Modest Style

Pembunuhan Tak Terungkap, Potret Suram Perempuan Afghanistan

,
Dalam gambar yang diambil pada 27 Februari 2013 di Afghanistan ini, Mohammad Alam, kakak laki-laki Shakila, korban pembunuhan, memegang surat kabar lokal yang menampilkan foto adiknya di Kabul. Shakila dibunuh, ditembak di bagian punggung 16 bulan silam di rumah tempat dia bekerja sebagai pramuwisma seorang pejabat setempat yang kaya raya di provinsi paling maju di Afghanistan. Pembunuhnya belum ditemukan. Perjuangan keluarganya untuk meraih keadilan, ketidakberanian menuntut hukum qisas, sistem hukum yang lemah dan hukum dengan standar ganda menandai status perempuan Afghan sebagai warga kelas dua. AFP PHOTO/ SHAH Marai
Dalam gambar yang diambil pada 27 Februari 2013 di Afghanistan ini, Mohammad Alam, kakak laki-laki Shakila, korban pembunuhan, memegang surat kabar lokal yang menampilkan foto adiknya di Kabul. Shakila dibunuh, ditembak di bagian punggung 16 bulan silam di rumah tempat dia bekerja sebagai pramuwisma seorang pejabat setempat yang kaya raya di provinsi paling maju di Afghanistan. Pembunuhnya belum ditemukan. Perjuangan keluarganya untuk meraih keadilan, ketidakberanian menuntut hukum qisas, sistem hukum yang lemah dan hukum dengan standar ganda menandai status perempuan Afghan sebagai warga kelas dua. AFP PHOTO/ SHAH Marai

Oleh Joris Fioriti, Bamiyan, Afghanistan, 8 Maret 2013 (AFP) – Shakila dibunuh punggungnya ditembak 13 bulan silam di rumah tempat ia bekerja sebagai pelayan untuk pemimpin lokal yang kaya di salah satu provinsi paling maju Afghanistan.

Pembunuhnya tidak pernah ditangkap, dan pencarian keluarga Shakila akan keadilan memperjelas tali-temali yang kompleks antara belitan kemiskinan, diskriminasi terhadap kaum perempuan, dan budaya kebal hukum yang menodai sistem hukum negara itu.

Pada Hari Wanita Internasional yang lalu (8 Maret 2013), para aktivis mengungkapkan lambatnya kemajuan di Afghanistan bahkan setelah jutaan dolar bantuan dari dunia Barat dikucurkan dan adanya sedikit kemajuan setelah jatuhnya rezim garis keras Taliban tahun 2001.

Perginya koalisi NATO tahun depan juga menimbulkan kekhawatiran bahwa sedikit kemajuan perempuan yang telah dicapai akan terhapus lagi saat kelompok-kelompok konservatif berusaha merebut kembali kekuasaan di Kabul.

Shakila, yang saat kejadian usianya sekitar 16 tahun, menghabiskan enam bulan terakhir hidupnya bekerja untuk anggota dewan provinsi di Bamiyan, kota Afghanistan yang tenang yang berjarak 180 kilometer (110 mil) arah barat dari Kabul.

Keluarga Shakila miskin dan mereka membutuhkan uang dari upah pekerjaannya, tapi justru jasad Shakila ditemukan di rumah majikannya pada Januari 2012.

‘Penyelidik mengatakan ia ditembak di bagian punggung,’ kata abangnya, Mohammad Alam Sadiqat (18 tahun), kepada AFP. ‘Dan para dokter mengungkapkan ia telah diperkosa.’

Di negeri di mana keperawanan gadis yang belum menikah amat sakral, rasa malu memiliki anak perempuan yang diperkosa pun menambah beban keluarga Shakila, tapi mereka tidak berani mengajukan tuntutan hukum atas kejahatan seksual itu.

Sebagian besar perempuan korban pemerkosaan di Afghanistan tidak pernah secara terbuka menyebutkan nama pemerkosa, karena takut dikucilkan atau bahkan dibunuh, kata para aktivis.

Abang ipar Shakila, yang bekerja sebagai penjaga di rumah yang sama, dipenjara selama enam bulan terkait dengan pembunuhan itu, kemudian ia dibebaskan.

Esmail Zaki, koordinator badan amal setempat, lantas mulai menyelidiki kasus ini.

