Modest Style

Inggris Membayar Para Ibu untuk Menyusui Dalam Proyek Ujicoba

,
Sejumlah 130 orang perempuan akan ambil bagian dalam skema ujicoba yang bertujuan untuk membuktikan apakah insentif uang bisa mendorong sebuah praktik yang dipercaya dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi para bayi yang baru lahir. ©Marlon Lopez MMG1 Design /shutterstock.com
Sejumlah 130 orang perempuan akan ambil bagian dalam skema ujicoba yang bertujuan untuk membuktikan apakah insentif uang bisa mendorong sebuah praktik yang dipercaya dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi para bayi yang baru lahir. ©Marlon Lopez MMG1 Design /shutterstock.com

(LONDON-AFP) – Para ibu baru di dua wilayah Inggris mendapatkan bayaran untuk menyusui bayi-bayi mereka, demikian dikabarkan pada hari Selasa, dalam skema ujicoba yang bertujuan untuk mendorong praktik menyusui di kawasan miskin yang telanjur memiliki “stigma tentang menyusui”.

Ibu-ibu di Derbyshire, Inggris tengah, dan kawasan tetangganya Yorkshire Selatan, akan diberikan tawaran berupa kupon belanja senilai £120 (Rp 2,2 juta) jika mereka bersedia menyusui selama enam minggu. Nilainya bertambah menjadi £200 jika mereka melanjutkan menyusui hingga enam bulan.

Sejumlah 130 perempuan dari kawasan miskin akan ambil bagian dalam skema ujicoba tersebut, yang akan bertujuan untuk membuktikan apakah insentif uang akan mendorong praktik yang dipercaya dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi para bayi yang baru lahir.

“Inggris menjadi salah satu yang memiliki tingkat terparah di dunia dalam pemberian ASI dengan rentang angka beragam di wilayah berbeda dari seluruh penjuru negara ini,” ujar Clare Relton dari Sheffield University, yang menjalankan program ujicoba tersebut berkolaborasi dengan pihak pemerintah.

“Bayi yang disusui memiliki masalah kesehatan yang lebih sedikit seperti masalah pencernaan dan infeksi dada, dan cenderung lebih sedikit mengidap diabetes dan obesitas saat mereka besar.”

Seorang bayi usia enam minggu yang lahir di keluarga berada di Inggris empat kali lebih besar kemungkinannya mendapat ASI ketimbang bayi yang lahir di kawasan miskin, tambahnya.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris merekomendasikan para ibu agar tidak memberikan bayi mereka apa pun kecuali ASI untuk enam bulan pertama – namun ini hanya terjadi dalam 34 persen kasus, menurut Relton.

Praktik menyusui telah “terstigma” di beberapa wilayah bagian Inggris, tambahnya – termasuk peran pariwara susu formula yang membuat menyusui semakin menjadi opsi yang kurang menarik.

Namun Janet Fyle, penasihat kebijakan Royal College of Midwives, mengatakan bahwa keenganan untuk menyusui di antara sebagian ibu disebabkan masalah kultural yang lebih pelik yang tak akan mudah untuk diurai hanya dengan membagi-bagikan kupon belanja.

“Di banyak area, termasuk area-area yang tercakup dalam penelitian ini, terdapat beberapa generasi perempuan yang tidak pernah melihat seorang pun menyusui bayinya, yang berarti bahwa itu bukan norma kultural di banyak masyarakat,” ujarnya.

Banyak perempuan yang juga berjuang agar bayi mereka mendapatkan asupan yang cukup, sementara sebagian lainnya mengalami kesulitan saat harus kembali bekerja segera setelah proses kelahiran.

“Motif menyusui tak dapat ditumbuhkan dengan menawarkan imbalan uang. Harus dicari suatu cara agar seorang ibu bersedia melakukannya demi kepentingan kesehatan dan kesejahteraan anaknya,” Fyle berujar.

Skema tersebut dapat direalisasikan secara nasional tahun depan jika terbukti sukses mendongkrak angka menyusui, demikian disampaikan pihak penyelenggara.

Inisiatif tersebut tidak akan diawasi dengan ketat, hanya sekadar mengacu pada kesaksian para bidan untuk memastikan bahwa mereka telah menyusui.

Para perempuan yang ambil bagian dalam skema ujicoba ini dapat membelanjakan kupon mereka di supermarket dan toko-toko kawasan utama.

Leave a Reply
<Modest Style