Modest Style

Masjid-masjid di New Orleans

,

Sejarah Islam di “The Big Easy” mungkin akrab di telinga banyak komunitas Muslim di AS, namun Theresa Corbin menunjukkan daya tarik khasnya.

Masjid Abu Bakar Al-Siddiq dengan minaret dan arsitektur Timur Tengahnya menghadirkan suasana Islami di kota multikultural ini
Masjid Abu Bakar Al-Siddiq dengan minaret dan arsitektur Timur Tengahnya menghadirkan suasana Islami di kota multikultural ini

Penyebaran Islam telah menjamur ke seluruh penjuru dunia. Kini Muslim tinggal di berbagai sudut dunia, baik di negara-negara kecil di Amerika Selatan hingga desa-desa terpencil di Alaska.

Di kedalaman selatan AS, terdapat sebuah kota yang kaya dengan sejarah, tokoh, dan suasana terbuka. Adanya percampuran dari banyak kebudayaan dan sikap yang santai membuat New Orleans, Lousiana tempat yang subur bagi Islam untuk mengakar.

Kisah komunitas Muslim yang tinggal, bekerja, dan sukses di New Orleans sangat berliku layaknya sungai yang bermuara ke pelabuhan New Orleans. Kisah ini bermula seperti biasanya, dengan imigran Muslim dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara di akhir abad ke-19 hingga sekarang. Para imigran ini terus berdatangan dengan berbagai alasan, mulai dari perdagangan hingga pendidikan.

Namun kisah Islam di New Orleans berubah dengan munculnya The Nation of Islam (sebuah agama yang didirikan di AS dengan tujuan mendidik dan meningkatkan perkembangan bagi warga Amerika keturunan Afrika). Di dalam kota dengan populasi Amerika Afrika yang besar dan sejarah panjang perbudakan orang Afrika, The Nation of Islam menerima banyak warga Amerika Afrika dan mualaf yang dulunya beragama Kristiani di awal abad ke-20.

Perpindahan agama massal ke Nation of Islam ini mengubah masa depan Islam melalui kejadian mengejutkan lainnya. Banyak warga Amerika Afrika yang memasuki Nation of Islam mengikuti Islam arus utama di pertengahan abad ke-20, yang meningkatkan jumlah penganut Islam arus utama secara signifikan.

Dengan banyaknya Muslim di New Orleans yang berasal dari berbagai mazhab dan latar belakang sosial ekonomi dan ras yang berbeda, sulit membayangkan komunitas Muslim di New Orleans dapat bersatu. Namun posisi kota yang berada di bawah garis laut dan dalam garis badai ganas memaksa para anggota komunitas melakukan hal ini.

Kini Anda dapat melihat sisa-sisa kisah Islam di New Orleans dari masjid-masjid yang tersedia bagi para anggota komunitas.

Masjid Abu Bakr Al-Siddiq

Masjid penting bernama Masjid Abu Bakr dengan menara dan arsitektur bergaya Timur Tengah ini menandai keberadaan Islam di kota multibudaya ini. Bangunannya dirancang dan dibangun dengan tujuan untuk melayani komunitas Muslim di wilayah tersebut dan telah berdiri sejak 1988.

Tidak seperti banyak masjid lain di Amerika, pengguna Masjid Abu Bakr tidak berniat menciptakan rumah yang jauh dari rumah. Dan mereka memang tidak akan mampu melakukannya jika mereka mau karena jemaahnya yang berasal dari berbagai negara termasuk Pakistan, India, dan negara-negara di Timur Tengah juga Afrika Utara, beserta para mualaf.

