Modest Style

Berlin rencanakan “Rumah Ibadah dan Belajar” untuk tiga agama

,

Ilustrasi proyek Rumah Ibadah dan Belajar. AFP Photo / John MacDougall

BERLIN, 10 Juni 2014 (AFP) – Kristiani, Muslim, dan Yahudi, semuanya beribadah di bawah satu atap – itulah proyek terobosan seorang pastor, rabi, dan imam di Berlin.

Kini masih berbentuk lokasi konstruksi kosong penuh pasir, St Peter’s Square di tengah ibu kota Jerman pada 2018 akan ditempati oleh sebuah bangunan yang saking tidak biasanya, tidak memiliki nama resmi.

Bukan gereja, bukan sinagog, bukan pula masjid, namun bagian dari ketiganya, tempat yang saat ini dikenal sebagai “Rumah Ibadah dan Belajar” akan berbeda dari tempat keagamaan lainnya di dunia, ujar para penggagasnya.

Tujuan dari proyek seharga 44 juta euro (Rp705 miliar) ini, yang penggalangan dananya baru-baru ini diluncurkan namun sudah bertahun-tahun dalam proses pembangunan, tidak hanya untuk menunjukkan pentingnya dialog multiagama namun juga mencerminkan Berlin yang multibudaya.

“Kami melihat adanya keinginan kuat bagi agama-agama untuk berkumpul bersama dalam kedamaian,” ujar Roland Stolte, satu dari dua perwakilan agama Protestan dalam dewan asosiasi di belakang proyek ini.

Dan bukan tanpa sengaja bangunan ini akan berdiri di lokasi dengan sejarah keagamaan yang kuat dan panjang.

Pada 2007, penggalian arkeologis memunculkan fondasi empat gereja St Peter lama yang telah berdiri di lokasi tersebut pada masa berbeda sejak Abad Pertengahan, ujar Stolte pada AFP dalam sebuah wawancara.

Gereja terakhir, yang memiliki menara setinggi 100 meter yang menakjubkan dan berasal dari pertengahan abad ke-19, mengalami kerusakan pada Perang Dunai II dan belakangan dihancurkan oleh negara komunis Jerman Timur yang lama pada awal tahun 1960an.

Sebuah lahan parkir mobil kemudian menempati lokasi tersebut yang akhirnya dikembalikan ke komunitas Protestan oleh otoritas kota.

“Kami ingin menghidupkan kembali tempat ini, tidak dengan membangun gereja kembali namun dengan mendirikan sebuah tempat yang mencerminkan kehidupan beragama di Berlin kini,” ujar Stolte.

Hampir 19 persen penduduk Berlin yang berjumlah 3,4 juta jiwa menyebut diri mereka Protestan, berdasarkan data resmi tahun 2010. 8,1 persen menyebut diri mereka Muslim dan 0.9 persen Yahudi, sementara lebih dari 60 persen menyatakan tidak mengikuti agama tertentu.

Pastor Gregor Hohberg mengatakan penting untuk mengikutsertakan rekan pembangunan Yahudi dan Muslim sejak awal, jauh sebelum pembangunan berlangsung.

“Dari awal kami ingin proyek ini menjadi sebuah proyek antaragama, bukan sebuah tempat yang dibangun oleh umat Kristiani di mana Yahudi dan Muslim kemudian diajak bergabung,” ujarnya.

Mimpi

Imam Kadir Sanci, yang adalah keturunan Turki, mengatakan pada AFP bahwa sebuah gereja Katolik-Protestan di barat Jerman memberinya inspirasi bahwa tempat seperti itu mungkin diwujudkan.

“Saat sedang menyelesaikan pendidikan teologi Muslim di Frankfurt, saya melihat di kota tetangga Darmstadt, sebuah gereja Katolik dan sebuah gereja Protestan berada di bawah satu atap. Saya berkata pada pendetanya tidakkah indah sekali jika suatu saat memiliki tempat gabungan dengan Muslim. Namun pendeta tersebut mengatakan ‘bersabarlah, kami butuh 600 tahun lebih untuk mencapai ini’,” ujar imam tersebut.

Arsitek Wilfried Kuehn, yang rancangan gedungnya terpilih pada 2011 dari sekira 200 rancangan yang diikutkan ke dalam kompetisi, mengatakan bahwa sangat banyak tantangan yang dihadapi dalam membuat rancangan tersebut mulai dari segi arsitektur hingga teologi.

“Merupakan sebuah tantangan mencoba mengkombinasikan perbedaan dan aspek universalnya. Intinya adalah tidak mencampur-campurkan agama namun tetap memastikan adanya kebersamaan,” ujarnya.

Ketiga agama akan memiliki ruang ibadah masing-masing yang berukuran sama, semuanya di lantai yang sama, dan semuanya mengarah ke ruang bersama di mana para jemaah dapat berkumpul dan berbincang.

Hohberg mengatakan bahwa setelah menimbang matang-matang, mereka memutuskan tidak menyetujui adanya ruang ibadah bersama “karena berisiko menyinggung lebih banyak orang daripada menarik”. “Dan kami ingin sekaligus menyampaikan pada penganut agama yang lebih konservatif bahwa dialog antaragama tidak hanya memungkinkan namun juga penting.”

Meski begitu, pendanaan masih harus didapatkan, dan penyelenggara telah bersepakat bahwa aspek pendanaan proyek ambisius ini tetap harus tetap berada di tingkat akar rumput.

Kampanye penggalangan dana melalui situs mereka telah diluncurkan untuk mengumpulkan 43,5 juta euro (Rp695 miliar) yang dibutuhkan. Pendana antara lain dipersilakan untuk membeli sebuah “bata” seharga 10 euro.

“Kami ingin proyek ini menjadi intinya,” ujar Stolte, dan menambahkan bahwa mereka telah menjangkau rekanan lokal seperti komunitas Yahudi Berlin atau kelompok Muslim Forum Dialog Antarbudaya dan sengaja tidak melibatkan pejabat tinggi keagamaan.

Atas dasar ini, mereka menetapkan batas tertinggi donasi individu – satu persen dari total dana yang dibutuhkan, atau 435.000 euro.

Leave a Reply
<Modest Style