Liputan bias kondisi Gaza memancing simpati untuk Israel

,

Minimnya peliputan yang seimbang dan sumber media independen menciptakan kisah yang sama sekali berbeda tentang pendudukan Israel atas Palestina, tulis Sya Taha.

1702-WP-Gaza-by-Sya-iStock
(Gambar: iStock)

Saya yakin kita semua melihat segala sesuatu dari sudut pandang kita masing-masing. Jadi saya pikir akan sangat sulit sekali, bahkan hampir tidak mungkin, bagi siapapun untuk benar-benar bersikap obyektif. Meski begitu, berusaha memberikan pemahaman yang seimbang secara umum merupakan cara yang baik untuk melatih diri menempatkan diri di posisi orang lain dan membangun empati.

Namun untuk media, mengupayakan keseimbangan haruslah menjadi tujuan utama mereka, terutama saat meliput sebuah isu dengan sejarah panjang seperti konflik Israel-Palestina. Karena menunjukkan bias yang konsisten dalam pemberitaan adalah sebuah propaganda. Namun, kejadian-kejadian terbaru menunjukkan bahwa hal yang lebih buruk daripada bersikap tidak seimbang adalah berpura-pura seimbang, sembari menyembunyikan kepentingan kebijakan ekonomi dan luar negeri.

Lihatlah berbagai kepala berita kantor-kantor berita arus utama. Jika Anda tidak menyadari ketimpangan kekuatan militer antara Israel dan Gaza, dan yang Anda lihat hanyalah kepala berita dari Wall Street Journal (roket Gaza semakin memasuki Israel), Los Angeles Times (roket Palestina semakin memasuki Israel), dan NBC News (Israel dan Hamas saling meluncurkan misil seiring berkembangnya perang Gaza), Anda mungkin dapat dimaafkan karena menyangka ini merupakan perang antara dua pihak setara yang kebetulan bertarung di atas tanah Gaza, dengan Israel sebagai pihak yang mengalami kebih banyak kesengsaraan.

[Not a valid template]

Serangan-serangan terhadap Gaza ini menjadi pokok pemberitaan dengan keteraturan yang mengejutkan – dalam periode tiga tahunan. Sementara itu terjadi kekerasan fisik dan struktural yang terus-menerus di Palestina setiap harinya yang tidak menjadi pemberitaan internasional. Setiap kali, media arus utama seakan membingkai serangan udara besar-besaran yang terjadi sebagai tindakan negara “cinta damai” yang mempertahankan diri dari “sayap bersenjata” sebuah kelompok “militan” (nilai tambahan untuk Anda jika dapat menebak siapa-siapa saja pihak yang dimaksud).

“Perlawanan terhadap pendudukan adalah hak azasi berdasarkan hukum internasional”

Kenyataannya adalah masyarakat yang tinggal di Wilayah Palestina yang Diduduki hanya memiliki sistem pemerintahan mandiri dalam bentuk Otoritas Nasional Palestina. Hamas merupakan otoritas terpilih dan pemerintahan de facto di Jalur Gaza, dan kemungkinan merupakan satu-satunya pemerintahan yang beroperasi di bawah lapisan hukum lain di atasnya: hukum Israel. Bersimpati pada Israel menjadi lebuh mudah jika Hamas terus-menerus digambarkan sebagai organisasi teroris, dengan anggota yang adalah “militan”.

Selain itu ada pula taktik wajib yang menempatkan gambar dampak mengerikan yang terjadi di Palestina dengan kepala berita yang mengesankan Israel sebagai korban. Electronic Intifada menunjukkan blunder oleh ABC News, yang menyebutkan bahwa gambar dua pria di tengah puing-puing Gaza sebagai “keluarga Israel berusaha menyelamatkan apapun yang mereka miliki”. Hal ini memancing munculnya cuit satiris dengan tagar #TweetLikeABC.[i] ABC News telah meminta maaf secara langsung atas kesalahan yang mereka lakukan.

Di Singapura, kebanyakan warga minoritas Melayu menunjukkan simpati terhadap Palestina. Laman Facebook “Singaporeans stand with Palestine” (Warga Singapura bersama Palestina) telah mendapat hampir 25.000 like. Sementara itu, pejabat pemerintahan menyatakan posisinya, disampaikan melalui harian setempat The Straits Times dan saluran berita Melayu Suria, bahwa “serangan roket terhadap Israel harus segera dihentikan” dan bahwa Israel harus “benar-benar menahan diri dan melakukan yang terbaik untuk menghindari jatuhnya korban tak bersalah”. Warga Singapura mengirim cuitan berisi kegeraman atas ketiadaan desakan terhadap Israel untuk berhenti sama sekali membunuhi warga Palestina.[ii] Beberapa komentator mengungkit ikatan diplomatik dan perdagangan Singapura dengan Israel yang telah berlangsung lama.

BBC pun sama saja dalam meliput serangan udara Israel terbaru, yang dinamai Operation Protective Edge, sebagai tindakan pertahanan diri terhadap “peluncuran roket dari Gaza”. Mantan koresponden BBC Tim Llewellyn pekan lalu menulis kepada The Guardian untuk mengkritisi penyajian yang keliru ini. Ia menyatakan bahwa ruang berita BBC “seharusnya sudah tahu bahwa Israel secara terus-menerus melakukan serangan udara dan persenjataan terhadap Gaza, yang biasanya dilakukan tanpa provokasi sebelumnya, terhadap wilayah yang selalu berada di bawah kepungan bersenjata.”

