Modest Style

Setelah 10 tahun, keluarga korban tsunami Aceh menemukan dua anaknya

,
INDONESIA-EARTHQUAKE-SOCIAL
Septi Rangkuti (kedua dari kiri) memeluk putranya di sebelah sang istri, Jamaliah (kanan atas) dan putri Raudhatul Jannah (kiri), setelah bersatu dengan putranya yang hilang, Arif Pratama Ranguti (kanan bawah), di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat pada 19 Agustus 2014. Anak lelaki tersebut terbawa arus tsunami hebat tahun 2004 dan telah kembali bersatu dengan keluarganya sepuluh tahun setelah disangka meninggal. Saudarinya Raudhatul Jannah juga kembali bersatu dengan keluarga pada 7 Agustus 2014. Arif dan Raudhatul Jannah terseret gelombang besar yang menghantam rumah mereka di Aceh Barat pada 26 Desember 2004. Foto: AFP

PAYAKUMBUH (AFP) – Pasangan Indonesia yang telah bersatu kembali dengan putri mereka 10 tahun setelah musibah tsunami merampasnya dari tangan mereka pada hari Selasa menyatakan telah menemukan putra mereka yang juga terseret arus.

Pertemuan mengharukan Jamaliah dan suaminya Septi Rangkuti pada hari Senin dengan remaja yang mereka yakini sebagai putra mereka yang hilang menyatukan kembali keluarga tersebut untuk pertama kalinya setelah 10 tahun.

Arif Pratama Rangkuti, kini berusia 17 tahun, terseret arus bersama saudarinya ketika tsunami Samudera Hindia menghantam dan meluluhlantakkan Provinsi Aceh pada 2004, wilayah paling barat Indonesia.

Saudari Arif, Raudhatul Jannah, telah kembali bersatu dengan orangtuanya pada bulan Juni setelah seorang kerabat melihat seorang anak gadis di sebuah kampung di Aceh yang mirip sekali dengannya.

Pada hari Selasa, pasangan ini mengatakan bahwa anak lelaki mereka juga sekarang telah kembali, berkat peliputan media besar-besaran tentang pertemuan “ajaib” mereka dengan sang putri.

“Betul, ia putra kami. Sekarang kami sedang bersiap membawanya pulang,” ujar Rangkuti pada AFP. Ia menceritakan bahwa sang anak telah hidup sebagai anak jalanan di Sumatera selama bertahun-tahun.

Jamaliah, berbicara dari Payakumbuh, Sumatera Barat, menangis saat merangkul sang remaja, yang tampak malu dan terkejut.

“Saya berdoa setiap malam, karena di dalam hati saya yakin anak saya masih hidup,” ujarnya pada wartawan.

“Suami saya selalu gelisah di rumah karena hal ini. Ia selalu mengatakan bahwa anak kami masih hidup.”

Keluarga tersebut bersatu kembali di rumah sepasang suami lain yang menemukan sang remaja lelaki tidur di luar warung internet yang mereka kelola di Payakumbuh.

Ia telah hidup sebagai gelandangan selama bertahun-tahun, tidur di luar pasar dan toko kosong.

Lana Bestari dan Windu Fajri membiarkan anak ini tidur di warung internet mereka selama beberapa bulan, sekaligus memberinya makan dan pakaian jika ia berkunjung.

“Tuhan telah memberi kami keajaiban”

Bestari menghubungi keluarga tersebut setelah melihat foto Arif saat kecil di televisi.

Bahkan setelah 10 tahun, menurutnya ia langsung mengenali korban tsunami tersebut sebagai anak yang tidur di warnetnya.

“Saya terkejut – ada foto anak lelaki yang saya kenal betul. Saya simpan fotonya di ponsel saya,” ujarnya.

Anak tersebut hanya mengatakan bahwa ia berasal dari Medan, Sumatera Utara. Jika ia memang si anak hilang, tidak jelas bagaimana ia tiba di sana dari Aceh.

Setelah menonton berita tentangnya, Bestari dan suaminya mencari sang anak lelaki yang mereka namakan Ucok.

Anak remaja itu berbicara dengan Jamaliah dan Septi Rangkuti di telepon dan mereka segera pergi untuk menjumpainya, bersama putra bungsu dan putri mereka yang baru ditemukan, yang kini berusia 14 tahun.

Saat tsunami menghantam rumah mereka di Aceh, Arif dan saudarinya terseret arus saat berpegangan ke sebuah papan, menurut orang tua mereka, yang telah lama kehilangan harapan untuk bertemu kedua anak ini dalam keadaan hidup.

Mereka kini yakin anak-anak tersebut diselamatkan oleh nelayan yang membawa mereka ke Kepulauan Banyak di pesisir Aceh.

Sang putri lalu diasuh oleh sebuah keluarga nelayan di Aceh, yang menamainya Wenni.

Si nelayan ingin mengadopsi keduanya, namun akhirnya hanya memilih Jannah karena merasa keluarganya tidak akan mampu menghidupi dua anak lagi.

Jannah dipertemukan dengan orangtuanya pada bulan Juni setelah seorang kerabat melihatnya saat ia berjalan pulang dari sekolah.

“Tuhan telah memberi kami keajaiban,” ujar Jamaliah di awal bulan ini setelah menemukan putrinya.

Leave a Reply
<Modest Style