Modest Style

Perubahan iklim berdampak lebih besar pada wanita

,

Arwa Aburawa mempelajari ancaman yang dibawa perubahan iklim terhadap wanita.

[Not a valid template]

Sudah merupakan rahasia umum bahwa statistik itu membosankan. Angka-angka tidak memperlihatkan wajah manusia yang dibicarakan. Namun beberapa statistik dapat berbicara lantang. Topan yang menghantam Bangladesh pada 1991 membunuh lebih dari 138.000 orang, 90 persen di antaranya wanita. Di beberapa wilayah India, Indonesia, dan Sri Lanka, lebih dari 80 persen korban jiwa tsunami 2004 adalah wanita. Studi terhadap banjir pada 2007 di Afrika menunjukkan bahwa wanita dan anak-anak adalah 75 persen dari perkiraan 1,5 juta orang yang diungsikan tahun itu.

Meski angka ini tidak banyak menceritakan tentang wanita yang tinggal di lingkungan rawan dan rentan, angka ini memperlihatkan satu poin penting: wanita terkena dampak sangat besar saat terjadi bencana. Dengan perubahan iklim yang diperkirakan menyebabkan bencana alam dalam skala yang lebih sering dan lebih besar, kita dapat memperkirakan bahwa lebih banyak wanita akan terkena dampaknya, beserta keluarga dan masyarakat mereka.

Sudah jelas bahwa alam tidak membeda-bedakan. Alasan wanita menjadi lebih rentan terhadap bencana alam adalah karena status sosial ekonomi mereka yang relatif lebih lemah. Kanwal Ahluwalia, peneliti kesetaraan jender di Plan, sebuah badan amal anak, menjelaskan bahwa ketidaksetaraan jender berperan secara tersembunyi dalam memberi dampak merugikan bagi wanita. Sebagai contoh, norma-norma berbasis jender di negara-negara miskin seperti Bangladesh mencegah perempuan mempelajari keahlian seperti memanjat pohon atau berenang, yang dapat membuat perbedaan antara hidup dan mati saat terjadi banjir.

Wanita yang tinggal di negara-negara rawan kekeringan seperti Ethiopia dan negara Afrika sub-Sahara lain juga terkena dampaknya, ujar Kanwal, yang berkontribusi dalam laporan Plan 2011 tentang cara anak-anak perempuan di seluruh dunia terkena dampak perubahan iklim. Masa-masa keputusasaan yang disebabkan oleh kekeringan berarti anak-anak perempuan, yang tidak dianggap sebagai pencari nafkah di masa depan, ditarik keluar dari sekolah dan dikirim untuk bekerja sebagai pelayan rumah tangga. Para orangtua juga cenderung melepaskan putri-putri mereka di usia muda untuk dinikahkan paksa sebagai mekanisme pertahanan menghadapi kelaparan akibat masalah iklim. Di masa-masa kekeringan, anak-anak perempuan dan wanitalah yang seringkali bertanggung jawab mengambil air dan kayu bakar. Mereka harus berjalan lebih jauh untuk mencari pasokan yang makin menipis, dan hal ini memaparkan mereka terhadap lebih banyak bahaya.

“Semua ini berdampak pada kemampuan anak-anak perempuan menyelesaikan pendidikan [mereka] dan mendapat keahlian serta pengetahuan,” ujar Kanwal. Hal ini, pada akhirnya, bermakna bahwa anak-anak perempuan tidak diberikan kesempatan untuk mengubah kondisi ekonomi dan sosial mereka, yang mana menempatkan mereka ke dalam risiko yang lebih besar. Ini merupakan lingkaran setan, namun bukan tidak ada solusinya – solusi yang secara khusus digerakkan oleh wanita.

“Ini merupakan paradoks karena meski rapuh, wanita adalah sumber jawaban yang dicari,” ujar Dr Vandana Shiva, eko-feminis paling terkenal dan berpengaruh di dunia. Sebagai seseorang yang lahir di India dan seorang sosok ilmuwan terlatih, selama berpuluh-puluh tahun ia telah menggalakkan pertanian organik dan berkelanjutan sebagai kunci dalam menangani krisis ekologi. Ia juga bekerja sama dengan gerakan Chipko di India di mana wanita memeluk pohon untuk menghalangi penebangan, hingga tercetus istilah “pemeluk pohon” yang kini mendunia.

