Dokter bedah plastik Gaza kewalahan menangani korban perang

,
gaza plastic surgeons
Para dokter menangani anak lelaki Palestina berusia tiga tahun, Yamin, di rumah sakit Al-Shifa di Gaza City, yang mengalami luka bakar parah dan patah tulang di berbagai tempat setelah terluka dalam sebuah serangan Israel di Jalur Gaza. AFP Photo / Mohammed Abed

oleh Guillaume Lavallee

GAZA CITY, 4 Agustus 2014 (AFP) – Terbaring di ranjangnya di rumah sakit Gaza, Yamin yang berusia tiga tahun kini menghadapi dunia dari balik luka bakarnya yang membuatnya cacat seumur hidup.

Anak mungil ini hanyalah satu dari ratusan korban luka bakar dan luka lainnya serangan Israel yang memenuhi satu-satunya ruang operasi untuk dokter bedah plastik yang masih bekerja di Gaza.

Ia juga memiliki luka bakar di punggung dan patah tulang di berbagai tempat yang didapat saat serangan Israel menewaskan keluarganya dan menghancurkan rumah mereka di Al-Buraj, Gaza tengah, pekan lalu.

Saat itu menjelang petang dan merupakan permulaan Idul Fitri, perayaan yang menandai berakhirnya Ramadhan, bulan suci bagi umat Muslim.

Dalam satu serangan, rumahnya hancur berkeping-keping dan 19 orang terbaring tewas. Ajaibnya, Yamin menjadi satu-satunya korban selamat meski ia kini menjadi yatim piatu dan memiliki luka bakar parah.

Ia dibawa ke sebuah klinik dan segera dipindahkan ke bagian luka bakar rumah sakit Shifa di Gaza, di mana ia menangis, terbaring telanjang, dan beberapa ahli bedah kini dihadapkan dengan kengerian tanpa akhir yang dibawa oleh perang.

Setiap hari sejumlah ambulans mendatangi rumah sakit berburu waktu dengan hilangnya nyawa manusia: manusia yang terbakar atau terluka yang akan meninggal beberapa jam kemudian di atas tandu yang membawanya.

Para korban selamat dipindahkan ke atas meja operasi, terkadang ke meja operasi sederhana yang terdapat di bagian luka bakar, satu-satunya di seluruh Gaza yang dapat digunakan oleh dokter bedah plastik.

Ahli kesehatan setempat menyebutkan bahwa 1.829 warga Palestina, kebanyakan warga sipil menurut data PBB, tewas sejak bentrokan antara Israel dan Hamas dimulai pada tanggal 8 Juli.

Setidaknya 9.000 lainnya terluka, banyak di antaranya terluka parah.

“Luka ringan sangat jarang terjadi pada perang kali ini,” ujar Ghassan Abu Sitta, seorang ahli bedah plastik dari American University of Beirut, yang dikirim sekitar sepekan yang lalu oleh organisasi Medical Aid for Palestinia (MAP – Bantuan Kesehatan untuk Warga Palestina) untuk memberikan bantuan di Gaza.

“Menurut saya sekira 70 persen akan mengalami cacat permanen, entah dalam bentuk luka maupun kerusakan fungsi… Mereka tidak akan pernah sama lagi.”

Kasus terparahnya? “Anak lelaki berusia 8 tahun yang kehilangan setengah wajahnya, termasuk satu mata serta kehilangan mata lainnya karena pecahan peluru. Yang harus saya lakukan adalah rekonstruksi wajah sekadar untuk menutupi luka.

“Kedua matanya hilang. Ia kehilangan seluruh anggota keluarganya, kemampuan untuk merawat diri sendiri hancur total. Ia tidak memiliki masa depan, ia terus bertanya mengapa lampu dimatikan,” ujar Dr Abu Sitta.

“Ukuran dan dampak pembantaian yang telah menimpa Gaza melampaui kapasitas sistem kesehatan mana pun, lebih-lebih yang berjuang di tengah kepungan selama delapan tahun,” ujar ahli bedah yang juga berada di Gaza pada operasi ‘Cast Lead’ Israel pada akhir 2008 dan awal 2009.

Cedera

Kali ini perang telah menyebabkan lebih banyak kematian dan luka. Dan cedera yang lebih parah.

“Kenyataan bahwa kami tidak dapat mengevakuasi pasien ke luar Gaza berarti para pasien berada di dalam sistem ini,” ujarnya.

Ia kemudian berbalik badan untuk melakukan transplantasi kulit untuk seorang pria muda dengan kaki tertusuk dan lubang 10 sentimeter di betisnya, yang membuat tulang keringnya dapat terlihat.

Sejak bulan lalu, setiap hari ada saja jenazah, orang terluka, dan orang trauma yang didatangkan ke rumah sakit-rumah sakit Gaza.

“Ini adalah bencana kesehatan dan kemanusiaan,” James Rawley, coordinator kemanusiaan PBB untuk teritori Palestina, menyatakan pada akhir pekan lalu.

Sepertiga rumah sakit yang ada telah terkena serangan dan kekerasan yang menghambat hampir setengah tenaga kesehatan mencapai klinik-klinik dan pusat-pusat kesehatan yang masih berdiri.

“Keadaan sistem kesehatan yang ada kini seperti malapetaka karena orang-orang kelelahan, banyak rumah sakit terkena dampak pengeboman, dan orang-orang takut pergi ke rumah sakit,” karena terkadang penembakan terjadi di jalur yang mereka gunakan, ujar Nicolas Palarus, kepala operasi Doctors Without Borders di Gaza.

Tenaga kesehatan Palestina, tulang punggung sistem kesehatan setempat, menghadapi “tekanan dari peperangan, rindu keluarga, keterpisahan, kelelahan yang meluas, kekurangan obat-obatan,” ujarnya.

“Dari perawatan kesehatan mendasar hingga rumah sakit-rumah sakit besar, keseluruhan rantainya terganggu. Sistem ini berada dalam bencana,” ujar Palarus.

Hari ini di bagian luka bakar, tenaga medis mengoleskan salep anti bakteri ke tubuh si kecil Yamin yang terbaring telanjang, rapuh, dan ketakutan. Salep akan membantu kulitnya mengering.

Namun sepupu dan suami sepupunya, yang kini menjadi walinya, menyela. Mungkin yang terbaik bagi balita ini, kata mereka, adalah evakuasi keluar Gaza. Membawanya sejauh mungkin dari kengerian perang.

Leave a Reply
Aquila Klasik