terhadap wanita. Namun undang-undang tersebut, yang juga dirancang untuk mengedukasi dan meningkatkan kepekaan polisi pada kasus-kasus pemerkosaan, telah gagal menyurutkan arus kekerasan.

Penyerangan

Di barat daya Uttar Pradesh, wanita yang menyatakan bahwa dirinya mengalami pemerkosaan massal oleh empat petugas di kantor polisi menyebutkan bahwa penyerangan tersebut terjadi saat ia sedang mencari tahu tentang berita pembebasan suaminya.

“Pada pukul 11.30 malam saat tidak ada seorang pun di dalam ruangan, sub-inspektur membawa saya ke ruangannya dan memperkosa saya di dalam kantor polisi,” wanita tersebut, yang tidak dapat disebutkan namanya, mengatakan pada saluran CNN-IBN. Wanita tersebut melayangkan keluhan atas sub-inspektur dan tiga petugas lain, menyatakan bahwa ia diserang di distrik Hamirpur saat ia menolak memberi mereka sogokan, ujar polisi.

Meski pihak kepolisian menyatakan bahwa mereka sedang menginvestigasi, mereka meragukan pernyataan wanita tersebut, dengan mengatakan bahwa setidaknya satu petugas sedang tidak berada di kantor di waktu kejadian. Inspektur Jendral Distrik Amitabh Yash juga mengatakan bahwa hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa wanita tersebut tidak memiliki luka apapun, Press Trust of India melaporkan.

Seorang wanita berusia 45 tahun juga ditemukan menggantung di sebuah pohon di Uttar Pradesh pada hari Rabu dan keluarga mengklain bahwa ia telah diperkosa dan dibunuh. Suaminya menyebutkan bahwa ia diculik saat kembali menuju rumah di distrik Bahraich sebagai hukuman karena berupaya menghentikan penjualan alkohol di wilayahnya.

“Kami telah menahan empat dari lima pria tertuduh dan sedang menginterogasi mereka,” inspektur Happy Guptan mengatakan pada AFP Kamis.

Perdana menteri Narendra Modi Kamis mendesak seluruh politisi bekerja sama untuk melindungi wanita, dalam pernyataan pertamanya atas masalah ini sejak penggantungan kedua gadis menimbulkan kemarahan masyarakat. Ia memperingatkan para politisi untuk tidak “mempolitisasi perkosaan”, dan mengatakan bahwa mereka “mempermainkan harga diri wanita” dalam pidato pertamanya di hadapan parlemen setelah menduduki jabatan sejak pemilihan nasional bulan lalu.

Leave a Reply
<Modest Style