Ia mengakhiri suratnya dengan komentar atas obyektivitas buatan BBC. “Dengan sedih saya hanya dapat mengatakan bahwa sebagai mantan koresponden BBC Timur Tengah saya kehilangan harapan atas minimnya ketidakberpihakan yang entah disengaja maupun tidak yang tampak pada seluruh perlakuan Anda atas [pendudukan] ini, yang sangat mendasar dalam menggerakan dan membelah orang-orang di seluruh dunia.”

Dalam komentarnya atas kekuatan militer Israel versus Gaza, aktivis hak azasi manusia Israel Elizabeth Tsurkov menekankan ketimpangan persenjataan yang luar biasa.

Dalam sebuah surat terbuka untuk BBC oleh Palestine Solidarity Campaign, organisasi aktivis tersebut mengingatkan kantor berita BBC bahwa peliputan mereka tidak memberikan konteks apapun dalam kejadian yang sedang berlangsung.

“Gaza tidak memiliki angkatan bersenjata darat, udara, maupun laut, sementara Israel memiliki salah satu militer terkuat di dunia […] Saat Anda menyajikan penjajah sebagai korban, dan yang terjajah sebagai penyerang, kami ingin mengingatkan Anda bahwa perlawanan terhadap pendudukan adalah hak azasi berdasarkan hukum internasional. Dan kami ingin Anda mengingat bahwa pendudukan, pengepungan, dan penghukuman kolektif atas Gaza oleh Israel bukan perlawanan.”

Bahkan media sosial pun juga memiliki kesalahan. Menurut Electronic Intifada, sebuah persatuan mahasiswa Israel di sebuah universitas swasta, IDC Herzliya, telah mendirikan sebuah “ruang perang hasbara”, tempat 400 sukarelawan bekerja dalam 30 bahasa untuk menyebarkan “poin-poin pembicaraan yang disetujui oleh pemerintah” dan berkomentar di foto-foto menyesatkan untuk “menumbuhkan keraguan terhadap gambar-gambar nyata tentang kekejaman di Gaza yang banyak bermunculan”.

“Orang akan lebih cepat mempercayai kebohongan besar daripada yang kecil”

Karena terus-menerus menemukan contoh-contoh kasus yang mulai tampak sebagai kekeliruan yang disengaja, saya mulai bertanya-tanya apakah hal ini memang sudah diatur. Jelas beberapa kantor berita kemungkinan hanya terjebak di dalam penyajian yang ada karena mereka menerbitkan ulang berita dari kantor yang lebih besar. Saat berkeluh-kesah pada suami, ia menberi tahu saya tentang sebuah teknik propaganda dari Perang Dunai II yang dinamakan ‘kebohongan besar’.

Cara kerjanya seperti ini: jika Anda menyampaikan sebuah kebohongan yang begitu absurd, orang-orang akan mempercayai Anda. Dengan kata lain, “Tidak ada yang akan berbohong tentang hal semacam itu, maka itu pasti betulan.” Jeffrey Herf, profesor sosiologi dan ilmu politik Amerika, menghabiskan bertahun-tahun untuk menelliti kampanya anti-Semitis hasil propaganda pemerintahan Nazi. Dalam buku The Jewish Enemy ia menyatakan bahwa Nazi sering mengulang-ulang naratif palsu tentang Jerman sebagai korban tak berdosa dari kekerasan Yahudi. Berdasarkan naratif tersebut, Yahudi-lah yang pertama kali berencana menyerang Jerman, jadi pembunuhan massal Yahudi oleh Nazi dilakukan hanya sebagai bentuk pertahanan. (Untuk memperjelas: pembunuhan massal Yahudi oleh Nazi sama sekali tidak dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri apapun.)

Menurut Kantor Dinas Intelijen AS, “orang akan lebih cepat mempercayai kebohongan besar daripada yang kecil; dan jika Anda mengulanginya dengan cukup sering, cepat atau lambat, orang akan mempercayainya”. Taktik Adolf Hitler-lah yang sedang dibicarakan.

Jangan jadi konsumen media yang pemalas, yang mengandalkan potongan informasi dan gambaran singkat dan bukannya pola pikir kritis. Pemikiran bahwa berbagai hal memang sengaja disajikan secara keliru bisa jadi merupakan pemikiran yang sangat mengerikan hingga kita pikir hal tersebut tidak mungkin benar. Sadarlah dan gunakan nikmat yang Tuhan berikan berupa kemampuan berpikir rasional. Dan barangakali Anda akan menemukan berbagai ‘kebohongan besar’ sendiri.

________________________________________

[i] ‘Outrage turns to satire after ABC News misidentifies Palestinian victims’, Al Jazeera, 10 Jul 2014, dapat dilihat di sini
[ii] ‘Singapore citizens support Gaza, authorities in favour of Israel’ (in Malay), Astroawani, 16 Jul 2014, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik