Modest Style

Aktivis musik Tuareg sebarkan irama pengembara Sahara

,

Pemimpin dan penulis lagu grup musik Tamikrest, band campuran Tuareg Mali, menyoroti politik dan musik Sahara dengan karyanya. Ia berbincang dengan Jonas Slaats.

1094484-10153136215360094-1781241391-o
(Gambar: Facebook)

Ousmane Ag Moussa adalah pentolan grup musik asal Mali, Tamikrest. Lagu-lagunya memiliki akar irama dan melodi klasik dari tradisi Tuareg. Selain itu, kita juga bisa mengenali pengaruh ikon pop rock besar seperti Mark Knopfler dan Bob Marley dalam permainan gitarnya. Meski begitu, musik Tamikrest bukan sekadar tentang menghidupkan kembali tradisi kuno. Tamikrest juga merupakan perlawanan terhadap opresi atas Tuareg dan seruan pada masyarakat untuk bersatu. Wartawan Inggris Andy Morgan, yang memiliki pengetahuan mendalam tentang politik dan musik Sahara, pernah menggambarkan grup musik ini dengan lugas: “Dalam memperjuangkan kemerdekaan Tuareg, Tamikrest menggunakan mikrofon dan gitar mereka sebagai senjata.”

Jonas Slaats: Mali, tanah air Anda, diwarnai banyak konflik dan kekerasan di tahun-tahun belakangan. Menurut Anda mengapa bisa begitu?

Ousmane Ag Moussa: Berbagai konflik yang ada saat ini bukannya baru muncul kemarin atau saat ini. Untuk benar-benar memahaminya, kita harus menelisik jauh ke belakang.

Tuareg adalah penduduk asli gurun ini, yang telah mereka tempati selama ribuan tahun. Di masa lalu, mereka menguasai perdagangan Afrika Barat. Namun mereka menjadi korban politik akibat cara penentuan perbatasan Afrika Barat dan Utara. Wilayah yang ditempati Tuareg terbagi menjadi berbagai bagian berbeda hingga Tuareg terpecah ke dalam lima negara bagian: Mali, Niger, Burkina Faso, Libya, dan Aljazair.

Situasi di masing-masing tempat berbeda. Tuareg di Aljazair menjalani hidup yang sangat berbeda dengan mereka yang ada di Mali atau Libya. Anda akan menemukan masalah terbesar di Mali. Sejak tahun 60-an, telah terjadi banyak kerusuhan. Akibat berbagai keputusan politik pada masa itu, kaum Tuareg mulai merasa menjadi orang asing di negeri sendiri. Mereka membayar pajak, bekerja, dan memenuhi kewajiban mereka, tetapi tidak mendapat balasan apapun. Hal tersebut berujung pada perang terbuka pertama antara Tuareg dan pemerintah Mali pada tahun 1963.

Di negara-negara Barat, kami juga sering mendengar berita tentang tindak kekerasan berbagai kelompok Islamis di Mali.

Memang. Namun tujuan politik kelompok-kelompok seperti Aqim (Al-Qaeda di wilayah Maghribi Islam) tidak berhubungan dengan perjuangan Tuareg.

Tujuan akhir Tuareg adalah kemerdekaan mereka. Cara bertarungnya juga sama sekali berbeda. Di tahun 60-an mereka masih menggunakan unta. Tidak ada tank, senjata mesin, maupun peluncur roket. Benda-benda ini digunakan terhadap Tuareg dan menyebabkan banyak pertumpahan darah pada pihak kami. Hal tersebut membuat para orang muda pindah ke Aljazair dan Libya yang belakangan membuat perjanjian dengan Gaddafi. Namun Gaddafi melanggar perjanjian ini untuk mengirim mereka ke Libanon dan Israel. Pada tahun 90-an mereka kembali untuk melakukan perang mereka sekali lagi. Begitulah awal mula terjadinya revolusi di tahun 1990. Pada tahun 1992, beberapa perjanjian yang yang berisikan harapan akan lebih banyak kemandirian dan desentralisasi ditandatangani, namun isinya tidak pernah dijalankan. Itulah mengapa kemudian muncul pemberontakan pada tahun 1994 dan 2006.

Lalu dari mana masuknya para Islamis di dalam semua ini?

Selama lebih dari 10 tahun, berbagai evolusi yang tidak alami terjadi. Saya ingat betul bagaimana mereka datang ke wilayah Kidal (timur laut Mali) dan berpura-pura menjadi orang yang sangat relijius. Mereka bersikap seakan mereka cinta damai. Mereka adalah orang-orang Pakistan, Aljazair, dll. Mereka pergi ke masjid untuk memberi ceramah dan memperdalam agama orang-orang. Pada saat itu, saya tidak mengerti apa mau mereka. Namun perlahan semakin jelas yang mereka inginkan. Awalnya ada banyak kelompok berbeda di antara para misionaris ini. Beberapa mungkin benar-benar cinta damai, tetapi beberapa yang lain melakuakan jual-beli narkoba dan penculikan wisatawan.

Ya, saya bukan seorang politisi maupun akademisi yang bisa menganalisis secara menyeluruh segala sesuatu dalam tingkat sosiopolitik. Namun saya sekadar memperhatikan sekitar dan menyadari adanya pihak yang berbeda. Ada kelompok yang ingin “mengubah” orang dan membawanya ke dalam sistem mereka dan ada kelompok yang ingin menutup gurun. Namun Anda tidak akan menemukan banyak hal di gurun. Negara tidak pernah berinvestasi di gurun. Segala sesuatu yang Anda temukan di sana dibangun oleh orang Eropa. Dulunya ada sedikit usaha pariwisata juga. Tidak banyak, tetapi ada. Sejak tahun 2003, semuanya mulai menghilang. Pihak berwenang tahu apa yang terjadi tetapi berpura-pura buta. Mereka tidak melakukan apapun untuk wilayah tersebut dan membiarkan kelompok-kelompok teroris bertindak sesuka hati.

