Modest Style

Di Aleppo, Suriah, cekungan bom direnangi anak-anak

,
suriah
Anak-anak Suriah bermain di cekungan bekas bom yang terisi air dari pipa yang rusak di kota Aleppo. AFP Photo / AMC / Fadi al-Halabi

ALEPPO, 15 Juli 2014 (AFP) – Di kota Aleppo, Suriah, cekungan-cekungan yang terbentuk dari serangan udara oleh rezim berkuasa terhadap wilayah-wilayah yang ditempati oleh oposisi telah diubah menjadi kolam renang dadakan bagi anak-anak untuk mendinginkan tubuh dalam suhu musim panas yang ganas.

Meski airnya kotor, anak-anak yang sudah letih dengan adanya perang di wilayah yang dulunya merupakan ibu kota perdagangan negara tersebut menganggap kolam-kolam ini sebagai kesempatan untuk bergembira dan membebaskan diri dari panas yang luar biasa.

Di distrik Sahaar yang hancur lebur, anak-anak dan remaja berenang dengan santai di sebuah cekungan berisi air, dengan puing gedung di jalanan yang hancur sebagai latar belakang, ujar seorang koresponden AFP.

Terlepas dari keberadaan air di jalanan, kota tersebut mengalami kekurangan air dan listrik endemis setelah diporak-porandakan oleh perang sepanjang dua tahun.

“Dulu, kami biasanya berenang di kolam-kolam di kota. Kini (Presiden Bashar al-) Assad membombardir kami dengan drum-drum peledak dan cekungan yang dihasilkan menjadi kolam. Saat ini sedang sangat panas dan kami tidak dapat tidur saat siang maupun malam hari,” ujar warga Aleppo berusia 12 tahun Abdel Qader.

Warga setempat menyebutkan bahwa sebuah kolam besar terbentuk saat bom drum meledakkan pipa air bawah tanah.

Air yang tertampung sama sekali tidak bersih, namun seorang remaja bernama Mustafa mengatakan bahwa ia sangat senang dapat berenang di kolam tersebut.

“Tidak ada air untuk mandi. Terkadang kami membawa air dari sini,” ujar Mustafa pada AFP.

“Kami lelah dan sedang berpuasa,” ujarnya, mengacu pada kegiatan tidak makan pada siang hari di bulan suci umat Muslim, Ramadhan.

Seorang aktivis di wilayah kota yang dikuasai oposisi, Mohammed al-Khatieb, mengatakan pada AFP: “Terkadang memang ada air, namun dalam jumlah kecil, dan ada penghentian rutin.”

Khatieb juga menyalahkan adanya kekurangan pasokan di wilayah oposisi pada pengeboman oleh rezim yang merusak atau menghancurkan pompa-pompa air utama, juga ketiadaan listrik yang membuat pemompaan air tidak dapat dilakukan.

Meski begitu, kekurangan air parah juga terjadi di wilayah Aleppo yang dikuasai rezim.

Pekan lalu, seorang pendeta jemaah Freres Maristes menerbitkan surat terbuka meminta bantuan untuk Aleppo yang dihancurkan oleh perang, di mana ia menyebutkan bahwa “situasi ini sudah tidak tertahankan”.

Dalam surat yang diterbitkan secara online tersebut, George Sabe mengatakan: “Sejak 2 Juni 2014, seluruh kota mengalami kekurangan air… Kota dan penduduknya, yang berjumlah lebih dari dua juta orang, sangat kekurangan… kekurangan air.”

Sejak serangan pemberontak secara besar-besar pada Juli 2012, Aleppo telah terbagi menjadi wilayah kekuasaan pemberontak dan rezim.

Selama tujuh bulan hingga kini, dengan tentara yang mendesak maju untuk mengambil alih wilayah yang dikuasai oposisi, pesawat perang rezim meluncurkan serangan udara harian, yang menewaskan lebih dari 2.000 penduduk sipil sementara puluhan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Para pemberontak menghadapi persenjataan hebat pasukan loyalis dengan serangan mortar rutin yang diarahkan pada wilayah-wilayah yang dikuasai tentara.

Dengan dukungan Hizbullah Syiah Lebanon, pasukan loyalis berusaha mengepung Aleppo dan merusak jalur pasokan pemberontak.

Kelompok hak azasi mengecam serangan udara oleh rezim yang disebut tidak membeda-bedakan antara penduduk sipil dan target pemberontak.

Leave a Reply
<Modest Style