Inilah kisah pria penghitung jenazah di Gaza

,
TOPSHOTS-PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-GAZA
Seorang kerabat bereaksi setelah melihat jenazah ketiga anak Palestina yang tewas dalam sebuah ledakan di taman bermain umum di tepi pantai kamp pengungsian Shati, saat mereka terbaring di kamar jenazah rumah sakit al-Shifa di Gaza City pada tanggal 28 Juli 2014. AFP Photo / Marco Longari

Oleh Adel Zaanoun

GAZA CITY (AFP) – Di dalam kantor milik Ashraf al-Qudra yang sesak di rumah sakit Shifa, telepon tidak berhenti berdering, membanjiri ruangan dengan kabar tentang korban-korban terbaru operasi militer Israel yang merusak.

Dengan lebih dari 1.260 orang tewas dan lebih dari 6.000 lainnya terluka, menghitung kematian merupakan pekerjaan purna waktu juru bicara layanan gawat darurat gaza berusia 41 tahun tersebut.

Sejak operasi yang berawal pada 8 Juli, Qudra hanya tidur selama dua jam semalam beralaskan kasur tipis di kantornya, sementara para staf tanpa henti menyampaikan kabar tentang korban terbaru serangan Israel, dan teleponnya terus menerus berdering dengan telepon dari para wartawan yang berusaha mencari tahu detil terbaru korban yang jatuh.

Ia berbaring untuk beristirahat, namun tidur singkatnya langsung terhenti saat seorang tenaga bantuan kesehatan memasuki ruangan.

“Dokter Qudra, banyak korban tewas dan cedera dalam penembakan di rumah sakit Shuhada!” teriak seorang asisten yang kehabisan napas.

Pria 41 tahun tersebut segera membuat catatan di sela dering telepon dan kemerisik radio nirkabel yang menyampaikan kabar tentang lebih banyak kematian dan luka-luka di Gaza yang hancur oleh perang.

Ia menghubungi berbagai rumah sakit, berusaha mengkoordinasi upaya untuk mengetahui kondisi orang-orang yang terluka.

“Tidak ada tempat yang aman dari penembakan Israel,” ujar Qudra, seorang pria tinggi dengan jenggot tercukur rapi yang telah melakoni pekerjaannya selama empat tahun.

“Mereka menyerang rumah sakit Al-Wafa, rumah sakit Shahada, dan rumah sakit Eropa, yang memang saya takutkan akan terjadi,” ujarnya.

“Saya tidak meragukan bahwa mereka akan menyerang rumah sakit ini suatu saat nanti,” ujarnya, sembari memandang ke luar jendela saat sebuah ambulans menurunkan lebih banyak korban luka.

“Musuh sudah lebih parah dari gila. Bencana saling susul.”

Tidak digaji berbulan-bulan

Angka yang dikeluarkan oleh kantor kemanusiaan PBB OCHA menunjukkan hampir tiga perempat korban merupakan warga sipil dan sekitar seperempatnya adalah anak-anak.

Selain itu, 18 rumah sakit, klinik, dan pusat kesehatan telah diserang dan rusak oleh penembakan Israel.

Israel kehilangan 53 tentara, dan tiga warga sipil terbunuh oleh proyektil lintas perbatasan.

Shifa merupakan rumah sakit terbesar di antara tujuh rumah sakit Gaza, yang kesemuanya telah beroperasi tanpa henti sejak serangan Israel dimulai pada 8 Juli dengan tujuan memberantas serangan roket lintas perbatasan, yang belakangan berkembang menjadi serangan darat.

Sebuah telepon masuk – lima orang lainnya tewas dan setidaknya 70 terluka. Di antara korban terdapat dokter dan paramedis dalam sebuah serangan terhadap rumah sakit Shuhada di Khan Yunis.

Telepon kembali berdering. Kali ini dari istrinya.

Qudra tersenyum dan menanyakan keadaan keempat anaknya, sekaligus meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja.

Ia baru menemui keluarganya sekali dalam tiga pekan terakhir.

“Saya rindu mereka,” akunya.

Dan sebagaimana warga Gaza lainnya, ia berjuang untuk membiayai mereka.

Terlepas dari peran pentingnya, Qudra, yang baru-baru ini mendapat kualifikasi sebagai dokter, tidak dibayar selama beberapa bulan.

Hingga dua bulan yang lalu, ia merupakan juru bicara bagi kementerian kesehatan yang dijalankan oleh Hamas, namun gerakan Islamis tersebut – yang memimpin Gaza hingga serah terima pertanggung jawaban pada pemerintah yang berpusat di Ramallah pada bulan Juni – kehabisan dana untuk membayar pegawai pemerintahannya.

Namun ia tidak menganggap dirinya sebagai sekutu Hamas, dan menekankan bahwa pekerjaannya merupakan tugas kemanusiaan.

“Saya sangat percaya pada misi kemanusiaan,” ujarnya tentang pekerjaan yang mengharuskannya menjawab sekitar 700 telepon masuk per hari.

Dampak emosional

Setiap sore, ia mengadakan konferensi berita di rumah sakit di mana ia membacakan angka dan nama-nama korban.

Namun jauh sebelum itu, setiap detil dicatat dengan teliti dalam bentuk posting berbahasa Arab baik di Twitter dan Facebook.

Bagi para wartawan yang meliput konflik tersebut, Qudra merupakan satu-satunya sumber informasi. Dengan jumlah yang meningkat cepat, terkadang hingga 100 kematian per hari, tidak mungkin dapat memastikan seluruh korban yang jatuh.

Namun Qudra menekankan bahwa catatannya benar.

“Statistik yang kami gunakan dan terbitkan akurat dan obyektif,” ujarnya, bangga namun kelelahan.

Pengalaman pertamanya dalam konflik besar antara Israel dan Hamas adalah bulan November 2012 saat 177 warga Palestina dan enam warga Israel terbunuh dalam konfrontasi selama delapan hari.

Kali ini, ia mengakui, konflik tersebut telah sangat mempengaruhinya secara emosional.

“Saya melihat jenazah dan bagian tubuh setiap saat,” ujarnya.

“Namun yang benar-benar mempengaruhi saya adalah pemandangan wanita dan anak-anak yang tewas dalam penembakan.”

Leave a Reply
Aquila Klasik