Modest Style

Ayo jangan golput!

,

Tidak golput adalah salah satu hal sederhana yang bisa Anda lakukan untuk membantu bangsa Indonesia. Tulis Najwa Abdullah.

0704 WP jangan golput (iStock)
Gambar: iStock

Situasi politik di Indonesia semakin memanas menjelang pemilu presidensial yang akan diselenggarakan tanggal 9 Juli 2014. Pesta demokrasi ini merupakan momen yang sangat ditunggu bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang menginginkan lembaran pemerintahan baru. Akan tetapi, bagi sebagian yang lain momen ini tak ubahnya hari yang biasa, seakan-akan gegap gempita pemilu terjadi di dimensi lain.

Apabila melihat pemilu legislatif yang dilaksanakan 9 April 2014 lalu, dapat disimpulkan bahwa pemenang pemilu tersebut bukanlah partai merah atau partai kuning, namun partai “kebungkaman”. Sebanyak 28,7% rakyat Indonesia tidak menggunakan hak pilihnya. Hal ini berarti di pemilu ini, ada sekitar 50 juta lebih warga negara yang tidak memilih dari total 185,5 juta orang (berdasarkan data KPU 2014).

Dengan angka “golongan putih” (golput) yang fantastis tersebut, cukup mudah untuk menemukan orang yang golput di sekitar kita. Ada yang berpendapat bahwa golongan ini terdiri dari orang-orang yang tidak peduli. Ada beberapa alasan mengapa sebagian orang memilih untuk golput. Antara lain: “tidak ada kandidat yang pantas untuk saya pilih”, “sistem politik di negara ini kacau”, “saya tidak tertarik dengan politik yang murahan di negeri ini”, “Satu suara saya tidak berarti, buat apa bersusah payah ke TPU,” atau bahkan “Saya punya hak untuk golput”.

Bagi saya, alasan-alasan ini bukanlah bentuk ketidakpedulian namun lebih dalam dari itu, merupakan suatu bentuk kekecewaan.

Kekecewaan akan bertahun-tahun aspirasi dan harapan yang tidak terwujud, atau bahkan sekedar didengarkan. Kekecewaan akan pejabat yang kerjanya hanya berebut jabatan di tingkat elit politik, bukannya melayani masyarakat. Kekecewaan bahwa rakyat kecil yang dirampas haknya harus menanggung beban kemiskinan akibat mengganasnya korupsi.

Kekecewaan-demi kekecewaan yang memupuskan harapan.

Akan tetapi, pada dasarnya semua hal tersebut tidak lantas membuat kita layak untuk golput di pemilu presidensial tanggal 9 Juli 2014 nanti.

Mengapa? Karena yang pertama, langkah seseorang untuk golput berpotensi memunculkan kembali wakil rakyat yang salah dan bahkan mengakibatkan dipilihnya presiden yang lebih buruk dalam mengelola Indonesia dibandingkan sekarang. Sebaiknya poin ini dijadikan alasan paling mendasar seseorang untuk menggunakan hak pilihnya – menyelamatkan bangsa dari orang-orang yang salah, walaupun tidak ada kandidat yang disukai.

Untuk melakukan hal ini, telusuri dulu rekam jejak sang calon presiden dan calon wakil presiden dengan seksama, dan gunakan hati nurani dan perspektif objektif kita untuk menimbang baik buruk pilihan pada seorang kandidat.

Langkah menelurusri harapan ini jauh lebih baik daripada tidak memilih dan membiarkan kekecewaan menggelayuti.

Alasan berikutnya untuk tidak golput adalah cukup klise namun patut direnungkan, yakni demi meneruskan perjuangan bangsa kita dan menghargai kemerdekaan yang sudah kita raih.

Jika saya mengingat kembali pelajaran sejarah sekolah tentang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan Indonesia, saya selalu merenung betapa kemerdekaan negara ini diraih dengan susah payah oleh orang-orang yang begitu kuat, berani, ikhlas dan pantang menyerah dalam melawan penjajah.

Para pahlawan membayar hak kemerdekaan dengan nyawanya, sementara kita hanya perlu membayar dengan secelup tinta KPU tanda telah memungut suara. Inilah hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk meneruskan perjuangan para pahlawan: Menggunakan suara kita untuk orang yang berhak dan layak menjadi lokomotif keberlanjutan perjuangan para pahlawan bangsa.

Hak sebagai manusia untuk golput memang ada, namun tanggung jawab sebagai seorang warga negara jauh lebih besar. Di antara dua kandidat yang ada, saya yakin jauh di dalam lubuk hati setiap pemilih, sudah ada kecondongan untuk memilih satu calon. Jika hal ini bisa dirasakan, genggam erat-erat dan mantapkan hati untuk melangkahkan kaki ke TPU dan memilih. Kita masih punya waktu untuk mempertimbangkan kembali keputusan kita, sebelum semuanya terlambat dan kita hanya bisa menyesal.

Salam tidak golput.

Leave a Reply
<Modest Style