Modest Style

Ambisi Piala Dunia versus Ramadhan

,
world cup
BRASIL, Fortaleza : Gelandang Jerman Mesut Ozil (Ki) dengan gelandang Ghana Sulley Ali Muntari pada pertandingan sepakbola Grup G antara Jerman dan Ghana di Stadion Castelao di Fortaleza pada Piala Dunia FIFA 2014 21 Juni 2014. AFP PHOTO/ PATRIK STOLLARZ

RIO DE JANEIRO, 27 Juni 2014 (AFP) – Mesut Ozil dari Jerman tidak akan melaksanakan puasa Ramadhan yang dimulai pada hari Sabtu. Namun banyak pemain Piala Dunia lain yang menjalani bulan puasa akan berada di bawah pengawasan kesehatan ketat.

Meski tim Islam Iran dan Bosnia, yang memiliki populasi Muslim yang cukup besar, telah tereliminasi dari turnamen, Aljazair lolos kualifikasi 16 terakhir untuk pertama kalinya dan akan mendapat ujian Ramadhan singkat pada hari Minggu melawan tim Jerman Ozil.

Pejabat tinggi agama di beberapa negara memilih sikap pragmatis terhadap sepakbola dan Ramadhan di mana makan tidak diizinkan pada siang hari.

Pada tahun 2008, Dar al-Ifta, lembaga fatwa Mesir, mengizinkan pesepakbola profesional untuk makan pada bulan Ramadhan jika mereka terikat kontrak bermain pada bulan suci tersebut dan merasa puasa akan mempengaruhi penampilan mereka.

Pekerja lain yang terlibat dalam “kerja keras” juga diberi keringanan.

Ozil menyatakan ia termasuk dalam kategori ini.

“Saya tidak bisa ikut serta,” ujar gelandang penyerang Arsenal yang menambahkan bahwa Piala Dunia adalah “bekerja”. “Tidak mungkin saya ikut serta tahun ini.”

Meski begitu hampir seluruh anggota tim Aljazair akan berpuasa saat menghadapi Jerman di Porto Alegre.

Pemain aljazair menggunakan Hakim Chalabi, spesialis kedokteran olahraga di klinik Aspetar di Doha dan salah satu ahli utama FIFA terkait pesepakbola yang berpuasa.

“Ini adalah masa-masa peningkatan risiko cidera, terutama di punggung bawah, persendian, dan otot,” ujar Chalabi. “Hal ini lebih diakibatkan oleh dehidrasi dan bukannya kurang makan.” Pesepakbola bisa kehilangan hingga enam liter cairan pada saat pertandingan.

Ahli tersebut, yang merupakan mantan kepada tim medis di raksasa sepakbola Perancis Paris St Germain, mengatakan jumlah dan kualitas nutrisi harus diubah agar dapat menjalani latihan di bulan Ramadhan.

“Para pemain harus menghidrasi tubuh mereka dengan lebih baik. Kami juga menyarankan mereka untuk tidur siang lebih panjang untuk menutupi kekurangan tidur.” Umat Muslim tidur lebih pendek di malam hari akibat aturan waktu makan.

Ikut serta dalam olahraga pada bulan Ramadhan merupakan “penalti penampilan fisiologis besar”, ujar Mark de Marees, direktur fisiologi olahraga di German Sport University di Cologne, pada kantor berita olahraga SID, anak perusahaan AFP.

“Tanpa makan dan minum di siang hari, para pemain hanya dapat ambil bagian dalam tekanan fisik tingkat rendah dan dalam iklim yang jauh berbeda tanpa penalti kesehatan dan penampilan serius.”

Claude Leroy, yang telah menjadi pelatih tim nasional Ghana, Kamerun, dan Oman, mengatakan bahwa para pemain yang berpuasa akan mengalami kesulitan parah di Brasil saat sebagian besar pertandingan dimulai pada pukul 1 siang atau 5 sore. “Sangat rumit jika ingin benar-benar melaksanakan puasa Ramadhan,” ujarnya.

Kapten Aljazair Majid Bougherra menyatakan bahwa minum cukup adalah bagian tersulit bulan Ramadhan. “Namun kami baik-baik saja. Iklimnya bagus. Beberapa pemain mungkin menunda berpuasa. Sedangkan saya akan melaksanakannya sesuatu keadaan fisik saya. Namun saya pikir saya akan melakukannya.”

Kepekaan beragama yang meningkat karena Ramadhan juga mengkhawatirkan bagi beberapa pelatih, terutama dalam tim dengan latar belakang etnis beragam.

Pelatih Perancis Didier Deschamps mengatakan tidak akan memberi perintah apapun pada pemain Muslim timnya, termasuk gelandang Paul Pogba.

“Hal ini merupakan topik yang sensitif dan rawan,” ujar Deschamps. “Saya tidak memberi perintah apa-apa. Kami menghormati agama setiap orang. Para pemain sudah terbiasa dengan Ramadhan, kami bukannya baru mengalami ini sekarang. Saya tidak khawatir.”

Setidaknya umat Muslim mendapat kemudahan di Brazil, saat pukul 5:30 sore sudah gelap, dibanding di Olimpiade London di mana makanan berbuka tidak dapat disajikan sebelum pukul 8:30 atau 9:00 malam.

Chalabi menyatakan kemungkinan adanya dorongan psikologis saat bulan Ramadhan.

“Yang mengherankan adalah adanya beberapa atlet yang menunjukkan hasil lebih baik pada bulan Ramadhan karena sangat ingin berpuasa,” ujar dokter tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style