Penelitian: Belajar dua bahasa baik bagi otak bayi

,
baby girl holding parental hands
(Gambar: Fotolia)

Tim peneliti internasional yang berbasis di Singapura menyatakan bahwa keuntungan koginitif dari paparan terhadap dua bahasa terbukti signifikan dan terlihat sejak dini, terlepas dari bahasa apa yang digunakan.

Terinspirasi oleh banyaknya anak Singapura yang dibesarkan dalam lingkungan bilingual, mereka menguji kemampuan kognitif 144 bayi berusia enam bulan dengan bantuan citra visual dan menemukan bahwa mereka mampu mengenali gambar-gambar yang akrab dengan keseharian dibandingkan mereka yang dibesarkan dalam lingkungan satu bahasa.

Saat diperlihatkan gambar-gambar asing, bayi-bayi bilingual menunjukkan lebih banyak perhatian pada hal yang belum dikenal dibandingkan dengan mereka yang berasal dari lingkungan monolingual.

Para bayi diperlihatkan gambar berwarna seekor beruang atau serigala, dan setengah bagian kelompok dipaparkan pada satu dari dua gambar hingga akrab. Bayi-bayi bilingual lebih cepat merasa bosan pada gambar yang diakrabi dibandingkan mereka yang monolingual.

Peneliti memilih metode ini sebagai bentuk uji kemampuan kognitif berdasarkan penelitian sebelumnya yang mengaitkan bertambahnya perhatian pada citra-citra asing dengan bertambahnya kemampuan pada pendidikan usia dini dan karena segala sesuatu yang visual menarik rasa ingin tahu alami bayi.

Sebaliknya, berbagai penelitan terdahulu mengindikasikan bahwa anak-anak yang dengan cepat merasa bosan pada citra yang akrab bisa mengungguli teman-tema sebayanya pada pendidikan usia dini dalam hal pembentukan konsep, kognisi non-verbal, bahasa ekspresif dan reseptif, dan uji IQ.

Hasil ini tidak mengejutkan mengingat bayi-bayi bilingual bersentuhan dengan lebih banyak kata-kata asing daripada bayi monolingual dan harus lebih memusatkan perhatian untuk belajar berkomunikasi secara efektif.

Para peneliti meyakini semakin besar efisiensi pengelolaan informasi yang dibutuhkan dalam mempelajari dua bahasa juga memberi bayi kesempatan mengembangkan keahlian menghadapi masalah, yang menguntungkan mereka saat memasuki pendidikan usia dini.

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang sedang dijalankan terhadap orangtua dan anak-anak Singapura yang dinamakan GUSTO, sebuah program yang dilaksanakan oleh tiga pihak: Singapore Institute for Clinical Sciences (SICS) A*STAR, KK Women’s and Children’s Hospital (KKH), dan National University Hospital (NUH).

“Ini merupakan berita baik bagi warga Singapura yang berupaya menjadi bilingual,” ujar Profesor Ching Yap Seng, Peneliti Kepala untuk GUSTO.

Leave a Reply
Aquila Klasik