Modest Style

Di Gaza, mandi pun tak bisa

,
PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-GAZA
Seorang wanita Palestina membawa botol air yang diberikan padanya dalam pembagian makanan tanggal 16 Agustus 2014 di sekolah PBB di Jabaliya, utara Jalur Gaza. Ia terpaksa meninggalkan rumahnya saat peperangan antara Israel dan militan Hamas pecah lebih dari empat pekan yang lalu, dan ia dan keluarganya harus mengungsi  ke sekolah ini. PBB memperkirakan sekitar 10.000 rumah warga Palestina hancur oleh perang yang menyebabkan ratusan ribu orang di Palestina kehilangan tempat tinggal. AFP Photo / Roberto Schmidt

Oleh Mai Yaghi

GAZA CITY, 17 Agustus 2014 (AFP) – Feriel al-Zaaneen sudah sebulan tidak mandi. Seperti ribuan warga Palestina lainnya, ia tidak memiliki cukup air untuk membasuh tubuh, yang menambahka penderitaan hidup di Gaza yang hancur oleh perang.

Pada musim panas yang membakar, di mana suhu dapat mencapai 34 derajat Celsius, Feriel adalah satu dari 218.000 lebih pengungsi yang mencari tempat berlindung di 87 sekolah PBB dari konflik yang telah menewaskan setidaknya 1.980 warga Palestina dan 67 orang dari pihak Israel sejak 8 Juli.

“Di sini tidak ada air dan toilet sangat kotor, ini bukan hidup,” ujarnya.

Zaaneen, anak-anak, dan cucu-cucunya yang berjumlah sekira 50 orang, melarikan diri dari pemboman rumah mereka oleh Israel.

Ia berkata ia harus berjuang setiap hari untuk mendapat air, sumber daya berharga di wilayah yang dikuasai oleh Hamas, yang telah diblokade oleh Israel sejak tahun 2006.

PBB mengatakan masih ada 365.000 warga Palestina yang belum memiliki tempat tinggal di Gaza, seperti Faten al-Masri yang berusia 37 tahun, yang harus membasuh tubuh anak-anaknya dengan berbotol-botol air minum.

Saat ia memercikkan air dingin ke tubuh putrinya yang berusia dua tahun, balita itu menjerit, kulitnya dipenuhi bercak merah menyala.

“Semua anak saya jatuh sakit di sini karena kotoran dan kurangnya kerbersihan, mereka semua terkena infeksi kulit dan kudis,” ujar Faten.

“Tidak ada air di kamar mandi, dan bahkan kamar mandi pun sangat kotor hingga kami tidak dapat masuk,” ujarnya.

“Saya memandikan putra-putra saya setiap tiga hari di ruang kelas ini dengan botol-botol air.”

Tidak ada privasi

Ia sendiri belum mandi sejak tiba di sekolah tersebut dua pekan yang lalu.

“Beberapa menggunakan botol air di kelas, namun saya tidak bisa melakukan itu. Rasanya akan seperti jika saya mandi di tengah jalan. Siapa pun bisa membuka pintu dan masuk, tidak ada privasi,” ujarnya.

Saya merasa tidak enak. Tidak bisa mandi membuat saya merasa terhambat dan gelisah,” ujarnya.

Muntaha al-Kafarna, seorang ibu sembilan anak yang tinggal di sebuah tenda kecil yang ia dirikan di halaman sekolah, dekat toilet, berhasil mandi di rumah sakit dekat sana di utara Jalur Gaza.

“Airnya dingin, dan tidak cukup banyak, namun saya tidak memiliki pilihan lain,” ujarnya.

Orang-orang berjuang untuk dapat menggunakan toilet di sekolah ini, putra-putra saya mengompol sebelum giliran mereka tiba,” ujarnya.

Ia menunjuk anak-anaknya, yang berdiri di sekelilingnya. Ia membungkuk dan memeriksa rambut pirang putranya yang berusia satu tahun, menarik seekor kutu.

“Putra-putra saya jadi berkutu karena tidak bisa mandi,” ujarnya.

“Saya harap sebuah rudal mengenai kami, saya dan anak-anak. Kematian lebih baik daripada hidup seperti ini,” ujarnya putus asa.

Krisis air

Hazem, suaminya, setuju.

“Ini bukan benar-benar hidup,” ujarnya, dagunya dipenuhi bintik merah yang menurutnya disebabkan oleh rendahnya kebersihan di sekolah.

Ashraf al-Qudra, juru bicara kementerian kesehatan di Gaza, menyebutkan bahwa penyakit kulit, ruam, dan gatal-gatal ditemukan di tempat-tempat yang menampung pengungsi.

Di antara anak-anak, diemukan “banyak kasus diare kronis” dan beberapa kasus meningitis”, tambahnya.

Adnan Abu Hasna, seorang juru bicara Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), menyebutkan bahwa kekurangan air terjadi tidak hanya di tempat-tempat penampungan pengungsi namun juga di seluruh wilayah tersebut.

Otoritas air Shoblak mendeklarasikan Gaza sebagai “wilayah bencana air dan lingkungan”.

Satu-satunya pembangkit listrik wilayah ini dihancurkan oleh penembakan Israel pada saat konflik, yang sekaligus menghentikan pasokan air minum, ujarnya.

Samar al-Masbah, 27, yang tinggal di Al-Zahra City di barat daya Gaza City, mengatakan aliran air ke rumahnya telah diputus sejak sekitar 10 hari lalu.

“Saat air mengalir, listrik mati, jadi air tidak mengalir ke tangki di atap karena butuh mesin untuk mendorongnya,” ujarnya.

Leave a Reply
<Modest Style