Memboikot produk Israel itu penting, tapi…

,

Memboikot produk-produk Israel saja tidak cukup, tulis Najwa Abdullah.

[Not a valid template]

Sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia menaruh perhatian yang besar terhadap perang berkepanjangan yang terjadi antara bangsa Israel dan Palestina. Penderitaan rakyat di Gaza mampu mendorong ratusan ribu demonstran memenuhi jalan-jalan protokol di ibukota untuk menuntut pembebasan negara tersebut dan mengecam Israel – jumlah massa yang masif jika dibandingkan dengan demonstrasi-demonstrasi lain yang selama ini kita lihat di Jakarta.

Kampanye boikot produk-produk Israel pun marak dikumandangkan di media sosial. Sebenarnya, kampanye boikot ini sudah berlaku lama, namun hingga saat ini produk-produk Israel masih sangat mudah ditemui dan dikonsumsi oleh Muslim Indonesia. Di manakah letak kelemahan kampanye ini hingga kurang membuahkan hasil?

Kita kesulitan untuk memboikot Israel karena produk-produk mereka sudah menyatu dengan kehidupan kita.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel adalah komunitas yang maju secara teknologi dan ekonomi, walaupun mereka hanya merupakan bagian kecil dari komunitas global. Perekonomian Israel yang kuat berkontribusi besar terhadap pembiayaan perang mereka. Israel dapat menyerang Palestina besar-besaran karena kecanggihan dan kelengkapan perlengkapan senjata mereka yang tentu memerlukan banyak uang. Di sinilah letak keterkaitan antara kampanye boikot produk Israel dengan intensitas perang di Gaza. Sederhananya, jika tidak ada uang, maka tidak akan ada perang yang sedemikian sengit. ‘Serangan’ ekonomi dari masyarakat dunia dalam bentuk boikot akan menekan Israel untuk mengubah sikap dan menghentikan pembantaian yang mereka lakukan.

Akan tetapi, pemikiran ini masih diperdebatkan. Sebagian Muslim Indonesia beranggapan bahwa banyak produk-produk Israel bukanlah alat yang dipakai untuk membiayai perang. Produk-produk yang dijual di Indonesia pun bersertifikat halal, menggunakan bahan-bahan lokal dan memberikan lapangan kerja yang besar bagi masyarakat Indonesia.

Jadi, perekonomian Israel sebenarnya memberi manfaat secara langsung bagi warga Indonesia dari sisi relevansi produk dan penyediaan lapangan kerja. Di sisi lain, penjualan produk-produk ini secara tidak langsung bertanggung jawab bagi pertumpahan darah di Gaza.

Tidak sekedar mengumpat, tapi berbuat

Sebagian masyarakat Indonesia yang peduli Palestina mungkin membenci Israel dan bangsa Yahudi. Banyak yang mengecam dan bahkan mengutuk serta melaknat mereka dengan kata-kata “Yahudi laknatullah”, “Yahudi kafir tak berperasaan” dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan umat Muslim selama ini hanya merupakan reaksi terhadap apa yang telah terjadi, namun kita kurang menciptakan aksi.

Namun, tanpa mengurangi rasa prihatin dan belasungkawa saya yang dalam terhadap warga Palestina, saya salut dengan Israel dan bangsa Yahudi. Saya kagum dengan kecerdasan dan strategi pertahanan hidup mereka yang begitu ekspansif, sistematis dan efektif. Saya berharap suatu hari nanti, umat Muslim bisa semaju bangsa Yahudi dan membawa perdamaian bagi dunia, sesuai dengan prinsip Islam, rahmatan lil alamin.

Pengakuan saya atas keunggulan Israel dan bangsa Yahudi ini dipicu oleh percakapan dengan salah satu teman baik saya, komedian Sakdiyah Ma’ruf, yang melalui surel bercerita tentang penjabaran salah seorang profesor di UGM mengenai identitas dan diaspora bangsa Yahudi. Masyarakat Yahudi tidak hanya ada di Israel. Mereka dapat ditemui di berbagai belahan dunia dan tidak semuanya mendukung kebijakan politik Israel. Namun, mereka memiliki satu kesamaan, yaitu selalu menonjol secara intelektual walaupun kita ketahui bahwa bangsa Yahudi memiliki latar belakang sejarah yang kelam (contoh: pembantaian oleh Nazi). Bak rumput liar, mereka selalu tumbuh meskipun sudah diinjak-injak di manapun. Jika Anda pernah mendengar cerita tentang burung Phoenix yang terbakar habis namun selalu bangkit kembali, seperti itulah kisah bangsa Yahudi.

Sakdiyah berkomentar, “Analogi tersebut… mengajarkan generasi muda [Yahudi] untuk serba bisa dan fleksibel. Dengan begitu, mereka berhasil menguasai narasi dunia.” Hampir semua produk budaya populer yang kita konsumsi merupakan kreasi bangsa Yahudi; film, makanan, minuman, budaya pop dan lain-lain. Tak heran kita kesulitan untuk memboikot Israel karena produk-produk mereka sudah menyatu dengan kehidupan kita.

Pada poin ini, saya menyadari, apa yang dilakukan umat Muslim selama ini hanya merupakan reaksi terhadap apa yang telah terjadi, namun kita kurang menciptakan aksi. Kita gencar berkampanye untuk memboikot sesuatu, tapi kurang upaya untuk berkreasi dengan daya pikir kita dan menciptakan pasar sendiri. Kita mengutuk bangsa Yahudi, seakan lupa bahwa merangkul mereka untuk bersama-sama menciptakan perdamaian dunia bukanlah hal yang buruk.

Bangsa Yahudi merupakan salah satu pemasok ilmuwan, insinyur dan profesional terbesar di dunia. Bagaimana dengan umat Muslim? Apakah generasi kita sudah berbuat banyak dan mendidik diri kita sendiri untuk bisa berkontribusi bagi kemajuan peradaban dunia?

Saya yakin, usaha memboikot produk-produk Israel memang berpengaruh untuk melawan politik zionis mereka. Namun yang lebih penting lagi adalah bencana kemanusiaan ini seharusnya memanggil umat Muslim – terutama di Indonesia – untuk berkarya dalam berbagai bidang. Sebagai populasi Muslim terbesar di dunia, kekuatan Muslim Indonesia tidak bisa diremehkan. Menggencarkan usaha-usaha lokal serta memberdayakan mendidik generasi muda untuk bangkit dan berkarya dengan perspektif global akan membuat ekonomi kita mandiri, sehingga kita tidak perlu tergantung pada produk bangsa-bangsa tertentu.

Pada akhirnya, lebih baik kita mewariskan semangat kompetisi untuk maju ketimbang semata menularkan kebencian atas bangsa lain.

Leave a Reply
Aquila Klasik