“Solusi nyata untuk perubahan iklim tidak akan datang dari para pemimpin dunia atau di berbagai konferensi iklim,” tambah Vandana. “[Solusi] akan datang dari mereka yang rentan dan sudah terkena dampak bencana yang berkaitan dengan iklim – dengan kata lain, wanita.” Mengubah kerapuhan mereka menjadi solusi praktis dengan membagikan pengetahuan berarti wanita juga dapat diberdayakan. Contohnya, mereka dapat mengajari yang lain cara menyimpan benih yang dapat ditanam kembali jika bencana iklim menghancurkan panen. Mereka dapat membantu menyoroti bahaya yang akan dihadapi anggota masyarakat yang paling rentan. Dengan menyuarakan pendapat mereka saat diadakan debat tentang iklim, mereka mengambil alih kendali.

Saat glasier mencair di Himalaya dan permukaan laut naik di Teluk Bengal, saat kekeringan menjadi semakin ekstrim dan panjang, dan saat banjir semakin tidak terduga, orang-orang mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan planet. Dan mereka juga mula menghubungkan hal ini ke negara-negara yang lebih kaya yang melepaskan polusi ke atmosfer, hingga menyebabkan perubahan iklim. “jadi saat kesadaran tentang ketidakadilan iklim ini tumbuh,” jelas Vandana, “pembicaraan tentang perubahan iklim harus mengikutsertakan mereka yang tidak memiliki hak pilih, yang miskin, dan yang serba kekurangan. Dan, yang paling penting, wanita – karena intinya masa depan merekalah yang sedang berada di ambang kehancuran.”

Wanita, Islam dan perubahan iklim

sofiah-jamil_credit-to-come-sm
Sofiah Jamil. Foto milik RSIS Centre for NTS Studies.

Sofiah Jamil adalah seorang aktivis lingkungan Muslim yang berbasis di Singapura. Selain mendirikan Project ME, sebuah kelompok pembela lingkungan Muslim, ia juga merupakan kandidat PhD di Australian Nationa University dan Asisten Rekan Peneliti di Nanyang Technological University di Singapura, di mana ia mendalami masalah perubahan iklim dan keamanan lingkungan. “Menurut saya penting agar wanita muslim ikut terlibat dalam masalah lingkungan karena mereka adalah penggerak utama perubahan di tingkat rumah tangga. Mereka dapat mendukung anak-anak mereka yang melakukan tindakan hijau dan tetap [dapat] membuat keputusan penting perihal konsumsi dan [mendorong] kesadaran ekologis. Wanita juga merupakan sumber pengetahuan tradisional yang belum tersentuh – terutama di daerah pedesaan. Jika kita melihat siapa yang menggerakkan bidang agrikultur, Anda akan lebih sering melihat wanita, dan mereka memiliki pemahaman tentang cara mengolah lahan yang lebih berkelanjutan.”

Dr Vandana Shiva tentang revolusi makanan organik

vandana-shiva_credit-to-come-sm
Dr Vandana Shiva. Foto milik Navdanya.org

Sebagai seorang ilmuwan dan pemerhati lingkungan, Vandana adalah pendiri Navdanya, sebuah organisasi riset India non-pemerintah yang menjalankan program konservasi keanekaragaman hayati yang menyokong petani lokal dan mendorong pertanian organik. Berdasarkan riset Vandana, 40 persen emisi dunia berasal dari sistem globalisasi dan industrialisasi produksi makanan yang juga menciptakan kelaparan, menghancurkan keanekaragaman hayati, merusak persediaan air, dan menyebabkan obesitas. “Jadi dengan gerakan yang mendorong pertanian ekologis dan organik, Anda dapat memecahkan 40 persen masalah yang ada,” ujarnya. Namun agar ini dapat terjadi, Vandana mengingatkan bahwa masalah iklim perlu dijadikan masalah wanita. Dengan begitu, alih-alih mengambil “solusi” drastis dan jangka pendek seperti rekayasa geografis (modifikasi lingkungan planet yang disengaja melalui konsep seperti membangun gunung berapi buatan dan cermin besar untuk memantulkan cahaya matahari) atau produk hasil rekayasa genetik, akan ada perubahan nyata dan berarti dalam cara masyarakat dan ekonomi kita berfungsi.

 

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi April 2012.

Leave a Reply
<Modest Style