Perjuangan anak-anak Gaza mengalahkan trauma perang

,
Anak-anak Palestina yang terkena dampak perang menghadiri kelas kelompok sebagai bagian dari program kesehatan mental Persatuan Bangsa-Bangsa di Jalur Gaza. AFP Photo / Mohammed Abed
Anak-anak Palestina yang terkena dampak perang menghadiri kelas berkelompok sebagai bagian dari program kesehatan mental Persatuan Bangsa-Bangsa di Jalur Gaza. AFP Photo / Mohammed Abed

oleh Guillaume Lavallee

JABALIYA, 3 Agustus 2014 (AFP) – Minta anak Gaza mana pun menggambar, maka kemungkinan besar gambar yang dihasilkan adalah rumah yang sedang dibom oleh sebuah pesawat tempur.

Di dalam kantung Palestina yang hancur oleh konflik, ribuan anak menderita trauma perang namun sumber daya untuk membantu mereka terbatas.

Di sebuah sekolah di kota utara Jalabiya yang telah dialihfungsikan menjadi pengungsian, guru-guru ahli membagikan kertas dan krayon warna kepada anak-anak yang terguncang, dan meminta mereka untuk menggambar apapun yang ada di kepala mereka.

Jamal Diab, anak berusia sembilan tahun dengan noda merah pada rambut cokelatnya, menggambarkan kakeknya yang meninggal. Di bawah gambar tersebut, ia menuliskan dalam bahasa Arab: “Saya sedih karena para martir.”

“Beberapa hari lalu, pesawat membombardir rumah kami. Kami harus buru-buru pergi dan meninggalkan segalanya. Berbahaya sekali saat itu,” ujar anak tersebut malu-malu saat menunjukkan gambarnya.

Anak mungil berusia tujuh tahun, Bara Marouf, memperlihatkan gambar kakeknya tanpa tungkai. Ia terluka parah dalam penyerangan udara.

Di ruang kelas, gambar serupa terus-menerus bermunculan: pesawat muncul di langir dan membombardir sebuah rumah, dengan judul “Saya ingin pulang”.

“Siapa yang takut pada pesawat?” guru bertanya saat anak-anak duduk melingkar di atas tikar.

Segera tangan-tangan kecil diangkat tinggi dan suara-suara nyaring bergumam: “Saya”, “saya”, “saya”.

“Saya, saya takut pada rudal dan pesawat. Setengah rumah kami dihancurkan. Kami meninggalkan rumah untuk pergi ke sini,” jelas Itimad Subh, anak perempuan usia 11 dengan mata berbinar.

Tewas

Menurut Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNICEF, sekitar 300 anak tewas sejak dimulainya serangan Israel tanggal 8 Juli pada militan Hamas yang menembakkan roket ke negara Yahudi ini.

Mereka yang masih hidup mencoba tidak menyerap terlalu banyak kekerasan yang telah mereka rasakan, lihat, dan dengar.

Di dalam sekolah, kelompok remaja menghadiri sesi setengah jam terus-menerus.

Kedua guru, yang sabar dan kelelahan dengan wajah dibingkai kerudung, meminta pada anak-anak untuk melompat di tempat dan berseru, kemudian melambaikan lengan mereka seperti orang yang berjoget disko, untuk mengeluarkan pemikiran gelap, keputusasaan, dan rasa tertekan.

“Semua anak di sini telah mendapat pengalaman yang ekstrim,” ujar Dr. Iyad Zaqut, seorang psikiater yang mengelola program kesehatan mental masyarakat di Jalur Gaza.

“Sangat sulit bagi anak-anak untuk memahami apa yang sedang terjadi, mengapa hidup mereka berada dalam bahaya, mengapa mereka harus meninggalkan rumah, mengapa mereka harus pindah, mengapa mereka menyaksikan kejadian yang sangat traumatis,” ujar Zaqut.

“Untuk menghindarkan anak-anak mengolah dan memikirkan masalah-masalah ini, kami berusaha mengalihkan perhatian mereka, untuk membantu mereka hidup dengan sedikit kebahagiaan, untuk mendapat sedikit kegembiraan di dalam pengungsian.

“Secara umum, saat mereka terpapar kejadian traumatis, cara mereka menangkap kejadian tersebut bisa jadi sangat menyimpang, mereka mungkin menyalahkan diri mereka, mereka mungkin menyalahkan tetangga mereka, dan penimpaan kesalahan ini bisa jadi sangat berbahaya,” ujar psikiater tersebut.

“Kami mencoba mengolah ulang gagasan-gagasan menyimpang ini,” jelasnya, dengan menerangkan bahwa ia telah mendiagnosis kasus-kasus tekanan pasca-trauma dan depresi remaja.

Namun sulit untuk mendapat banyak kemajuan dengan terapinya.

Di Jalur Gaza, 460.000 orang – lebih dari seperempat jumlah populasi – telah kehilangan tempat tinggal akibat perang dan tinggal bersama kerabat atau mengungsi ke pengungsian PBB.

Kurang dari 100 guru ahli “menangani” lebih dari 100.000 anak.

Hanya dalam kasus-kasus luar biasa saja anak-anak mendapat akses pertemuan empat mata dengan psikolog dan psikiater. Dan lebih sedikit lagi yang mendapat pertemuan lanjutan.

Gaza telah menjadi jalur operasi militer pada 2008-2009 dan sekali lagi pada 2012, namun dampaknya lebih besar pada perang terkini antara Israel dan Hamas.

UNICEF memperkirakan 326.000 anak di bawah umur di Gaza membutuhkan bantuan psikologis.

Anak-anak dan para remaja yang berlindung di pusat-pusat PBB setidaknya dapat menghadiri kelas-kelas kelompok, namun ratusan ribu lainnya yang terkena dampak perang terpaksa berkelana tanpa bantuan di antara lingkungan tempat tinggal yang hancur.

Leave a Reply
Aquila Klasik