Satu lagi korban perang Gaza: Kehancuran warisan budaya

,

[Not a valid template]

Oleh Tom Little

GAZA CITY, 14 Agustus 2014 (AFP) – Rudal Israel telah menembus langit-langit berkubahnya dan menghancurkan batu pasirnya yang berusia tua. Satu serangan langsung menghancurkan Masjid Omari di Jabaliya dan menyebabkan kerusakan pada satu lagi warisan budaya Gaza yang berada dalam kepungan.

Situs ini diyakini telah menjadi masjid sejak abad ketujuh dan beberapa bagian Omari dikatakan telah berdiri sejak abad ke-14.

Sebuah bangunan modern ditambahkan beberapa tahun yang lalu, namun Omari sendiri merupakan salah satu bangunan bersejarah di Gaza yang masih tersisa. Kini, ia hanya tersisa reruntuhannya.

Sang muadzin tewas setelah mengumandangkan adzan, ujar para penduduk.

Sepotong wilayah sempit yang berada di timur Mediterania antara Mesir dan Israel merupakan rumah bagi masyarakat setempat sejak setidaknya 3.300 SM, menurut para sejarawan, di bawah kepemimpinan kaum Kanaan, Fir’aun, Yunani, Romawi, dan Bizantium sebelum masuknya Islam pada abad ketujuh masehi.

Wilayah tersebut dipimpin oleh Dinasti Mamluk pada abad ke-13, dan tiga abad kemudian hadirlah Kekaisaran Ottoman, yang memegang kekuasaan hingga Inggris menaklukkan wilayah tersebut pada 1917.

Namun Gaza tidak memiliki banyak monumen untuk memperingati sejarahnya.

Penaklukan dan konflik berabad-abad, dan pertumbuhan populasi yang tinggi sejak pendirian Negara Israel pada 1948 telah merusak warisan budaya wilayah tersebut dengan parah. Blok apartemen pendek yang dibangun dari batako memenuhi jalan-jalan kota.

“Ini bukan prioritas siapa-siapa,” ujar Yasmeen al-Khoudary, yang membantu kurasi sebuah museum swasta yang didirikan oleh ayahnya, Jawdat, seorang insinyur.

“Saat memikirkan Gaza, Anda tidak pernah terpikir tentang sejarah, atau Gaza kuno atau arkeologi. Anda terus berpikir tentang makanan, obat-obatan, kamp pengungsi, Hamas.”

Sebagai tanggapan dari minimnya museum yang didanai oleh negara, ayahnya mulai mengumpulkan artefak dari masa Kanaan hingga Perang Dunia I yang ia temukan sembari bekerja sebagai seorang insinyur.

Ia mendirikan sebuah museum swasta di tepi laut Gaza City pada tahun 2008 untuk memamerkan gerabah, koin, karya tembaga, dan persenjataan kuno.

Ia menambahkan sebuah restoran dan hotel, dengan memadukan benda-benda bersejarah ke dalam pusatnya: pilar beranda di restoran berasal dari bagian rel kereta api yang melalui Gaza.

Yasmeen mengatakan bahwa keluarganya berencana untuk memperbanyak koleksi dan merenovasi museum tersebut, dan bahwa dua arkeolog Perancis telah berkunjung pada bulan April untuk membantu.

Salah satunya kembali untuk meneruskan pekerjaannya pada awal Juli, namun terpaksa pergi segera setelah perang dimulai.

Kerusakan tidak langsung

Berdiri di antara reruntuhan Masjid Omari, Ahmed al-Barsh, dari kementerian pariwisata dan barang antik, mengatakan bahwa perang telah menyebabkan kerusakan langsung dan tidak langsung pada warisan budaya Gaza sejak perang pecah pada 8 Juli.

“Kerusakan tidak langsung karena menghalangi pengunjung, orang asing, pelajar, dan cendekiawan untuk masuk” ujarnya.

Bahkan sebelum perang, blokade Israel yang diberlakukan pada tahun 2007 menyulitkannya bekerja, ujarnya.

Otoritas Israel membatasi masuknya beberapa bahan konstruksi penting, terasuk semen dan baja, ke Gaza yang menurut mereka dapat digunakan Hamas untuk membangun terowongan penyerangan, hingga renovasi menjadi sulit.

“Israel melarang masuknya bahan-bahan renovasi, dan yayasan serta organisasi internasional yang berada di lapangan menghentikan bantuan,” ujar Barsh.

Situs lain yang hancur dalam perang terakhir ini adalah Masjid Al-Mahkamah abad ke-15 di Shejaiyah, di Gaza City, salah satu lingkungan yang dijatuhi serangan terparah.

Yang tersisa dari struktur aslinya adalah menara batu pasir masa Mamluk, dengan batuan bermotif rumitnya yang masih bertahan di antara tumpukan puing, kabel listrik, dan besi bengkok.

Namun adalah lingkungan Darraj yang merupakan lokasi beberapa bangunan tertua di Gaza, termasuk Masjid Akbar Omari dan Gereja Santo Porphyrius, yang keduanya berada dalam kondisi baik.

Hamam al-Samara, satu-satunya pemandian khas Turki di Gaza yang masih tersisa, telah melayani penduduk Darraj selama lebih dari 1.000 tahun, dan baru-baru ini menjadi daya tarik wisatawan bagi sedikit pengunjung yang datang.

Keluarga Mohamed al-Wazeer telah mengelola pemandian tersebut selama hampir 100 tahun, namun terpaksa menutupnya saat konflik dimulai pada 8 Juli.

“Perang ini terjadi pada setiap orang. Setiap orang yang memiliki bisnis menutup bisnisnya,” ia mengedikkan bahu sambil merokok di bawah langit-langit kubah pemandiannya yang kosong.

Ia berencana membuka kembali pemandian tersebut segera setelah gencatan senjata permanen tercapai. Terlepas dari masalah keuangan yang disebabkan oleh perang, ia berniat menggunakan hammam tersebut sebagai tempat warga Gaza melepas ketegangan yang disebabkan oleh perang.

Ia berkata akan mendorong orang-orang untuk kembali dan bersantai di pemandian tersebut dengan memotong biaya masuk dari 20 menjadi 10 shekel, “atas nama solidaritas dengan orang-orang, karena situasi yang telah kami lewati”.

Leave a Reply
Aquila Klasik