Modest Style

Pelajaran menghadapi Islamofobia dari Jepang

,

Sebuah pertemuan di ruang kelas di Tokyo memperlihatkan pada Aseel Zaher bahwa cara terbaik untuk menghadapi rasa takut menjadi korban Islamofobia adalah dengan memberi contoh yang baik.

Fantastic island
Kemampuan ada di tangan kita. (Gambar: Fotolia)

Hari ini adalah hari kesembilan sejak kepindahan sementara saya ke Jepang. Meski masih akan terus mendapat pengalaman baru, dalam berbagai hal saya terilhami oleh cara hidup orang Jepang, ada istiadat mereka, budaya mereka, dan lain sebagainya. Pada salah satu kelas bahasa, sensei atau guru kami mengarahkan pembicaraan ke kebudayaan Jepang dan kontribusi Jepang pada dunia. Seseorang mengangkat tangan mereka dan dengan salah menyebut “angka”, yang oleh guru kami dengan cepat disanggah, “Bukan, bukan, itu kontribusi orang Arab.”

Bagi seorang Arab Muslim yang tinggal di Tokyo (kejadian yang langka di kota metropolitan besar ini) yang perlahan mulai beradaptasi dengan keseharian orang Jepang, saya merasa mendapat pengakuan.

Begini, orang Jepang hampir tidak tahu apa-apa tenang dunia Muslim, apalagi tentang berbagai kelompok etnisnya (saya yakin kebanyakan orang di dunia juga kesulitan memahami hal ini). Jepang adalah negara yang telah mendaki tangga menjadi salah satu dari ekonomi terbesar dunia, sebuah bangsa yang memimpin bidang teknologi masa kini, sekaligus menjadi bangsa yang homogen secara budaya pada umumnya.

Karenanya, saat seorang guru bahasa Jepang biasa menyebutkan bahwa sistem angka pertama kali diperkenalkan oleh umat Muslim berabad-abad yang lalu, muncul kesedihan mendalam pada diri saya. Maafkan atas banjir emosi yang dramatis ini, tetapi memikirkan sejarah Jepang dan secara bersamaan menyaksikan keadaannya kini hampir-hampir terasa tidak nyata.

Pasca Perang Dunia II, Jepang menderita kelaparan parah, kehancuran prasarana, masyarakat yang terpecah, dan perekonomian yang hampir-hampir nihil. Kini mereka memimpin, dengan penghasilan rerata yang lebih tinggi dibandingkan dengan hampir seluruh negara Asia, memiliki standar hidup tinggi, tingkat melek huruf tinggi, pelayanan dan kesempatan yang luar biasa bagi warga negaranya. Tidak lantas berarti keseluruhan masyarakat Jepang hidup mewah (seperti beberapa negara Arab yang saya berupaya tidak sebut namanya). Namun sebisa mungkin mereka hidup untuk berkontribusi pada perkembangan masyarakat dan negara mereka. Sepertinya hanya ada sangat sedikit tempat di dunia ini yang belum merasakan manfaat teknologi Jepang, dan bahkan lebih sedikit lagi negara yang tidak ingin memiliki ikatan ekonomi dan diplomatik dengan Jepang.

Setiap hari saya beertemu dengan orang asing dari Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika yang datang untuk mempelajari bahasa Jepang dan budayanya, mungkin dengan harapan untuk bisa bekerja di dalam lingkungan bilingual atau bikultural. Jepang telah mendapat rasa hormat dan kekuatan banyak negara di dunia melalui kontribusi mereka.

Coba saya tanya, apa yang telah kita, umat Muslim, berikan untuk dunia hari ini? Sudahkah kita beranjak dari penemuan dan penelitian Abad Pertengahan atau masihkah kita membangga-banggakan berbagai pencapaian orang-orang yang meninggal bahkan sebelum masa modern?

Saya mengerti situasi saat ini membuat kita merasa tidak aman, tidak diinginkan, dan terasingkan. Kejadian yang menakutkan di Australia jelas memperlihatkan bahwa histeria tidak menguntungkan pihak manapun. Satu-satunya hal yang bisa umat Muslim lakukan saat ini adalah menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik dalam bidang atau lingkungan kita berada.

Jangan terdistraksi. Lupakan penampilan di jalan-jalan, pandangan atau terkadang hinaan lisan. Anda bertanggung jawab atas diri Anda sendiri. Anda harus menjadi diri Anda yag terbaik, terlepas dari apakah Anda seorang ibu, ayah, putri, putra, tetangga, pekerja, seniman, guru, ilmuwan, pelajar, atau pemilik toko.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran3:110)

 

Artikel ini pertama kali terbit di laman Facebook penulis

Leave a Reply
<Modest Style