‘Kami menemukan bahwa jaksa agung dan sistem peradilan telah keliru mengambil arah penyelidikan. Mereka memiliki bukti bahwa pria itu (si saudara ipar) bahkan tidak ada di tempat perkara ketika peristiwa itu terjadi,’ kata Zaki kepada AFP.

Kasus pembunuhan Shakila tidak pernah dibawa ke pengadilan di Bamiyan. Sejak itu kasusnya dilimpahkan ke kantor jaksa agung di Kabul, yang tidak dapat dihubungi AFP.

Keluarga majikan Shakila menyangkal keterlibatan mereka dalam pembuhunan itu, dan polisi Bamiyan juga cuci tangan dari tanggung jawab mereka.

‘Kami sudah melakukan semua penyelidikan yang harus dilakukan. Kami sudah menyelesaikan kasus itu dan menyerahkannya ke pengadilan,’ kata wakil kepala polisi provinsi Mohammad Ali Lagzi.

Seorang pejabat senior di pemerintahan setempat yang menolak menyebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa kemiskinan keluarga Shakila memperkecil kemungkinan mereka mendapatkan keadilan.

‘Kasus ini telah dibawa ke kantor jaksa agung di Kabul tetapi tampaknya tidak banyak yang sudah dilakukan untuk memberikan keadilan kepada keluarganya,’ katanya.

‘Pembunuhan itu terjadi di rumah seorang anggota dewan provinsi,’ ia menambahkan. ‘Mereka adalah orang-orang berpengaruh.’

Bulan Desember lalu, PBB mengatakan Afghanistan telah membuat kemajuan dalam melindungi perempuan dari kekerasan dan menerima peningkatan kasus yang dilaporkan.

Namun, di 16 dari 34 provinsi di mana PBB dapat memperoleh rincian kasus, hanya 21 persen dari 470 laporan kekerasan terhadap perempuan yang menghasilkan putusan.

‘Situasinya sangat sulit,’ kata Ingibjorg Gisladottir, perwakilan PBB untuk perempuan di Kabul.

‘Terlihat kurangnya kemauan politik yang tulus untuk mengambil tindakan yang dapat mengubah situasi perempuan. Juga, ada budaya kebal hukum di sini.

‘Hampir tidak mungkin pelaku kejahatan terhadap perempuan diminta bertanggung jawab. Sebagian pria menganggap perempuan layaknya properti, seperti tanah atau uang.’

Bamiyan bisa dibilang provinsi paling maju di Afghanistan. Provinsi ini dipimpin oleh satu-satunya gubernur perempuan, Habiba Sarobi, dan memiliki proporsi tertinggi anak perempuan yang bersekolah—45 persen dari 135.000 anak.

Pemerintah lokal mengatakan kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan meningkat dari 48 kasus pada tahun lalu menjadi 57 kasus pada tahun 2012.

‘Ini berkat kampanye kesadaran masyarakat,’ kata Fatima Kazemi, kepala urusan wanita di pemerintah provinsi.

‘Kini semakin banyak perempuan mengetahui bahwa ada banyak orang yang dapat menolong mereka, memberikan keadilan kepada mereka, atau membela hak-hak mereka. Karena itu semakin banyak perempuan yang pergi ke polisi, pihak yang berwenang, atau kelompok-kelompok pembela hak asasi saat menghadapi kekerasan,’ tambahnya.

Ada pula tanda-tanda kecil perubahan di tingkat nasional.

Komisi Independen Pembela Hak Asasi Afghanistan (AIHRC) mengatakan terjadi peningkatan tajam dalam jumlah kasus yang dilaporkan: 5.701 dalam 11 bulan pertama pada tahun berjalan, yang dimulai pada 21 Maret 2012, jika dibandingkan dengan 4.400 kasus pada tahun sebelumnya.

Latifa Sultani, pekerja AIHRC, mengatakan perempuan perkotaan di Afghanistan lebih sadar akan hak-hak asasi mereka.

‘Namun perempuan di provinsi-provinsi terpencil tak memiliki tempat untuk mengadu,’ katanya, menyuarakan rasa frustrasinya akan standar ganda yang mengorbankan perempuan.

‘Jika seorang pria membunuh istrinya, dia dipenjara selama dua tahun. Tapi jika seorang perempuan membunuh suaminya, ia bisa dipenjara sampai 16 tahun,’ katanya.

Leave a Reply
<Modest Style