Modest Style

Aksi damai pria Sri Lanka melawan kekerasan anti-Muslim

,

Di tengah huru-hara yang telah menewaskan setidaknya empat orang di Sri Lanka, seorang pria melawan intoleransi mendesak perdamaian dengan cara sederhana.  Oleh Brad Bertrand.

Duduk dan beraksi: “Aluthgama bukan tindakan Buddhis” ujar Suchetha Wijenayake. Gambar: Vikalpa

Duduk dan beraksi: “Aluthgama bukan tindakan Buddhis” ujar Suchetha Wijenayake. Gambar: Vikalpa

Tindak kekerasan yang dilakukan oleh penganut Buddhisme garis keras terhadap warga, rumah, dan tempat usaha Muslim baru-baru ini di kota-kota Sri Lanka termasuk Aluthgama dan Beruwala memancing kecaman luas dari masyarakat dunia. Empat orang tewas dan setidaknya 80 lainnya mengalami luka serius dalam huru-hara tersebut. Media arus utama negara tersebut berdiam diri dengan adanya kejadian ini.

Sebagai bentuk tanggapan yang mengejutkan, seorang warga, Suchetha Wijenayake, berangkat ke ibu kota Kolombo untuk menyampaikan pesan perdamaian dan toleransi sederhana – hal yang tidak dapat ditemukan di tengah ramainya ungkapan penuh kekerasan dan kebencian.

“Saya memutuskan melakukan sesuatu karena saya merasa lelah tidak melakukan apa-apa,” ujar Suchetha. “Saya lelah melihat dan mendengar orang-orang mengatakan betapa mengerikannya kejadian tersebut, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Saya pergi sendiri karena terdapat kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan: interogasi, penahanan, dan kekerasan merupakan ancaman nyata. Saya menolak meminta orang lain mengambil risiko atas hal yang ingin saya lakukan.”

Pada Selasa siang, dengan sebuah poster tulis tangan berisi ucapan “Aluthgama bukan tindakan Buddhis”, ia menuju ke jalanan sibuk yang terletak di hadapan Pusat Kebudayaan Buddhis (BCC) dan duduk di pinggir jalan.

“Saya berada di dekat BCC, yang berjarak sekira 5-10 meter, duduk di samping dinding, di bawah pohon, dan bermeditasi. Suara kendaraan, meski awalnya ribut, menjadi lumayan berirama saat dilalui. Saya menyarankan suara tersebut.”

Upaya yang dilakukannya menarik perhatian pengguna sepeda motor, pejalan kaki, dan media independen – juga petugas kepolisian yang, menurutnya, memintanya menyingkirkan poster yang dibawa meski memperbolehkannya tetap berada di tempat tersebut. Aksi mandirinya yang sederhana, meski tidak bersuara keras, membawa banyak pesan, yang mungkin akan hilang jika disampaikan dengan cara demonstrasi pada umumnya.

“Saya tidak menganggap perbuatan saya sebagai sebuah protes. Saya menganggapnya sebuah pengingat – pengingat bahwa apa yang dilakukan di Aluthgama dengan mengatasnamakan agama bertolak belakang dengan segala hal yang diusung oleh agama tersebut. Maitri Bhavana yang saya lakukan merupakan meditasi Buddhis di mana Anda bermeditasi perihal mengasihi orang-orang di sekitar Anda, dan mengharap kasih yang Anda rasakan pada mereka dapat membuat mereka mengasihi orang lain juga.”

Ia menekankan bahwa tindak kekerasan yang terjadi di negaranya bertentangan dengan keyakinan seluruh agama yang saling berdampingan di negara tersebut. Terdapat penganut Buddhis, Hindu, Kristiani, dan Muslim, yang berjumlah 10 persen dari total populasi di Sri Lanka.

“Yang terjadi bertentangan dengan setiap agama. Cara yang dilakukan orang-orang ini dalam merendahkan agama hingga menyebabkan mereka dapat memperlakukan orang lain seperti ini untuk ‘melindungi’ agama mereka membuat saya marah.”

Suchetha, secara pribadi, mengatakan tidak mengikuti ajaran agama tertentu secara khusus, namun melihat adanya kebenaran di setiap agama yang ada.

“Saya menyadari adanya nilai-nilai mulia yang dapat ditemukan di setiap agama, dan saya berusaha menjalankan nilai-nilai tersebut. Saya percaya pada rasionalisme, kebebasan, serta hidup dan biarkan hidup. Saya percaya pada makanan baik, minuman baik, dan hidup baik – selama hal tersebut tidak menyakiti orang lain.”

Meski huru-hara yang terjadi sudah mereda, ketegangan tetap tinggi. Terlepas dari adanya permohonan dari presiden, Mahinda Rajapaksa, ratusan toko dan tempat usaha milik Muslim di Kolombo kini tutup sebagai bentuk protes.

Terlepas dari kekhawatirannya untuk sesama warga, Sucheta tetap bersikap optimis atas peran pengingat yang disampaikannya dalam bersuara melawan ekstremisme dan intoleransi keagamaan.

“Melihat tanggapan yang masuk ke laman Facebook saya, sepertinya tindakan saya menghasilkan perubahan. Saya tidak tahu apakah hal tersebut mengubah pemikiran Buddhis mana pun, namun mungkin hal tersebut membantu beberapa Muslim merasakan adanya harapan.”

Leave a Reply
<Modest Style