Modest Style

IS gunakan media sosial untuk merekrut dan sebar rasa takut

,
WP-jihadist-social-media-Fotolia
(Gambar: Fotolia)

Oleh Sara Hussein

BEIRUT (AFP) – Video mengerikan yang memperlihatkan dengan jelas pembunuhan seorang wartawan AS oleh teroris yang mengaku mujahid hanyalah kejadian terbaru perang online yang dilancarkan ekstrimis di situs-situs media sosial.

Kelompok mujahid teroris telah sejak lama menggunakan organisasi media mereka untuk menyebarkan pesan dan video, namun pada tahun-tahun belakangan, perangkat seperti Twitter telah memberi mereka kemampuan tidak terbatas yang belum pernah terlihat sebelumnya untuk mengintimidasi lawan dan merekrut anggota.

Penggunaan forum seperti Twitter dan situs berbagi video YouTube bukannya tanpa halangan; dengan sering ditutupnya akun-akun pemilik teroris mujahid, meski banyak yang segera membuka kembali akun baru, kucing-kucingan antara administrator dan pengguna situs pun terjadi.

Video yang belum dipastikan kebenarannya yang mempertontonkan pembunuhan keji James Foley oleh mujahid dari kelompok Negara Islam (IS/NI) muncul di YouTube pada Selasa malam.

Video tersebut memberi kesan sama dengan video mujahid teroris yang telah ada setidaknya 10 tahun yang lalu, namun tidak seperti gambar-gambar pembunuhan mengerikan pada puncak perang Irak, atau pembunuh wartawan Daniel Pearl di tahun 2002 di Pakistan, video tersebut menyebar dengan sangat cepat di internet.

YouTube segera menarik unggahan tersebut, namun videonya sendiri telah dipasang di media lain, dan potongan gambar dari video tersebut bertebaran di Twitter.

Pendukung dan anggota IS/NI dengan cepat menyebarkan gambar-gambar tersebut dan membela diri, dengan mengunggah gambar-gambar tindak kekerasan yang dilakukan tentara AS di penjara Abu Ghraib, Irak dan hadits sebagai dasar pemenggalan.

Foley telah melakukan liputan perang di Libya sebelum menuju Suriah, di mana ia menulis untuk situs berita GlobalPost, Agence France-Presse, dan media lain.

Namun di internet, teroris mujahid menuduhnya sebagai mata-mata atau menyatakan bahwa ia pantas mati karena ia adalah seorang Amerika non-Muslim.

Ia diberi pakaian berwarna jingga di video, yang sebagaimana ditekankan eksekutor di video, mengacu pada pakaian yang digunakan para tahanan Muslim di penjara AS Guantanamo Bay.

“Rasa takut, teror, dan kebencian”

Pengguna Twitter yang online menegaskan bahwa kematian Foley dan video tersebut memang bertujuan untuk menyebarkan rasa takut.

“Eksekusi wartawan Amerika oleh IS/NI adalah strategi terencana, memperlihatkan kekejaman untuk membuat takut musuh-musuh IS,” cuit seseorang yang menyebut dirinya “ekstrimis” bernama Abu Bakr al-Janabi.

“Video tersebut bermaksud memancing rasa takut, teror, dan kebencian,” tambahnya, dalam bahasa Inggris.

“#AmessageToAmerica Negara Islam tidak akan menyisakan satu pun warga negara Amerika Serikat non-Muslim di seluruh negara Arab karena serangan udara (Presiden AS Barack) Obama.” Tambah akun Twitter KhilafaMedia tersebut.

Di tahun-tahun belakangan, Twitter dan situs forum tanya jawab seperti Ask.fm menjadi perangkat utama bagi para teroris mujahid yang dulunya menjauhi sorotan masyarakat.

Mereka bahkan menggunakan tagar seperti #Hawaii dan #Ferguson untuk memanfaatkan perhatian yang sedang tertuju pada berita-berita AS.

“Terorisme pada dasarnya adalah strategi komunikasi,” ujar Max Abrahms, seorang profesor ilmu politik di Northeastern University.

Jadi… penggunaan media sosial seharusnya tidak begitu mengejutkan karena ini tahun 2014 dan setiap orang menggunakan Twitter.”

Namun ia menyebutkan bahwa IS/NI memperlihatkan keahlian bermedia sosial yang jauh melebihi kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda.

Kekuatan tersebut sebagian merupakan hasil dari pertumbuhan media sosial di tahun-tahun belakangan namun juga kerja rekrutan muda IS/NI yang seringkali mendapat pendidikan di Barat.

“Orang Barat berperan dalam meningkatkan penggunaan media sosial dan sejujurnya kemampun berbahasa Inggris mereka juga jauh lebih baik untuk berkomunikasi.” Ujarnya.

Pemblokiran akun

Bagi IS/NI, yang tumbuh dari sisa-sisa Al-Qaeda cabang Iraq, postingan mengerikan di media sosial menjadi cara untuk “memperlihatkan kekuatan” dan menarik rekrutan, ujar Abrahms.

“Posting tersebut membuat jengah kalangan masyarakat internasional, namun memang menarik di antara segmen-segmen masyarakat yang sudah teradikalisasi.”

Penggunaan media sosial oleh teroris mujahid bukannya tidak diketahui oleh administrator, dan Twitter telah mulai memblokir akun beberapa ekstrimis bahkan sebelum video Foley muncul.

Setelah kemunculannya, CEO Twitter Dick Costolo mengumumkan bahwa perusahaan tersebut akan memblokir akun yang mempos gambar-gambar kekerasan dari video tersebut.

YouTube juga segera menghapus video tersebut karena telah melanggar aturan penggunaan, meski videonya tetap ada di situs lainnya.

Pengguna Twitter sendiri berusaha menghentikan penyebaran potongan gambar dari video tersebut dengan menggunakan tagar #ISISmediablackout untuk mendorong orang-orang agar tidak memberikan publisitas untuk kelompok tersebut.

“Saya tidak akan membagikan foto atau video berisi kekerasan yang sengaja direkam dan disebarkan oleh ISIS untuk kepentingan propaganda,” cuit pengguna Hend dengan nama Libya Liberty.

“Potong kemampuan komunikasi mereka. Siramkan air ke api mereka,” tambahnya.

Namun tetap tidak jelas seberapa efektif upaya semacam itu. Pada Rabu siang, beberapa pengguna Twitter yang diblokir telah kembali online dengan nama berbeda.

“Akun baru HAHAHA sebarkan. ‘Para teroris ini terus kembali,’” cuit satu pengguna.

Leave a Reply
<Modest Style