Modest Style

Ketenangan menyelimuti Gaza pasca gencatan senjata

,
PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-GAZA-TRUCE
Keluarga Palestina dalam perjalanan ke rumah dengan barang-barang mereka di Shejaiya pada 27 Agustus 2014. AFP Photo / Roberto Schmidt

Oleh Sakher Abu el Oun

GAZA CITY (AFP) – Penjaga toko kembali buka dan nelayan kembali ke laut pada hari Rabu, saat 1,8 juta warga Gaza beramai-ramai menghela napas lega pasca penanda tanganan perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri 50 hari pertumpahan darah.

Yang paling nyata adalah munculnya aura harapan di jalan-jalan setelah gencatan senjata dadakan diberlakukan pada pukul empat sore GMT pada hari Selasa, mengakhiri tujuh pekan kekerasan yang menewaskan lebih dari 2.140 jiwa di Gaza dan 70 orang di pihak Israel.

“Kemenangan ini milik kita,” ujar Ehab Abu Jalal, pria usia 30an, penuh semangat.

“Kami telah mengalami cukup banyak perang, tidak seorang pun harus mengalami apa yang telah kami alami karena perang,” ujarnya.

“Gencatan senjata ini harus bertahan.”

Sesuai tuntutan perjanjian, Israel berjanji meringankan larangan di perbatasan-perbatasan dengan Gaza, yang menurut seorang pejabat Palestina akan berujung pada pengangkatan blokade yang telah berlangsung selama delapan tahun.

Meski pembicaraan mengenai isu penting seperti tuntutan Hamas atas pelabuhan dan bandara di Gaza ditunda untuk selanjutnya dibicarakan di Kairo bulan depan, disebutnya kedua hal tersebut sudah merupakan alasan yang cukup untuk bersikap opimis.

“Kami akan memiliki pelabuhan dan bandara, perbatasan akan dibuka, blokade akan diangkat, dan kami akan bisa hidup bermartabat,” ungkap Abu Jalal dengan suka cita.

Saat ini, ia menanggung hidup keluarganya, juga keempat saudaranya, semuanya pekerja bangunan yang menganggur, dengan penghasilannya sebagai pandai besi.

[Not a valid template]

Kesempatan untuk kembali bekerja

Israel pertama kali memberlakukan blokade atas Jalur Gaza yang miskin pada tahun 2006 setelah kaum militan menangkap seorang tentara dalam penyerangan mematikan antar perbatasan.

Setahun kemudian, saat Hamas mendapat kuasa penuh atas wilayah tersebut, Israel memberlakukan pelarangan lebih ketat atas masuknya barang-barang dan menghalangi impor bahan bangunan dengan alasan dapat digunakan oleh militan untuk membangun benteng.

Bagi Abu Jalal, akhir blokade berarti masuknya bahan-bahan baru dan kesempatan baginya dan para saudaranya untuk kembali bekerja.

Perjanjian gencatan senjata juga mengikutsertakan perluasan kawasan melaut hingga enam mil laut yang berlaku sebelum matahari terbit pada hari Rabu.

“Itu sebenarnya adalah batas lama sebelum adanya perang, jadi untuk saat ini kami belum benar-benar mendapatkan apa-apa,” ujar Nizar Ayash dari persatuan nelayan Gaza.

Pada siang hari, mesin-mesin perahu nelayan beraksi untuk pertama kalinya dalam sekian pekan, saat nelayan pergi ke laut Mediterania dan dengan bersemangat menghidupkan kembali mata pencaharian mereka.

“Saat perang, jika nelayan pergi ke laut, bahkan jika hanya 100 meter, Israel akan menembakinya,” ujar Ayash.

Kini, karena bisa melaut, itu artinya mereka bisa kembali mendapat penghasilan yang cukup untuk memberi makan keluarga.

Seorang nelayan berseri-seri saat memamerkan ikan tangkapan pertamanya hari itu.

Meski perjanjian menyebutkan perluasan bertahap untuk batas melaut hingga 12 mil laut, batas tersebut masih jauh dari 20 mil yang ditetapkan oleh perjanjian perdamain Oslo 1994, yang telah diturunkan secara drastis oleh Israel.

“Nelayan Palestina menuntut hak mereka untuk melaut hingga 20 mil dari pesisir,” ujar Ayash, sambil menambahkan bahwa yang mereka benar-benar inginkan adalah Israel “berhenti mengatur semua gerakan kami”.

Nelayan lain, Abu Ahmed, tidak begitu optimistis.

“Untuk saat ini, tidak ada yang berubah pada prakteknya dan kami sudah terbiasa menyaksikan musuh meningkari janji-janjinya,” katanya pada AFP.

“Dengan semua pengorbanan yang telah kami lakukan, kami harus bisa melaut lebih dari enam mil,” ujarnya.

PALESTINIAN-GAZA-ISRAEL-CONFLICT-TRUCE
Anak-anak Palestina menyalakan lilin di samping reruntuhan gedung di Gaza City pada 27 Agustus 2014 setelah diberlakukannya gencatan senjata jangka panjang setelah adanya perjanjian yang dielukan Israel dan Hamas sebagai “kemenangan” dalam perang 50 hari. AFP Photo / Mohammed Abed

Dan memang pengorbananlah yang telah mereka berikan. Selama 50 hari kekerasan yang terjadi, lebih dari 2.140 warga Palestina tewas, lebih dari 11.000 terluka, dan lebih dari setengah juta terusir dari tempat tinggalnya, sementara ratusan rumah hancur lebur.

Jawad Ayad kembali ke rumah yang telah ditinggalkannya selama 38 hari pada hari Rabu.

Meski hancur sebagian, ia mengatakan bahwa “kesabaran” Gaza pada akhirnya membuahkan hasil.

“Kami telah melalui hari-hari yang sulit dan mebuat banyak pengorbanan, namun Tuhan telah memberi kami kemenangan,” ujar Ayad, pria berusian 50an.

“Saya harap perang ini adalah yang terakhir.”

Leave a Reply
<Modest Style