Modest Style

Dijebak & diracun: Pembasmian anjing di Afghanistan tak Islami?

,
AFGHANISTAN-HEALTH-ANIMAL
Dalam foto yang diambil pada 1 Juni 2014, seorang PNS kotamadya Afghan menyeret bangkai anjing liar setelah peracunan di luar kota Kabul. Wakil Kohsar/AFP

Oleh Edouard Guihaire

KABUL (AFP) – Dipepetkan ke tembok dan didorong dengan kait baja di leher, anjing tersebut mengeluarkan lolongan menyeramkan dalam upaya putus asa untuk membebaskan diri, namun racun akan segera dimasukkan ke mulutnya saat pemusnahan hewan liar di Kabul kembali memakan korban.

Sekitar 17.600 anjing diracun tahun lalu oleh para PNS kotamadya di ibu kota Afghanistan tersebut dalam upaya melindungi warga dari penyakit dan mengendalikan ledakan populasi anjing yang memenuhi jalan-jalan kota dan tanah terbuka.

Metode pembunuhannya sangat efekif.

Beberapa kelompok penangkal anjing yang mengenakan pakaian jingga menggunakan kait baja panjang, batang kayu, dan jaring besar untuk menjerat mangsa mereka dengan kemampuan yang terasah.

Sepatu bot yang berat menginjak leher anjing, dan sebatang sendok digunakan untuk memasukkan racun mematikan ke mulut dan gusi.

Kemudian anjing diikatkan ke tali, dan ia akan mati dalam sejam sebelum mengalami kejang-kejang menyakitkan.

Cara lain adalah dengan meninggalkan daging beracun di luar pada malam hari. Paginya, halaman akan dipenuhi oleh bangkai.

Anjing-anjing ini, yang terkadang masih menunjukkan cahaya hidup terakhirnya, dilempar ke belakang truk dan dibuang ke tempat pembuangan akhir di perbatasan luar kota.

“Setiap hari, setelah shalat magrib, kami melakukan program peracunan massal ini, bekerja hingga pukul 10 malam, dan kami kembali pada pukul 3 pagi,” ujar penangkap anjing Islamuddin.

“Kami temukan anjing-anjing ini, meracuni mereka, dan membuang mereka di tempat mereka akan dikubur.”

Sebagaimana banyak warga di lingkungan Pul-e-Charkhi tempatnya bekerja, Islamuddin tidak ragu membunuh anjing sebagai bagian dari kebijakan kota yang secara luas dilihat sebagai upaya pencegahan kesehatan yang dibutuhkan.

Risiko rabies

Tidak pasti ada berapa banyak anjing liar di Kabul, namun penyakit ini begitu ditakuti karena seringkali bisa menyebabkan kematian pada manusia jika tergigit atau tercakar oleh anjing yang terinfeksi.

Riaz Gul, dari suku nomaden Kuchi yang memiliki perkemahan kecil di Pul-e-Charkhi, meyakini kematian putranya yang berusia 12 tahun baru-baru ini disebabkan oleh gigitan anjing.

“Lengannya digigit, dan kemudian setelah sekitar 50 hari ia mulai terlihat gila dan sakit,” ujarnya.

“Saya membawanya ke dokter dan dukun, namun tidak ada hasilnya, dan ia meninggal.

“Jelas saya takut pada anjing. Ada sekitar 200 ekor anjing yang hidup dalam berbagai kawanan di wilayah ini.”

Di manapun tim penangkap anjing bekerja, warga setempat berkumpul untuk menonton hewan-hewan dijebak, diracun, dan kemudian mati perlahan.

Anjing dianggap tidak suci oleh kebanyakan umat Muslim, dan di Afghanistan umumnya hanya dijadikan anjing penjaga atau untuk pertarungan anjing terorganisasi, dan bukan hewan peliharaan.

“Anjing menyerang orang-orang yang pergi ke masjid dan anak-anak yang berjalan ke sekolah. Mereka menyebarkan penyakit,” ujar Nasser Ahmad Ghori, direktur departemen kebersihan kota Kabul.

“Sulit mengendalikan mereka karena jumlahnya yang sangat besar, lebih dari 100.000, saya rasa, dan semakin bertambah.”

“Keluhan warga semakin banyak, dan di bulan-bulan belakangan kami kehabisan racun. Kami harus melakukan sesuatu.”

Solusi pengebirian?

Ghori menyebutkan bahwa rencana mengebiri anjing untuk menghentikan perkembangbiakan atau program vaksinasi rabies sedang dipertimbangkan dengan berkonsultasi dengan pejabat kedokteran hewan dan kesehatan, namun tidak ada solusi praktis lain yang tersedia.

AFGHANISTAN-HEALTH-ANIMAL
Dokter hewan Afghan Maliha melakukan operasi sterilisasi pada anjing liar di fasilitas kesehatan Nowazad Dogs di Kabul. Wakil Kohsar/AFP

“Kami memiliki 30 petugas yang memusnahkan anjing secara purna waktu karena anjing menimbulkan sangat banyak masalah,” ujarnya.

Para ahli kesejahteraan hewan menyebut pemusnahan tersebut sangat kejam – dan sia-sia.

“Kami setuju terlalu banyak anjing adalah masalah,” ujar Louise Hastie, seorang ekspat Inggris yang mengelola pusat penyelamatan hewan Nowzad di Kabul.

“Namun pemusnahan ini sekadar bermakna kawanan anjing baru akan menggantikan yang mati dalam satu pekan, dan memiliki kemungkinan lebih besar membawa rabies karena berasal dari pegunungan.

“Satu-satunya jawaban adalah dengan menjebak, mengebiri, memvaksin, dan melepas anjing-anjing tersebut – dan kami bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mulai menjalankannya.

“Orang-orang mungkin tidak berpikir bahwa kesejahteraan hewan itu penting di negara seperti Afghanistan, dan pemerintah memang menangani hal lain yang lebih penting.

“Namun kenyataannya banyak warga Afghan yang merasa pembantaian harian ini mengerikan. Kami hanya harus mengubah pikiran para pejabat.”

Seorang warga Kabul, Ghazal Sharifi, seorang dokter gigi, menceritakan pada AFP bagaimana ia berteman dengan seekor anjing liar yang memiliki enam anak di dekat tempat kerjanya – dan suatu hari ia menemukan mereka semua dalam keadaan diracun.

“Para pekerja menertawakan saya saat saya memeluk tubuh-tubuh yang sedang sekarat itu,” ujar Sharifi. “Kekejaman tidak manusiawi terhadap hewan ini tidak Islami.

“Saya melihat anjing-anjing dilempar bahkan saat mereka masih hidup, tumpuk menumpuk di atas satu sama lain. Saya terus bermimpi buruk tentang kejadian itu. Saya hanya ingin ini dihentikan.”

Terkait: Anjing juga ciptaan Allah

Leave a Reply
<Modest Style