Modest Style

Imam masjid terbesar Tiongkok dibunuh di Xinjiang

,
000_Hkg10085209-e1406865766374
Fail foto: Para imam Tiongkok berjalan menuju sebuah masjid. AFP Photo / Wang Zhao

Oleh Kelly Olsen, Tom Hancock

BEIJING, 31 Juli 2014 (AFP) – Kepala masjid terbesar Tiongkok dibunuh setelah melaksanakan shalat subuh, ujar pemerintah Xinjiang pada hari Kamis lalu, di tengah kekerasan yang semakin marak di wilayah penuh gejolak tersebut.

Jume Tahir, imam pilihan pemerintah untuk masjid Id Kah yang berusia 600 tahun di kota Kashgar, dibunuh pada hari rabu oleh “tiga preman yang terpengaruh ideologi ekstrimis keagamaan”, menurut portal web pemerintah Xinjiang, Tianshan.

Kepolisian melakukan investigasi penuh dan menembak mati dua terduga pelaku dan menangkap satu lainnya sekitar tengah hari Rabu saat mereka melawan penahanan dengan menggunakan “pisau dan kapak,” lanjut Tianshan.

Tianshan menyatakan bahwa pembunuhan Iman Tahir “terencana” dan bahwa tersangka berniat melakukan “pembunuhan keji”.

Portal tersebut juga mengatakan bahwa mereka ingin “meningkatkan pengaruh mereka dengan ‘melakukan sesuatu yang besar’”.

Tianshan mengumumkan nama para tersangka dalam ejaan fonetis Tionghoa. Kantor berita resmi Xinhua dalam sebuah laporan berbahasa Inggris menyebutkan nama-nama tersebut terdiri dari Turghun Tursun, Memetjan Remutillan, dan Nurmemet Abidilimit.

Baik Tianshan maupun Xinhua tidak menjelaskan yang mana di antara nama-nama tersebut yang ditembak mati maupun ditahan.

Tahir ditemukan tewas dalam genangan darah di luar ruang shalat masjid, menurut kaporan Radio Free Asia (RFA) di dalam situsnya.

Xinjiang, rumah bagi minoritas etnis Uighur yang kebanyakan penganut Islam, telah mengalami peningkatan kekerasan yang tahun lalu menyebar ke bagian Tiongkok lainnya.

RFA mengutip sumber yang disebutnya sebagai “saksi dan pihak berwenang lain”, termasuk direktur sebuah komite stabilitas lingkungan di Kashgar, yang menyebut peristiwa tersebut sebagai pembunuhan.

Imam dan pemimpin keagamaan lain di Tiongkok dipilih oleh pemerintah dan diikat pengawasan ketat atas isi ceramah yang disampaikan.

Kekerasan

RFA yang berpusat di AS menyebutkan bahwa Tahir selalu bersikap kritis terhadap kekerasan yang dilakukan Uighur, dan kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, pada awal Juli mengutipnya mengutuk kekerasan teroris yang dilakukan atas nama etinis dan agama.

Tahir, 74, “memiliki reputasi tinggi di kalangan umat Muslim senegara”, sebut Xinhua pada terbitan Kamis.

Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uyghur Dunia (WUC) yang terasing, tidak mengecam pembunuhan tersebut.

“Berbagai kebijakan Tiongkok di wilayah tersebut telah menyebabkan berbagai hal yang tidak seharusnya terjadi,” ujarnya pada AFP dalam sebuah surel.

“Menurut warga Uighur setempat, Jume Tahir terus-menerus bekerja sama dengan pemerintah, membantu pengawasan kegiatan keagamaan, dan menggunakan jabatannya di masjid untuk menyebarkan berbagai kebijakan Tiongkok yang tidak dapat diterima bagi Uighur,” ujarnya.

“Uighur setempat menduga ia memiliki hubungan istimewa dengan kementerian keamanan Tiongkok.”

Masjid Id Kad konon memiliki kapasitas hingga 20.000 orang.

Kashgar, tempat masjid tersebut berada, merupakan sebuah kota oasis tua yang merupakan bagian dari jalur perdagangan Jalur Sutra yang terbentang dari Eropa hingga Asia.

Pembunuhan Tahir terjadi dua hari setelah puluhan orang tewas dalam bentrokan yang terjadi antara Uighur dan pihak keamanan di wilayah Kashgar.

Hampir 100 orang tewas atau terluka, ujar WUC, sementara pihak berwenang menewaskan “beberapa puluh orang” dalam kejadian yang mereka sebut sebagai sebuah “serangan teror” terhadap sebuah kantor polisi dan kota kecil Shache, yang dikenal sebagai Yarkand dalam bahasa Uighur.

Beijing umumnya menyalahkan pihak separatis dari Xinjiang atas serangan-serangan teror yang skalanya membesar sejak tahun lalu dan menyebar keluar wilayah yang bergejolak dan kaya akan sumber daya tersebut.

Sebuah serangan pasar di Urumqi, ibu kota Xinjiang, pada bulan Mei menewaskan 39 orang, sementara amukan mematikan para perusuh pembawa pisau di sebuah stasiun kereta di Kuning di barat daya Tiongkok pada bulan Maret menewaskan 29 orang.

Kejadian tersebut terjadi setelah tabrakan kendaraan berapi di Tiananmen Square, jantung simbolis Beijing, pada Oktober tahun lalu.

Kekerasan tersebut memaksa Tiongkok untuk melakukan pemberantasan besar-besaran atas terorisme. Presiden Xi Jinping dalam sebuah kunjungan ke Xinjiang akhir April lalu memerintahkan diberlakukannya strategi “serang duluan” untuk melawan terorisme dan menyatakan bahwa wilayah Kashgar merupakan “garis depan [Tiongkok] dalam upaya anti teroris”.

Penuntut hukum Tiongkok pada hari Rabu menjatuhkan vonis separatisme – yang dapat berujung pada hukuman mati – atas akademisi ternama Uighur academic Ilham Tohti, yang telah ditahan sebelumnya.

Kelompok dan pemerhati hak azasi manusia menuduh pemerintah Tiongkok melakukan represi budaya dan agama yang menurut mereka memancing gejolak di Xinjiang, yang merupakan perbatasan Asia Tengah.

Meski begitu, pemerintah menyatakan bahwa pihaknya telah memajukan perkembangan ekonomi di eilayah tersebut dan bahwa pihaknya menjunjung hak azasi kaum minoritas di negara dengan 56 kelompok etnis yang diakui.

Leave a Reply
<Modest Style