Dengan kata lain, sisi keagamaan dan politik, sebagaimana yang semakin sering terjadi di berbagai tempat, jad tercampur aduk?

Ya. para anggota kelompok Islamis memiliki tujuan yang sama sekali berbeda dari apa yang mereka perlihatkan pada orang-orang. Namun saat seseorang mendatangi Tuareg dan megatakan bahwa ia percaya Tuhan, kami menganggapnya orang baik. Seseorang yang percaya Tuhan, bagi kami, adalah orang yang tidak memiliki niat jahat, yang bersikap baik, dan dapat kami percaya. Begitulah cara mereka menggunakan agama untuk memasuki masyarakat kami dan mengikat banyak orang Tuareg. Dengan cari itu, perlahan-lahan, mereka ingin menerapkan pemaknaan syariah yang ketat yang lebih diterima pada beberapa abad lampau. Namun untuk apa kami kembali pada masa itu?

Jika agama adalah gerbang menuju masyarakat Tuareg, tidakkah ada komponen keagamaan dalam perjuangan Tuareg? Agama selalu bisa berujung pada dua hal: menuju kebebasan sebagaimana juga penjajahan. Jadi meski Anda tidak berharap mendirikan sebuah khilafah seperti yang diinginkan banyak Islamis, tidakkah spiritualitas Islam memberikan semacam kelangsungan hidup bagi perjuangan Anda mencapai kemerdekaan?

Tuareg memang Muslim. Kami menjadi mualaf lebih dari seribu tahun yang lalu. Namun tanpa perang maupun kekerasan. Kami memilih untuk menjadi Muslim. Bagi kami, Islam adalah agama yang toleran. Jadi perjuangan Tuareg bukan tentang agama. Perjuangan kami hanyalah tentang hak kami. Kami adalah ahli waris gurun ini. Kami hanya ingin menjadi bagian dari pembuatan keputusan yang menentukan masa depan kami dan kami tidak ingin gurun ini dirampas dari bawah kaki kami.

Dan apa makna agama Anda bagi Anda pribadi? Apakah agama merupakan sumber inspirasi musik Anda?

Sejujurnya, sisi relijius saya tidak ada hubungannya dengan musik saya. Saya seorang musisi. Titik. Dan agama saya adalah antara saya dengan Tuhan.

Jadi apa sumber inspirasi musik Anda?

Apa yang saya lihat. Yang mendorong saya bermusik adalah situasi Tuareg. Itulah yang saya saksikan dan alami setiap hari. Dan hal tersebut membuat miris.

Kami, para Touareg, adalah masyarakat tertindas dan terpinggirkan. Jadi saya memutuskan menjadi seorang musisi dan mengambil peran penting dalam masyarakat kami. Kami tidak memiliki ruang yang besar di media maupun di bidang politik Mali. Namun kami memiliki sejarah, budaya, dan bahasa yang sangat penting bagi kami. Dengan musik, kami melindungi kenangan kami karena kami tidak memiliki arsip. Musisilah yang melindungi sejarah kami.

Sejarah tersebut tentunya rumit dan tidak bisa langsung dipahami. Anda hanya bisa mengerti sedikit-sedikit. Prosesnya lamban, tetapi tidak pernah terlambat. Itulah mengapa kami mengadakan tur. Dengan musik kami membuat sepotong kecil tradisi berkeliling dunia. Meski pendengar tidak memahami bahasa kami, Tamasheq, mungkin mereka akan tertarik. Mungkin terdengar sangat sepele, tetapi ini sudah lebih dari sebelumnya. Dengan cara ini, sebuah lagu bisa jadi awal mula pencarian lebih lanjut.

Banyak lagu di alnum Chatma berkisah tentang para wanita Tuareg. Bahkan, judul Chatma adalah bahasa Tamasheq “Saudari saya”. Apakah ini berhubungan dengan “kenangan bersama” yang Anda coba pertahankan melalui musik?

Para wanita kami itu suci bagi kami. Merekalah kehormatan dan harga diri kami. Saat Anda menyentuh mereka, Anda menyentuh kami. Itulah mengapa saya menulis banyak lagu tentang bagaimana mereka menjadi korban berbagai kelompok politik dan teroris yang ingin mengubah gaya hidup mereka.

Meski begitu, saya lihat banyak wanita yang tetap kuat, tetap berani, dan tetap tegar menghadapi situasi yang menyedihkan ini. Sebagaimana mereka, lagu-lagu saya tidak hanya meratapi ketidakadilan yang mereka alami tetapi juga keuatan mereka.

Dan lebih jauh lagi. Pesan saya juga ditujukan untuk para pria, di mana pun mereka berada. Karena semua pria harus menyadari cara mereka memperlakukan wanita. Di seluruh dunia, Anda bisa menemukan masalah yang juga kami alami. Di banyak negara, para politisi memprovokasi perang dan yang paling menjadi korban selalu wanita – bahkan meski mereka tidak melakukan kesalahan apapun.

Informasi lebih lanjut tentang Tamikrest, kunjungi situs resmi mereka

Artikel ini pertama kali terbit di Halal Monk, alter ego seorang pemikir Kristiani yang menemukan dirinya berada dalam ‘perjalanan’ tak disangka-sangka dalam budaya dan agama Islam.

Leave a Reply
<Modest Style