Modest Style

Al-Jazeera meluncurkan AJ+ untuk pemirsa penggemar media sosial

,
US-QATAR-MEDIA-IT-INTERNET-JAZEERA-FILES
Foto fail: Logo Al Jazeera terlihat di studio Al Jazeera Amerika yang baru di New York pada 8 Agustus 2013. Stan Honda/AFP

Oleh Rob Lever

WASHINGTON (AFP) – Al-Jazeera baru saja meluncurkan layanan video online AJ+ pada hari Senin. Layanan ini bertujuan untuk menghubungkan orang muda yang ingin mengetahui perkembangan berita terkini tanpa menonton televisi atau membaca koran.

Layanan baru ini, yang terpisah dari Al-Jazeera Amerika dan merupakan bagian lain perusahaan berita tersebut, ditujukan bagi pemirsa yang tidak terjamah dan menjauhkan diri dari media tradisional.

Target pemirsanya adalah “orang-orang yang tidak memiliki televisi dan mereka yang konsumsi beritanya dimulai dengan perangkat bergerak dan berakhir dengan perangkat bergerak,” ujar Yaser Bishr, direktur eksekutif strategi dan pengembangan di Al-Jazeera Media Network.

AJ+, yang memiliki staf global berjumlah 60 orang dan berbasis di San Francisco, memulai dengan “peluncuran perdana” awal tahun ini. Pada hari Senin, AJ+ mengeluarkan aplikasi untuk perangkat iOS Apple, yang bertujuan untuk memancing ketertarikan atas kanal ini serta peluang pembagian video berita yang lebih luas.

Tujuan akhir dari proyek ini adalah untuk menyiarkan video berita dengan format berdasarkan permintaan seperti Netflix, dan membebaskan pemirsa untuk membagikannya melalui berbagai jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Di aliran sosial

“Kami hadir di aliran sosial,” ujar Bishr pada AFP dalam sebuah wawancara telepon. “[Kanal] Ini untuk orang-orang dengan siklus konsumsi berita yang berbeda.”

Ini artinya tidak ada “pembawa” berita yang menyampaikan beritanya, dan pengguna bisa memilih apa yang ingin mereka tonton dan kapan.

Namun layanan ini akan memanfaatkan seluruh jaringan Al-Jazeera dengan menggunakan puluhan kantor Al-Jazeera di seluruh dunia, dan beberapa rekaman video mentah dari jaringan tersebut.

Dengan peluncuran layanan ini untuk pemirsa global dalam bahasa Inggris, AJ+ pada dasarnya berusaha menciptakan kategori baru untuk konsumsi berita yang berpusat pada konsumen usia 18 hingga 34 tahun yang masih sulit tertebak.

Bishr mengatakan bahwa ia melihat sedikit perbedaan dengan kanal TV kabel Al-Jazeera AS, yang diluncurkan tahun lalu, sambil menjelaskan bahwa rata-rata penonton TV kabel berusia sekitar 45 tahun.

“Ini adalah [kelompok] pemirsa yang berbeda,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa AJ+ telah ditonton lebih dari tujuh juta kali pada pekan-pekan lalu tanpa adanya pemasaran “dan itu menunjukkan adanya pemirsa yang mencari konten semacam ini.”

Layanan baru ini memberi penekanan pada “konten yang dapat dibagikan secara sosial yang akan menyoroti perjuangan dan pencapaian manusia sambil tetap menyediakan konteks dan latar belakang relevan dalam kisah terbesar dunia,” menurut sebuah pernyataan dari kelompok media tersebut.

Jejak langkah yang lebih luas

AJ+ berkeinginan untuk memperluas jejak langkah Al-Jazeera di Amerika Serikat setelah peluncuran kanal TV kabel AS mereka mendapat sambutan yang kurang meriah, ujar Adel Iskandar, profesor komunikasi di Simon Fraser University yang memberi perhatian khusus pada Al-Jazeera dan turut menuliskan sebuah buku tentang kelompok tersebut pada tahun 2002.

“Mereka memilih untuk beralih ke TV kabel, yang mungkin membuat mereka harus mengeluarkan biaya sekitar $1 miliar, hanya untuk menyadari belakangan bahwa mayoritas pemirsa muda mereka, yang mengikuti kanal YouTube mereka dan Al-Jazeera daring, tidak lagi memiliki akses,” ujar Iskandar.

Ia menyebutkan bahwa AJ+ akan bersaing dengan layanan semacam Vice Media dan HuffPost Live milik Huffington Post, tetapi akan memiliki cita rasa internasional yang lebih kuat dan “posisi yang sedikit lebih dipolitisasi,” dengan fokus pada isu-isu seperti hak azasi manusia dan keadilan sosial.

Upaya baru ini “bisa jadi merupakan cara yang cerdas untuk pencitraan ulang tanpa menggunakan hal-hal negatif yang berkaitan dengan citra Al-Jazeera,” ujar Iskandar, sambil mengingatkan bahwa beberapa orang Amerika masih mencurigai akar dan ikatan kelompok tersebut dengan Al-Jazeera.

Kategori baru

Beberapa pengamat mengatakan adanya potensi untuk produk video berita digital, jika dilakukan dengan baik.;

Ken Doctor, pengamat dari firma penelitian media Outsell, mengatakan ia melihat adanya pasar untuk pengguna ponsel pintar “yang ingin menggunakan perangkat kepala dan menonton di kereta.”

Generasi Millennial, ujar Doctor, sangat menarik bagi media dan pengiklan karena jumlahnya yang lebih besar daripada generasi baby boom dan kebiasaan yang ada belum mengakar.

“Anda menginginkan orang saat mereka sedang menuju dewasa. Kebiasaan belanja mereka masih dalam proses pembentukan,” ujarnya.

Meski begitu, AJ+ akan memulai tanpa iklan, ujar Bishr.

“Kami sedang mencari cara untuk mendapatkan keuntungan,” jelasnya. “Namun tidak akan mengorbankan pengalaman menonton” dengan memasukkan iklan di video-video berita.

Untuk saat ini, ujar Bishr, prioritasnya AJ+ adalah “memasuki arus utama” dengan membangun basis pemirsa.

Menurut Doctor, AJ+ mungkin akan menghadapi tantangan dalam membangun basis pemirsa karena akar Al-Jazeera, yang dibiayai oleh keluarga bangsawan Qatar.

“Hanya ada sedikit orang yang ikut terus mengikuti perkembangan berita,” ujarnya. “Dan orang-orang tersebut kemungkinan memahami asal pendanaan dan akar Al-Jazeera.”

Leave a Reply
<Modest Style