Namun keadaan tidak selalu demikian. Sebagaimana dituliskan Aman Ali di blognya 30 Days 30 Mosques: “Masjid Abu Bakr merupakan satu dari masjid-masjid di wilayah New Orleans yang tidak terkena dampak Katrina. Sebelum badai, komunitas Muslim di wilayah ini sangat terkotak-kotak. Seperti halnya banyak komunitas di negara ini, orang-orang Arab hanya mengunjungi satu masjid tertentu, orang-orang Asia Tenggara ke masjid lainnya, dan seterusnya. Namun setelah badai, Masjid Abu Bakr menjadi tempat untuk menyatukan semua orang, tentu saja karena masjid tersebut merupakan salah satu tempat di mana berbagai jenis orang dapat beribadah.”

Dan ternyata ada hikmah yang dapat diambil dari badai yang melegenda dahulu. Komunitas Masjid Abu Bakr tinggal, belajar, dan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan di wilayah tersebut dengan menyatukan kekuatan dengan komunitas agama lain dalam membantu mereka yang membutuhkan. Atau dengan mengadakan perjalanan pendakian di sepanjang Sungai Mississipi, tur rawa-rawa, dan kegiatan komunitas lainnya, yang menciptakan generasi baru Muslim New Orleans yang memiliki rasa menjadi seorang warga Amerika, menjadi bagian dari kota mereka, dan menjadi bagian dari komunitas Islam multibudaya.

Pusat Islam New Orleans

Masjid ini terletak di tengah kota New Orleans, dekat dengan French Quarter yang bersejarah. Dengan lokasi di tengah kota, masjid ini digunakan oleh Muslim setempat yang memiliki perusahaan atau bekerja di kota untuk shalat zuhur di jam makan siang. Bangunan bata ini terletak di wilayah New Orleans yang terkena dampak terberat Badai Katrina. Meski masjidnya sendiri berhasil bertahan dengan bantuan komunitas Muslim yang tangguh (yang perusahaannya kebanyakan mulai beraktivitas segera setelah badai), banyak jemaah masjid setempat kehilangan rumahnya karena angin dan banjir. Dan angka yang dicapai belum mencapai jumlah pra-Katrina.

Kendati begitu, jemaah yang mayoritas Amerika Afrika dan Timur Tengah mengadakan sholat berjamaah rutin di aula shalat lantai atas yang luas, yang menjadi perekat utama komunitas Muslim di New Orleans.

Masjid Muhammad Al-Islam

Saat Anda menyeberangi danau menuju pesisir utara New Orleans, Anda akan mencapai sebuah kota sunyi yang memiliki masjid kecil dengan sejarah yang mengagumkan. Masji Muhammad Al-Islam didirikan di sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid oleh warga Amerika Afrika anggota Nation of Islam. Pendiri dan jemaah masjid ini kemudian mengikuti jejak Malcolm X menjadi Islam Sunni.

Masjid ini unik karena didirikan dan masih dikelola oleh mualaf Islam arus utama. Kini, masjid ini membuka pintu bagi Muslim dari seluruh latar belakang dan telah menjadi tempat bagi warga setempat yang menjadi mualaf.

Masjid ini istimewa bagi keseluruhan komunitas Muslim di New Orleans karena merupakan tempat bagi satu-satunya pemakaman Islam di wilayah tersebut.

Karena batas kota New Orleans benar-benar berada di bawah garis laut, jenazah warga tidak dapat dimakamkan di bawah tanah. Warga setempat telah memahami kenyataan mengerikan ini: karena tanah yang terus-menerus basah, jenazah tidak dapat bertahan lama. Karenanya, peraturan kota mengharuskan seluruh pemakaman dilakukan di ruangan di atas tanah.

Wilayah dan peraturan yang dibuat berdasarkan keadaan wilayah membuat komunitas Muslim kebingungan. Karena keinginan untuk mengikuti peraturan Islam mengenai pemakaman bawah tanah, mereka memeriksa wilayah pesisir utara danau di mana tanahnya berada sedikit di atas garis laut. Kini, Muslim New Orleans harus menuju ke tempat ini untuk dimakamkan di dekat Masjid Muhammad Al-Islam.

Leave a Reply
<Modest Style